Grid.ID – Penantian panjang akhirnya berbuah manis. Setelah sembilan tahun lamanya berjuang melawan berbagai rintangan medis dan kegagalan, pasangan Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani akhirnya resmi menjadi orang tua.
Keajaiban itu hadir lewat kelahiran sang buah hati, Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi, pada 15 Mei 2026. Kehadiran Rafasya bukan sekadar kelahiran biasa, melainkan bukti nyata dari perjuangan tak kenal lelah pasangan ini.
Perjalanan Rifky dan Yulia dalam mendapatkan keturunan tidaklah mudah. Dalam pengakuannya, mereka sempat mengalami masa kelam saat Yulia didiagnosa mengalami kehamilan di luar kandungan pada tahun 2018. Kejadian tersebut memaksa Yulia menjalani operasi pengangkatan tuba falopi di sebelah kiri.
"Kami pernah di-judge juga bahwa susah untuk mempunyai keturunan lagi," kata Rifky Alhabsyi saat ditemui di Rumah Sakit Primaya Evasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).
Tak sampai di sana, perjuangan berlanjut dengan serangkaian program bayi tabung (In Vitro Fertilization atau IVF) yang kerap menemui jalan buntu. Hingga akhirnya, pada tahun 2025, mereka memutuskan mencoba program tersebut di Primaya Evasari Hospital, setelah mendapat rekomendasi dari rekan terdekat.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Primaya Evasari Hospital, dr. Darma Syanty, Sp.OG., Subsp. FER., menjelaskan bahwa setiap pasangan memiliki tantangan fertilitas yang berbeda, namun peluang kehamilan tetap dapat diupayakan melalui pendekatan medis yang tepat.
“Pada kasus dengan kerusakan tuba yang sudah tidak dapat berfungsi, IVF menjadi pilihan terbaik untuk memperoleh kehamilan. Yang sangat berkesan dari perjalanan Rifky dan Yulia adalah bagaimana mereka menjalani seluruh proses dengan penuh kepasrahan, tetapi tidak pernah kehilangan harapan. Mereka juga mendapat dukungan positif dari keluarga dan orang-orang terdekat, yang sangat berpengaruh terhadap kondisi emosional selama program berlangsung. Padahal dalam kasus ini, hanya ada satu embrio yang berhasil, sehingga kehamilan yang terjadi benar-benar menjadi anugerah yang sangat berarti,” jelasnya.
Kehamilan Yulia kali ini pun diwarnai tantangan. Memasuki trimester akhir, berat badan janin sempat menjadi perhatian serius dokter.
"Ada kekhawatiran juga saat itu. Kami coba push dengan makan protein dan lain-lain, tapi naiknya hanya sedikit. Sementara minggunya sudah berjalan, sudah sesuai," kenang Rifky.
Tak ingin ambil risiko, tim dokter memberikan suntik pematangan paru bagi sang janin guna antisipasi jika bayi lahir lebih cepat. Ketegangan memuncak saat hari persalinan tiba.
"Jadi, habis lahiran itu nggak ngerasain sakit. Jadi, habis operasi selang 12 jam, lepas kateter, sudah bisa jalan," tutur Yulia.
Kekhawatiran akan kesehatan sang buah hati pun perlahan sirna. Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi lahir dengan kondisi sehat dan tanpa perlu masuk ke ruang NICU. Berat badannya mencapai 2.455 gram, melampaui prediksi sebelumnya.
Kisah Rifky dan Yulia pun menjadi inspirasi bagi pasangan pejuang dua garis lainnya. Di balik vonis medis yang berat, semangat untuk berusaha dan dukungan fasilitas medis yang tepat adalah kunci utama menuju keajaiban.
"Jujur itu anugerah terindah yang saya rasakan. Penantian kami selama 9 tahun sampai akhirnya terwujud," pungkas Rifky.(*)
Artikel Asli




