Bisnis.com, JAKARTA — Tambahan impor gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dari Australia disebut akan tiba di Indonesia paling lambat pada bulan depan.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan tambahan pasokan LPG dari Negeri Kanguru itu berjumlah sebanyak 2 kargo. Dia mengemukakan impor tersebut kemungkinan akan tiba pada bulan ini atau pada Juni 2026.
“Sudah jalan [impor LPG]. Tanya Pertamina sudah sampai belum. Harusnya sih sudah ya, bulan Mei atau Juni,” ungkap Djoko di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Senin (18/05/2026).
Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI pada awal April 2026, Djoko mengungkap bahwa tambahan pasokan LPG tersebut berasal dari Pemerintah Jepang melalui fasilitas produksi Inpex Corporation Ltd. yang berada di Australia.
"Kami mendampingi menteri ketemu Dubes Jepang. Jepang berkomitmen untuk menambah suplai LPG kita yang diproduksi di Australia," kata Djoko kala itu.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pasokan LPG Indonesia pada 2025 masih didominasi oleh impor dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada satu negara utama.
Baca Juga
- Cari Alternatif LPG, Pemerintah Bakal Impor 100.000 Tabung CNG 3 Kg
- Pertamina Andalkan Dua Kapal Gas Raksasa Jaga Pasokan LPG Nasional
- ESDM Tegaskan CNG Belum Akan Gantikan LPG Secara Masif
Pada tahun lalu, Amerika Serikat tercatat sebagai pemasok terbesar dengan pangsa mencapai 70,07%.
Di luar Amerika Serikat, pasokan LPG juga ditopang oleh negara-negara Timur Tengah. Uni Emirat Arab dan Qatar masing-masing menyumbang 11,88% dan 11,84%, diikuti Kuwait sebesar 2,43% serta Arab Saudi 1,71%.
Bahrain turut berkontribusi dengan pangsa 1,38%. Sementara itu, negara lain seperti Australia dan Malaysia hanya memiliki peran yang sangat kecil, masing-masing sebesar 0,62% dan 0,08%.





