BI Kawal Transformasi Pangan dari Sawah hingga Hilirisasi Desa

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Surabaya, VIVA – Di tengah ketidakpastian global, perubahan iklim, hingga ancaman gejolak harga pangan, sektor pertanian dan peternakan nasional kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Namun di balik tantangan tersebut, berbagai daerah di Jawa Timur justru menunjukkan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, petani, peternak, koperasi, hingga komunitas desa, mampu melahirkan transformasi ekonomi berbasis pangan yang lebih modern, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi. 

Mulai dari penguatan produksi pangan strategis, pengembangan hilirisasi desa, pengolahan limbah peternakan, hingga wisata edukasi pertanian organik, transformasi ini menjadi bagian dari upaya besar menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Baca Juga :
Mulai Juni 2026, Beli Dolar Maksimal 25 Ribu per Bulan
Gubernur BI Optimis Nilai Tukar Rupiah Bakal Stabil

Komitmen tersebut ditandai dengan peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa Tahun 2026 di Gudang Bulog Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu 13 Mei 2026. Program ini menjadi evolusi dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan pendekatan yang lebih terintegrasi dari hulu ke hilir.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan GPIPS hadir untuk menjawab tantangan stabilitas harga pangan yang semakin kompleks. Menurutnya, pengendalian inflasi pangan kini tidak cukup hanya mengandalkan operasi pasar jangka pendek, tetapi juga membutuhkan penguatan sektor produksi dan distribusi.

“Melalui GPIPS, pengendalian inflasi pangan tidak hanya difokuskan pada stabilisasi harga jangka pendek, tetapi juga pada penguatan produksi, pascapanen, dan distribusi pangan guna mendukung ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan,” ujar Aida di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu.

Deputi Gubernur BI Aida S Budiman
Photo :
  • VIVA/Siska Permata Sari

GPIPS 2026 difokuskan pada dua aspek utama yakni peningkatan produktivitas dan kelancaran distribusi pangan. Tiga komoditas prioritas nasional yang menjadi perhatian adalah beras, cabai, dan bawang merah.

“GPIPS memiliki penguatan dibandingkan program sebelumnya terutama pada 3 hal, pertama penguatan alignment program dengan prioritas pemerintah, khususnya dalam mendukung peningkatan produksi, penguatan distribusi, dan stabilisasi pangan strategis guna mendukung agenda Asta Cita menuju swasembada pangan,” kata Aida.

Bank Indonesia optimistis langkah tersebut mampu menjaga inflasi volatile food pada rentang 3-5% sepanjang 2026. Namun tantangan seperti perubahan iklim, El Nino, penguatan pascapanen, hingga fenomena aging farmer tetap menjadi perhatian serius.

Baca Juga :
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi Rp7.366,37 Triliun Kuartal I-2026, Begini Rinciannya
Rupiah Anjlok ke Rp 17.658 seiring Kritisnya Negosiasi Iran-AS, BI Bakal Intervensi Pasar Domestik
Imbau Masyarakat Tak Panik Soal Rupiah Anjlok, Purbaya: Kita Enggak Akan Sejelek '98

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Alyssa Daguise Bagikan Tips Melahirkan Secara Normal, Istri Al Ghazali Singgung Dukungan Orang-orang Terdekat
• 20 jam lalugrid.id
thumb
Sinopsis ASMARA GEN Z SCTV Episode 545, Hari Ini Senin 18 Mei 2026: Aqeela Kabur, Harry Panik hingga Mohan Curiga pada Motor Misterius
• 22 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Ucapan Perpisahan Mengharukan Carvajal: Saya Telah Menepati Janji Saya, Selamat Tinggal Selamanya Real Madrid
• 15 jam laluharianfajar
thumb
Komdigi Kaji Kewajiban Nomor Ponsel untuk Registrasi Medsos
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BULOG Pastikan Beras SPHP Tetap Terjangkau untuk Masyarakat
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.