Jakarta (ANTARA) - Forum Komunikasi Pelukis Kota Cimahi (Forkis) menggelar lomba melukis tong sampah untuk mengajak masyarakat menerapkan kebiasaan hidup bersih sekaligus mempercantik fasilitas umum di Pendopo DPRD Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (9/5), dengan melibatkan sekitar 180 peserta dari berbagai kelompok usia.
“Kegiatan kreatif seperti ini sekaligus membawa pesan edukasi lingkungan kepada masyarakat,” kata Ketua Pelaksana Forkis Endang dalam keterangannya pada Senin.
Ia mengatakan lomba tersebut dirancang sebagai kegiatan berbasis komunitas yang menggabungkan unsur seni dan edukasi lingkungan, dengan harapan pesan kebersihan dapat diterima masyarakat secara lebih ringan dan menyenangkan.
Menurut dia, tong sampah yang selama ini identik dengan benda fungsional dapat diubah menjadi media visual yang menarik, sehingga mendorong warga untuk lebih peduli terhadap fasilitas umum di sekitarnya.
Baca juga: Pemkot Semarang perbanyak even seni dorong pertumbuhan ekonomi
Dalam lomba itu, peserta menghias tong sampah dengan beragam motif dan warna, mulai dari tema alam, pesan ajakan membuang sampah pada tempatnya, hingga gambar kartun yang menarik perhatian anak-anak.
Suasana kegiatan tampak meriah karena peserta datang dari berbagai kalangan, termasuk pelajar, komunitas seni, serta masyarakat umum yang ingin ikut berpartisipasi.
Tong sampah yang telah dilukis rencananya akan ditempatkan di sejumlah titik strategis Kota Cimahi untuk digunakan sebagai fasilitas umum sekaligus pengingat visual bagi masyarakat agar menjaga kebersihan ruang publik.
Baca juga: Transjakarta ajak seniman muda disabilitas melukis di badan bus
Sejumlah pejabat pemerintah daerah turut hadir memantau kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan Wali Kota Cimahi, Komisi IV DPRD Kota Cimahi, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, Disbudparpora Kota Cimahi, Prokopim Kota Cimahi, DPKP Kota Cimahi, hingga Satpol PP.
Anggota DPKP Kota Cimahi Sambas mengatakan kegiatan tersebut dapat menjadi cara sederhana untuk membangun kebiasaan hidup bersih yang dimulai dari lingkungan sekitar.
“Kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya,” ujar Sambas.
Baca juga: Kampung Asei Besar penghasil lukisan kulit kayu bernilai seni budaya
Ia menilai kampanye kebersihan yang dilakukan melalui kegiatan kreatif akan lebih mudah diterima masyarakat, terutama generasi muda, karena disampaikan dengan pendekatan visual yang menarik.
Selain sebagai lomba, kegiatan itu juga menjadi ruang interaksi antara komunitas seni dan masyarakat, sekaligus memperlihatkan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui sosialisasi formal.
Bagi sebagian peserta, melukis tong sampah menjadi pengalaman unik karena mereka dapat mengekspresikan kreativitas di media yang tidak biasa, sekaligus merasakan bahwa karya mereka nantinya akan digunakan langsung oleh masyarakat.
Baca juga: TransJakarta ajak anak berkebutuhan khusus melukis mural di bus
Forkis menilai kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu cara memperkuat budaya menjaga kebersihan ruang publik, terutama di area yang ramai aktivitas warga.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap masyarakat tidak hanya melihat tong sampah sebagai tempat membuang limbah, tetapi juga sebagai bagian dari ruang kota yang perlu dijaga dan dirawat bersama.
Kegiatan melukis tong sampah itu juga menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas yang produktif, sekaligus mendorong warga lebih aktif berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Baca juga: Lomba melukis Sungai Batanghari tanamkan kepedulian pada generasi muda
“Kegiatan kreatif seperti ini sekaligus membawa pesan edukasi lingkungan kepada masyarakat,” kata Ketua Pelaksana Forkis Endang dalam keterangannya pada Senin.
Ia mengatakan lomba tersebut dirancang sebagai kegiatan berbasis komunitas yang menggabungkan unsur seni dan edukasi lingkungan, dengan harapan pesan kebersihan dapat diterima masyarakat secara lebih ringan dan menyenangkan.
Menurut dia, tong sampah yang selama ini identik dengan benda fungsional dapat diubah menjadi media visual yang menarik, sehingga mendorong warga untuk lebih peduli terhadap fasilitas umum di sekitarnya.
Baca juga: Pemkot Semarang perbanyak even seni dorong pertumbuhan ekonomi
Dalam lomba itu, peserta menghias tong sampah dengan beragam motif dan warna, mulai dari tema alam, pesan ajakan membuang sampah pada tempatnya, hingga gambar kartun yang menarik perhatian anak-anak.
Suasana kegiatan tampak meriah karena peserta datang dari berbagai kalangan, termasuk pelajar, komunitas seni, serta masyarakat umum yang ingin ikut berpartisipasi.
Tong sampah yang telah dilukis rencananya akan ditempatkan di sejumlah titik strategis Kota Cimahi untuk digunakan sebagai fasilitas umum sekaligus pengingat visual bagi masyarakat agar menjaga kebersihan ruang publik.
Baca juga: Transjakarta ajak seniman muda disabilitas melukis di badan bus
Sejumlah pejabat pemerintah daerah turut hadir memantau kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan Wali Kota Cimahi, Komisi IV DPRD Kota Cimahi, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, Disbudparpora Kota Cimahi, Prokopim Kota Cimahi, DPKP Kota Cimahi, hingga Satpol PP.
Anggota DPKP Kota Cimahi Sambas mengatakan kegiatan tersebut dapat menjadi cara sederhana untuk membangun kebiasaan hidup bersih yang dimulai dari lingkungan sekitar.
“Kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya,” ujar Sambas.
Baca juga: Kampung Asei Besar penghasil lukisan kulit kayu bernilai seni budaya
Ia menilai kampanye kebersihan yang dilakukan melalui kegiatan kreatif akan lebih mudah diterima masyarakat, terutama generasi muda, karena disampaikan dengan pendekatan visual yang menarik.
Selain sebagai lomba, kegiatan itu juga menjadi ruang interaksi antara komunitas seni dan masyarakat, sekaligus memperlihatkan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui sosialisasi formal.
Bagi sebagian peserta, melukis tong sampah menjadi pengalaman unik karena mereka dapat mengekspresikan kreativitas di media yang tidak biasa, sekaligus merasakan bahwa karya mereka nantinya akan digunakan langsung oleh masyarakat.
Baca juga: TransJakarta ajak anak berkebutuhan khusus melukis mural di bus
Forkis menilai kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu cara memperkuat budaya menjaga kebersihan ruang publik, terutama di area yang ramai aktivitas warga.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap masyarakat tidak hanya melihat tong sampah sebagai tempat membuang limbah, tetapi juga sebagai bagian dari ruang kota yang perlu dijaga dan dirawat bersama.
Kegiatan melukis tong sampah itu juga menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas yang produktif, sekaligus mendorong warga lebih aktif berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Baca juga: Lomba melukis Sungai Batanghari tanamkan kepedulian pada generasi muda





