Jakarta: Pemerintah Kota Jakarta Barat (Pemkot Jakbar) menggencarkan pengurangan residu sampah dari sumbernya. Hal itu dilakukan dengan cara pemilahan mulai dari tingkat RW, sekolah, perkantoran hingga pasar.
"Kita berharap semua entitas di wilayah itu sudah mulai melakukan pemilahan. Ini memastikan bahwa persoalan sampah harus mulai kita kurangi dari sumbernya," kata Wali Kota Jakbar, Iin Mutmainnah, dikutip dari Antara, selasa, 19 Mei 2026.
Menurut Iin, pemilahan sampah pada dasarnya, memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu.
“Sampah an organik bisa ditabung atau diolah di Bank Sampah. Sampah organik seperti daun-daun, diolah menjadi pupuk kompos untuk dimanfaatkan kembali. Sehingga sampah residu yang menjadi persoalan di tempat sampah akan sedikit,” ungkap Iin.
Baca Juga :
Pemprov DKI Imbau Warga Pisahkan Sampah Sisa Hewan KurbanSelain itu, Iin meminta RW-RW yang sudah menerapkan pemilahan sampah agar menjadi percontohan bagi RW lainnya. "Melakukan pemilahan sampah dari sumbernya secara bersama," imbuh Iin.
Diketahui, Jakbar masih dihadapkan dengan tingginya timbulan sampah. JUmlahnya mencapai 807.966 ton per tahun.
Ilustrasi sampah. Foto: Medcom.id.
Dari jumlah tersebut, hanya 212.450 ton atau sekitar 26 persen yang sudah dimanfaatkan kembali setiap tahunnya. Salah satu faktor sampah menumpuk di sejumlah titik di Jakbar yaitu pembatasan kuota pembuangan wilayah itu ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, dari 308 truk menjadi 190 truk per hari.
Pembatasan itu imbas insiden longsor pada 8 Maret 2026 di TPST terbesar di Asia Tenggara itu. Kondisi itu membuat pengangkutan sampah di sejumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS) wilayah Jakarta Barat terhambat. Namun di saat yang sama, produksi sampah masyarakat tak turut berkurang. Penumpukan sampah pun tak terhindarkan.
Pemkot Jakbar pun melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi residu sampah yang diangkut ke pembuangan akhir, termasuk melalui upaya pemilahan.




