Bisnis.com, BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan tidak akan mengubah nama Jawa Barat. Dia membantah rumor yang beredar.
Dia juga mengevaluasi rangkaian kegiatan Milangkala Tatar Sunda yang digelar keliling di sejumlah daerah di Jawa Barat.
Lelaki yang akrab disapa KDM membantah adanya tudingan jika Milangkala Tatar Sunda ini ke depannya akan mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda.
“Tidak ada itu, tidak ada, Jawa Barat tetap Jawa Barat,” kata Dedi Senin (18/5/2026).
Dedi menyebut tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari jutaan warga yang hadir selama rangkaian acara berlangsung di berbagai daerah.
“Spirit masyarakat Jawa Barat sangat kuat. Ukurannya bisa dilihat dari kehadiran masyarakat untuk menyambut. Kalau dikalkulasikan, sudah jutaan orang dari seluruh perjalanan keliling ini,” katanya,
Baca Juga
- Dirut BPJS Ketenagakerjaan Sebut PHK di Jawa Barat Sasar Industri Berbasis Plastik
- Bayar Pajak di Jawa Barat Kini Bisa Lewat WhatsApp, Begini Caranya
- 2 Proyek Pembangkit Sampah Siap Dibangun di Jawa Barat Juni 2026
Selain tingginya partisipasi warga, pihaknya menilai kegiatan tersebut juga mendorong perputaran ekonomi daerah. Dia mencontohkan tingkat hunian hotel yang meningkat selama agenda berlangsung.
“Dari sisi ekonomi memberikan implikasi yang cukup kuat. Coba lihat hotel-hotel penuh, kunjungan ke Jawa Barat meningkat, dan beberapa daerah mulai tampak bersih,” katanya.
Menurutnya, rangkaian Milangkala Tatar Sunda menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jawa Barat. Karena itu, ia menilai ada banyak catatan yang harus diperbaiki ke depan.Dedi meminta seluruh daerah di Jawa Barat mulai memperkuat penataan kawasan, kebersihan lingkungan, hingga estetika kota agar memiliki identitas yang kuat.
“Ke depan seluruh daerah harus jauh lebih baik. Kebersihan lingkungannya harus ditingkatkan, penataan lingkungannya harus dikuatkan, tata arsitekturnya harus segera dibangun, branding dikembangkan, serta tata estetika harus sangat kuat,” ungkapnya.
Salah satu sorotan diberikan KDM—panggilan akrabnya terhadap kawasan keraton di Cirebon. Menurutnya, bangunan-bangunan baru di sekitar kawasan keraton saat ini belum selaras dengan karakter budaya yang ada.
Dia menilai kondisi tersebut membuat potensi wisata budaya belum tergarap maksimal.
“Keraton-keraton di Cirebon kurang mendapat ruang terbuka yang cukup karena dikepung bangunan baru. Ke depan bangunan di sekitar keraton harus selaras agar melahirkan gelombang publik untuk datang,” katanya.
Meski demikian, Dedi menegaskan pemerintah daerah tidak boleh hanya berfokus mengejar kunjungan wisatawan semata. Menurutnya, hal paling penting adalah membangun dan menata daerah terlebih dahulu.“Kita jangan dulu berpikir wisata, jangan dulu berpikir orang berkunjung. Satu saja, urus lembur kita, tata kota kita. Setelah itu nanti ada hikmahnya. Jangan berpikir hasil kemudian melupakan proses,” tandasnya.
Sebelumnya, menuju Milangkala Tatar Sunda 18 Mei 2026, Pemprov Jabar telah menggelar kirab budaya Mahkota Binokasih di sembilan kota. Diawali di Sumedang pada 2 Mei 2026 berlanjut ke Ciamis, Tasikmalaya dan Garut. Kemudian ke Cianjur, Bogor, Karawang, Cirebon dan terakhir di Kota Bandung pada Sabtu malam (16/5/20206). Kirab budaya diisi pertunjukan seni budaya dari 27 kabupaten dan kota di Jabar serta provinsi lainnya.
Drama kolosal bertajuk "Peuting Muggaran" menjadi puncak acara Milangkala Tatar Sunda. Digelar selama sekitar 2,5 jam, pagelaran ini menyambut hadirnya Hari Tatar Sunda 18 Mei 2026, tepat pukul 00.00 WIB.Disutradarai oleh Sujiwo Tejo, yang juga ikut berperan sebagai Sunan Kalijaga, "Peuting Munggaran" membangkitkan kembali nilai kehidupan yang lekat dengan Kerajaan Pajajaran.
Sejumlah seniman teater, artis dan musisi ikut andil dalam pagelaran "Peuting Munggaran" yang berlangsung di Gedung Sate, Minggu malam (17/5/2026).
1779107219_32a9f52f-486e-4243-b544-dcd3d2f2eb84.





