Bisnis.com, JAKARTA — Laporan terbaru menunjukkan aliran pembiayaan untuk adaptasi dan ketahanan iklim (climate adaptation and resilience/CA&R) di Asia telah melampaui US$100 miliar sepanjang 2021—2025.
Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan pendanaan tahunan kawasan dalam menghadapi risiko perubahan iklim yang terus meningkat.
Laporan tersebut disusun oleh Centre for Impact Investing and Practices (CIIP), lembaga nonprofit berbasis di Singapura, bersama Temasek, Invesco, dan ImpactSF (CGIAR Hub for Sustainable Finance), dengan dukungan Dalberg. Kajian itu menyoroti risiko iklim, kesenjangan pembiayaan, serta berbagai hambatan yang membatasi investasi pada solusi adaptasi dan ketahanan iklim di Asia.
Hambatan tersebut mencakup kesenjangan data yang masih persisten, terbatasnya peluang investasi yang layak secara komersial, hingga belum jelasnya jalur pembiayaan untuk berbagai proyek ketahanan iklim.
“Pembiayaan adaptasi dan ketahanan iklim di Asia masih terkendala oleh data yang terbatas, pendekatan yang terfragmentasi, dan ketidakpastian seputar di mana modal dapat menjadi paling efektif,” ujar CEO CIIP Dawn Chan dalam keterangan resmi menjelang peluncuran laporan tersebut, Senin (18/5/2026).
Dia menuturkan bahwa risiko iklim saat ini terus meningkat. Karena itu, koordinasi yang lebih kuat antara modal publik, modal swasta, dan filantropi menjadi krusial guna mempercepat upaya mitigasi risiko perubahan iklim.
Baca Juga
- Peran Perempuan di Perhutanan Sosial, Solusi Iklim Inklusif
- Prospek Pembiayaan Adaptasi Iklim Global 2026, China Paling Jumbo
- Pentingnya Kolaborasi dengan Masyarakat dalam Membangun Ketahanan Iklim
Dari total pembiayaan lebih dari US$100 miliar selama lima tahun terakhir tersebut, studi itu mengidentifikasi lebih dari 250 solusi prioritas CA&R di Asia. Identifikasi dilakukan berdasarkan risiko, ancaman, dan prioritas iklim yang unik di masing-masing kawasan.
Solusi tersebut mencakup sembilan sektor utama, yakni infrastruktur, air, pertanian dan sektor terkait, energi, industri dan perdagangan, penanggulangan bencana, kesehatan, ekosistem dan keanekaragaman hayati, serta sistem sosial. Tingkat kelayakan komersialnya pun beragam, mulai dari solusi yang belum layak secara bisnis hingga solusi yang telah terbukti secara komersial di berbagai pasar.
Pembiayaan Masih Jauh dari KebutuhanLaporan tersebut mencatat Asia mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Sejak 2000, sebanyak 3,7 miliar orang di Asia terdampak bencana terkait iklim, atau lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kawasan lain di dunia. Kondisi tersebut telah memicu kerugian ekonomi dan sosial yang signifikan.
CIIP memperkirakan Asia akan menyumbang sekitar 75% dari kesenjangan pembiayaan CA&R global pada 2030. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan di Asia diproyeksikan menanggung biaya iklim tahunan hingga US$336 miliar.
Namun demikian, arus pembiayaan tahunan CA&R di Asia saat ini masih berada jauh di bawah kebutuhan. Laporan tersebut menyebut kebutuhan pembiayaan mencapai lebih dari US$200 miliar per tahun, sementara realisasi aliran dana baru berada di kisaran US$19 miliar.
Sektor pertanian disebut menjadi salah satu sektor yang paling terdampak perubahan iklim.
Kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) Asia Tenggara mencapai 9,8%. Akan tetapi, pertumbuhan rata-rata produksi tahunan komoditas pangan utama seperti padi, jagung, kedelai, tebu, dan singkong tercatat masih di bawah 1,3% dalam satu dekade terakhir.
Tekanan iklim diperkirakan dapat memangkas hasil panen hingga 41%. Dampak terbesar diproyeksikan menimpa sekitar 100 juta petani kecil di kawasan, sementara sebagian besar dari mereka hidup dengan pendapatan kurang dari US$2 per hari.
Salah satu pimpinan ImpactSF, Godefroy Grosjean, mengatakan dampak risiko iklim berbeda-beda tergantung jenis tanaman atau ternak, lokasi, serta waktu terjadinya risiko tersebut. Kondisi itu, menurutnya, menentukan strategi peningkatan ketahanan yang dibutuhkan.
Dia menambahkan data ilmiah yang dihasilkan akan mendukung proses investasi, terutama dalam identifikasi dan mitigasi risiko, sekaligus pelaporan dampak terhadap penerima investasi.
“Ini sangat penting karena jika risiko diabaikan, hal itu pada akhirnya akan berdampak pada keuntungan finansial dari bisnis-bisnis di sektor pertanian dan pangan,” ujar Grosjean.





