Industri fitofarmaka atau obat herbal global diproyeksi terus meningkat, nilainya bisa mencapai USD 600 miliar atau sekitar Rp 10.600 triliun (kurs Rp 17.667 per dolar AS) pada 2030. Indonesia dinilai bisa mengambil peluang tersebut karena keanekaragaman hayati yang besar, yakni lebih dari 30.000 spesies tanaman obat.
Guru Besar Kehormatan Bioteknologi Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sekaligus Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica, Raymond R. Tjandrawinata, mengatakan Indonesia bisa menjadi produsen obat modern alami berstandar global.
Dia mencontohkan, China dan India berani membangun ekosistem kesehatan yang mengintegrasikan herbal medicine ke dalam layanan medis modern secara menyeluruh.
"Indonesia memiliki biodiversitas terbesar kedua di dunia. Langkah selanjutnya adalah membangun sistem kesehatan yang mengintegrasikan obat berbasis biodiversitas alam ke dalam layanan kesehatan formal, sebagaimana China dan India telah membuktikannya," ujar Raymond dalam keterangannya, Senin (18/5).
Raymond menjelaskan, China membangun Traditional Chinese Medicine (TCM) sebagai bagian dari sistem rumah sakit nasional hingga diterima sebagai global herbal drug. Sementara India mendirikan rumah sakit Ayurveda berskala nasional dengan ekosistem riset dan uji klinis yang kuat.
"Keduanya membuktikan bahwa kekayaan alam yang didukung sains dan sistem yang terintegrasi mampu melahirkan industri kesehatan berskala dunia. Indonesia memiliki seluruh fondasi itu," jelasnya.
Selama lebih dari dua dekade, Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) mengembangkan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) berbasis sains modern dan evidence-based medicine. Proses ini mencakup riset mendalam, standardisasi bahan alam, hingga uji klinis ketat untuk memastikan efikasi dan keamanan setiap produk yang dihasilkan.
"Kami sudah mengekspor fitofarmaka Indonesia ke beberapa negara seperti Filipina dan Kamboja. Tenaga medis di sana menggunakan dan merekomendasikan produk Indonesia karena standar internasional, efikasi, dan safety-nya sudah terbukti," kata Raymond.
Menurut dia, TCM dan Ayurveda berkembang melampaui terapi promotif dan preventif. Sementara portfolio OMAI Dexa Group kini mencakup terapi kuratif berbasis sains berbasis bahan alam untuk penguatan sistem imun, terapi herbal untuk perempuan dengan polycystic ovarian syndrome (PCOS), hingga terapi pendukung pemulihan stroke berbasis biodiversitas Indonesia.
"China dikenal karena TCM. India dikenal karena Ayurveda. Harapannya, dunia mengenal Indonesia karena kemampuan kita mengubah biodiversitas menjadi obat modern yang diterima secara global," tambahnya.





