PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) memperkuat strategi keberlanjutan di tengah tantangan bisnis dan tekanan operasional sepanjang 2025 melalui penguatan praktik Environmental, Social, and Governance (ESG), efisiensi energi, hingga pengelolaan risiko terintegrasi. Langkah tersebut dilakukan saat perusahaan masih membukukan tekanan kinerja keuangan pada tahun lalu.
Berdasarkan laporan keberlanjutan 2025 yang dipublikasikan bersamaan dengan Laporan Tahunan 2025, GPSO mencatat penjualan sebesar Rp5,338 miliar dengan rugi usaha mencapai Rp3,175 miliar sepanjang 2025.
Direktur Utama GPSO Dionysius Tjokro mengatakan hasil tersebut menjadi evaluasi perusahaan untuk memperkuat struktur keuangan dan menyusun strategi pertumbuhan jangka panjang.
“Capaian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus menyusun strategi pertumbuhan jangka panjang,” ujar Dionysius dalam keterangan tertulis, Senin (18/5/2026).
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan menyatakan tetap melanjutkan implementasi strategi keberlanjutan sebagai bagian dari penguatan ketahanan bisnis.
Dionysius menyebut terus mengidentifikasi serta mengelola isu keberlanjutan yang berpotensi memengaruhi operasional dan kesinambungan usaha.
Dari aspek lingkungan, GPSO mencatat penurunan total penggunaan energi sebesar 16,65% sepanjang 2025. Konsumsi listrik perkantoran juga turun 32,37% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Dionysius, pengurangan tersebut berasal dari langkah efisiensi energi yang dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan operasional.
Sementara dari aspek sosial, GPSO menyatakan terus menerapkan kesempatan kerja setara tanpa diskriminasi dan mempertahankan komposisi tenaga kerja perempuan sebagai bagian dari kebijakan sumber daya manusia.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan juga menjalankan sejumlah inisiatif yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, pengurangan emisi, serta dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
Namun implementasi strategi keberlanjutan masih menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi internal, perusahaan menyebut masih terdapat keterbatasan sumber daya dan belum meratanya pemahaman terkait ESG di seluruh organisasi.
Adapun dari faktor eksternal, GPSO menghadapi volatilitas pasar, perubahan regulasi, serta meningkatnya ekspektasi pemangku kepentingan terhadap praktik bisnis berkelanjutan.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, perusahaan menerapkan sistem manajemen risiko terintegrasi yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Perseroan juga memperkuat pemantauan regulasi, meningkatkan efisiensi energi, serta mendorong pengelolaan rantai pasok yang lebih berkelanjutan,” kata Dionysius.
Perseroan menyebut penguatan kemitraan strategis dan pengembangan inisiatif rendah emisi menjadi bagian dari langkah yang disiapkan untuk mendukung kesinambungan usaha.





