Koresponden Al Jazeera di Teheran, Almigdad Alruhaid mengatakan pemerintah Iran menunjukkan sikap menantang dan tidak akan mentoleransi ancaman dari Washington. Hal ini terkait dengan ancaman terbaru dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Trump kembali mengulangi ancamannya terhadap Iran di tengah tersendatnya negosiasi untuk mengakhiri konflik antara kedua negara.
Baca Juga: Trump Menyerang Dua Media Besar karena Sebut Militer Iran Tangguh
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Minggu (17/5/2026), Trump memperingatkan bahwa waktu bagi Iran semakin menipis sebelum Amerika Serikat meluncurkan gelombang aksi militer baru.
“Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bertindak, cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka,” tulis Trump.
Alruhaid mengatakan bahwa Teheran menunjukkan sikap menantang dan tidak akan mentoleransi ancaman dari Trump itu.
“Dari apa yang kami pahami, bahasa seperti ini tidak dapat diterima di Teheran. Mereka menunjukkan sikap menantang daripada memberikan tanggapan langsung terhadap retorika semacam ini,” kata Alruhaid.
Ia menilai situasi saat ini memperlihatkan kedua negara sama-sama meningkatkan kesiapan militernya di tengah menyempitnya ruang diplomasi.
“Kita tahu bahwa ada bahasa yang keras, pesan yang keras dari kedua belah pihak, bahwa kedua belah pihak sama-sama siap untuk menyerang,” ujarnya.
Dikutip dari Al Jazeera, pernyataan Trump sendiri menjadi sinyal terbaru meningkatnya retorika perang dari Washington di tengah rapuhnya gencatan senjata yang berlaku sejak April lalu.
Sehari sebelumnya, Trump juga mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan dirinya berada di atas kapal militer dengan tulisan bernada ancaman.
“Itu adalah ketenangan sebelum badai,” tulis Trump.
Konflik AS-Iran pecah sejak 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran. Sejak saat itu, Trump menuntut Teheran menghentikan program rudal, memutus hubungan dengan sekutu regional, dan mengakhiri program pengayaan nuklirnya.
Pada 7 April 2026, Trump juga sempat mengunggah pernyataan kontroversial yang memicu kritik internasional.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kemungkinan besar akan terjadi,” ujar Trump kala itu.
Beberapa jam setelah pernyataan tersebut, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata. Namun kedua pihak terus saling menuduh melakukan pelanggaran.
Trump sebelumnya juga mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Sejumlah ahli hukum internasional menilai ancaman tersebut berpotensi melanggar Konvensi Jenewa.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Mei 2026, Trump bahkan menyatakan pejabat Iran akan “dilenyapkan dari muka bumi” jika menyerang kapal-kapal AS.
Iran langsung merespons keras ancaman terbaru tersebut. Pemerintah Teheran menilai retorika Washington sudah melewati batas dan memperlihatkan bahwa AS juga tengah bersiap menghadapi kemungkinan perang baru.
Kantor berita pemerintah Iran, Mehr menyebut AS belum menawarkan “konsesi nyata” dalam proposal damai terbaru.
Media itu juga menuduh Washington berupaya “memperoleh konsesi yang gagal diperoleh selama perang”, sehingga hanya akan memperburuk kebuntuan diplomatik.
Secara terpisah, juru bicara angkatan bersenjata Iran Abolfazl Shakarchi memperingatkan AS agar tidak kembali melakukan ancaman militer.
Baca Juga: Ini Sejumlah Penyebab Kebuntuan Negosiasi Damai Perang Iran-AS
“Mengulangi kesalahan apa pun untuk menutupi aib Amerika dalam Perang Ketiga yang Dipaksakan terhadap Iran tidak akan menghasilkan apa pun selain menerima pukulan yang lebih menghancurkan dan parah,” kata Shakarchi kepada Mehr.





