Wall Street Anjlok Tertekan Kenaikan Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Indeks bursa Wall Street tertekan anjloknya saham sektor teknologi pada perdagangan Senin waktu Amerika Serikat (18/5). Faktor lain yang menjadi sentimen negatif yakni harga minyak melonjak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Nasdaq Composite dan S&P 500 masing-masing ditutup turun 0,51% ke level 26.090,73 dan 0,07% menjadi 7.403,05. Ini penurunan dua hari berturut-turut. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average menguat 159,95 poin atau 0,32% ke posisi 49.686,12.

Tekanan di sektor teknologi dipicu aksi jual saham perusahaan cip memori setelah CEO Seagate Technology dalam konferensi JPMorgan, mengatakan pembangunan pabrik baru akan membutuhkan waktu lama. Pernyataan ini memicu kekhawatiran pasar terkait keterbatasan kapasitas industri cip memori untuk memenuhi lonjakan permintaan.

Saham Seagate Technology anjlok hampir 7% dan menyeret Micron Technology turun hampir 6%. Saham Western Digital melemah 4,8%, sedangkan SanDisk turun 5,3%. Saham terkait kecerdasan buatan (AI) seperti NVIDIA dan Broadcom juga terkoreksi sekitar 1%.

Padahal, indeks utama Wall Street sempat mencetak rekor tertinggi baru pada pekan lalu, dengan Dow Jones kembali menembus level psikologis 50.000. Namun reli ini mulai kehilangan tenaga setelah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah global.

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam sekitar setahun. Obligasi pemerintah Inggris dan Jepang juga naik, yang memperkuat kekhawatiran pasar terhadap prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Kenaikan imbal hasil obligasi langsung menekan saham teknologi, yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar. Pada perdagangan Jumat (15/5), indeks Nasdaq-100 bahkan turun 1,5%, menjadi kinerja harian terburuk sejak 27 Maret.

CEO WEBs Investments, Ben Fulton, mengatakan kenaikan harga minyak menjadi titik krusial bagi inflasi. Menurut dia, tanpa adanya perkembangan positif dari Timur Tengah, khususnya stabilitas di Selat Hormuz, pergerakan saham berpotensi bergerak terbatas dalam rentang sempit.

“Saya bisa melihat orang-orang mulai melindungi taking profit dengan cepat,” ujar Fulton dikutip CNBC International, Selasa (19/5). 

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 3% dan ditutup di US$ 108,66 per barel, sementara minyak mentah Brent naik lebih dari 2% menjadi US$112,10 per barel.

Penguatan harga minyak sempat mereda setelah Presiden Donald Trump mengatakan melalui Truth Social bahwa ia menunda rencana serangan terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan pada Selasa. Penundaan dilakukan setelah adanya permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang menyebut negosiasi serius masih berlangsung.

Meski begitu, pasar tetap waspada setelah Presiden AS Trump sehari sebelumnya memperingatkan Iran agar segera “bertindak” terkait negosiasi, atau menghadapi konsekuensi besar.

Sementara itu, data inflasi AS terbaru yang dirilis pekan lalu juga memperkecil peluang Federal Reserve untuk segera memangkas suku bunga acuan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PM Malaysia Tuntut Israel Jamin Keselamatan Serta Bebaskan Segera Aktivis Global Sumud Flotilla
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ulah 8 Terdakwa Korupsi LPEI Diduga Merugikan Negara Rp 992,82 M
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
SPBU Shell Jualan BBM Lagi, Ternyata Hasil Kerja Sama Pertamina
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Komisi III DPR minta laporan Erin terhadap mantan ART tidak diproses
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Terima Kunjungan Bupati Asahan, Bobby Nasution Pastikan Percepatan Pembangunan Infrastruktur
• 23 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.