Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah tengah menjajaki impor minyak mentah (crude oil) dari sejumlah negara Afrika sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan dalam negeri di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) RI Satya Widya Yudha menjelaskan bahwa saat ini dalam usaha menjaga ketahanan energi nasional, pemerintah saat ini berupaya keras untuk mencari pasokan minyak mentah dari berbagai sumber alternatif di luar kawasan Timur Tengah.
Tak hanya minyak mentah, Satya juga mengungkapkan pemerintah juga menjajaki kemungkinan untuk mendapatkan produk bahan bakar minyak (BBM) dari negara-negara tetangga RI di kawasan Asia Tenggara.
"Security of supply-nya kita ambil dari Rusia, terus dari Afrika seperti Gabon, Nigeria itu sebagai salah satu alternatif, dan juga yang untuk BBM jadinya, bisa dari Malaysia, dari Singapura. Nah, jadi itu untuk menjaga supaya kita tidak mengalami kondisi yang kekurangan suplai," ucap Satya kepada Bisnis di sela-sela Sarasehan Energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Senin (18/5/2026).
Satya mengatakan bahwa berbagai langkah strategis yang tengah dilakukan pemerintah untuk mendiversifikasi impor minyak tersebut adalah satu dari sekian upaya dalam rangka menjaga ketahanan pasokan energi nasional di tengah memuncaknya risiko geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang masih dalam kategori rawan dan pembatasan jalur pelayaran utama Selat Hormuz oleh otoritas Iran.
Usaha diversifikasi sumber impor minyak tersebut juga dilakukan karena produksi minyak dalam negeri saat ini tercatat hanya sebesar 605.000 barel per hari (bph), sementara konsumsi masyarakat secara nasional mencapai 1,6 juta barel per hari.
Baca Juga
- DEN Ungkap Minyak Impor dari Rusia Tiba di RI dalam 2-3 Pekan Lagi
- Bahlil Sebut Impor Minyak dari Rusia Segera Masuk RI
- Tok! Bahlil Sebut Impor Minyak Mentah dari Rusia Dieksekusi Bulan Ini
"Itu menjadi salah satu cara kita untuk menekan agar kita tidak mengalami shortage dalam supply ya karena salah satu yang kita jaga itu kalau kita berbicara ketahanan energi itu harus security of supply kan," tegas dia.
Diberitakan sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan, pemerintah tengah menjajaki pasokan minyak mentah dari sejumlah negara selain Rusia dan Amerika Serikat. Menurutnya, Indonesia juga mulai meningkatkan impor minyak mentah dari sejumlah negara di kawasan Afrika, termasuk Nigeria.
“Kita [impor minyak] dari Nigeria, negara-negara Afrika. Jadi, sumber-sumber lain non-Selat Hormuz,” katanya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Laode mengatakan, diversifikasi impor dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi jalur utama distribusi energi global. Pemerintah menilai jalur tersebut rentan terganggu akibat eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat dan sekutunya, Israel.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor minyak mentah Indonesia pada Januari 2026 mencapai 2,52 juta ton. Angola tercatat menjadi pemasok terbesar dengan volume 553.890 ton atau setara 22,01% dari total impor minyak mentah Indonesia pada periode tersebut.
Arab Saudi berada di posisi kedua sebagai pemasok minyak mentah terbesar Indonesia, dengan volume 514.420 ton atau sekitar 20,44% dari total impor.
Sementara itu, Nigeria menempati posisi ketiga dengan volume 513.120 ton atau setara 20,39%. Brasil di peringkat selanjutnya tercatat memasok 272.780 ton minyak mentah atau sekitar 10,84% dari total impor minyak mentah Indonesia. Adapun, Australia memasok sebesar 138.750 ton minyak mentah ke Indonesia, dengan pangsa 5,51%.





