REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit autoimun memengaruhi sekitar 8 persen populasi dunia dan berdampak serius pada kualitas hidup penderitanya. Dalam kondisi ini, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan tubuh sendiri, sehingga menimbulkan berbagai gangguan jangka panjang.
Konsultan Reumatologi dr Ankush PM mengungkapkan beberapa penyakit autoimun yang paling umum antara lain Hashimoto's Thyroiditis, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus, serta Rheumatoid Arthritis (RA). Hashimoto's Thyroiditis merupakan kondisi autoimun kronis yang secara bertahap merusak fungsi metabolik kelenjar tiroid dan menjadi salah satu penyebab utama hipotiroidisme pada perempuan, dengan rasio kejadian perempuan dibandingkan laki-laki sekitar 10 berbanding 1.
Baca Juga
Ada 3 Kasus Hantavirus di Jakarta, Masyarakat Diimbau Nggak Sembarangan Nyapu Kotoran Tikus
Mengapa Perempuan Susah Naik Jabatan? Pakar Ungkap 3 Hambatan Utamanya
Hormon Berantakan Bikin Sulit Konsentrasi? Yuk Perbaiki dengan Makanan Ini
Konsultasi kesehatan Gratis bagi penyandang lupus dan low vision saat acara World Lupus Day 2019, di Taman Hutan Raya Juanda, Kabupaten Bandung, Ahad (14/4). - (Abdan Syakura)
Sementara itu, lupus dapat menyerang berbagai organ seperti kulit, ginjal, dan sistem saraf. Adapun rheumatoid arthritis terjadi ketika sistem imun menyerang lapisan sinovial pada sendi, yang dapat menyebabkan nyeri kronis hingga deformitas.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Autoimun lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Banyak perempuan tidak menyadari tingkat keparahan penyakit autoimun sejak gejala awal muncul, sehingga diagnosis sering terlambat," kata dr Ankush, dilansir laman Hindustan Times, Selasa (19/5/2026).
Sejumlah penyandang lupus (odapus) dan Low Vision bersama relawan yang tergabung dalam Syamsi Dhuha Foundation (SDF) melakukan olah tubuh yoga usai Morning Walk atau jalan pagi di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda, Kabupaten Bandung, Rabu (5/7/2023). Kegiatan bertajuk Refresh our Body, Mind and Soul ini sebagai salah satu terapi bagi para penyandang autoimun dan gangguan penglihatan untuk menjaga kebugaran dan tetap semangat dalam beraktivitas. - (Edi Yusuf/Republika)
Dokter Ankush menjelaskan tingginya angka kasus autoimun pada perempuan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, terutama hormon estrogen. Estrogen diketahui meningkatkan aktivitas sistem imun sehingga perempuan cenderung lebih kuat dalam melawan infeksi dibandingkan laki-laki.
Namun, kadar estrogen yang tinggi juga dapat membuat sistem imun menjadi terlalu aktif. Ketika kondisi ini terjadi secara berlebihan, tubuh berisiko menyerang jaringan sehatnya sendiri.