Sejumlah pedagang hewan kurban di Jakarta mengakui ada peningkatan penjualan hewan kurban. Persentase peningkatannya pun beragam mulai dari peningkatan tipis sampai yang meningkat cukup signifikan.
Salah satunya Sigit (40), pedagang kambing di Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta Timur, yang berjualan di halaman rumahnya sendiri. Ia menjelaskan bahwa tahun ini penjualan kambing kurbannya memang mengalami peningkatan. Adapun ia sudah berjualan hewan kurban utamanya kambing sejak tahun 2023.
“Peningkatannya sekitar 70 persen ya (jika dibanding 2023),” kata Sigit ditemui di lapaknya, Selasa (19/5).
Untuk modal membeli kambing, Sigit mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp 32 juta. Modal tersebut ia gunakan untuk membeli 15 ekor kambing dan domba. Dari situ, keuntungan yang didapat menurutnya bisa mencapai 30 persen dari modal.
Selain itu, karena ia membuka lapak di halaman rumah, Sigit tetap memerlukan modal selain modal untuk kambing. Ia menceritakan modal utamanya dikeluarkan untuk pembuatan kandang.
“Kandangnya aja Rp 2,5 juta, itu bikinnya dua minggu sebelum hari H (Iduladha),” ujarnya.
Selain Sigit, kumparanBisnis juga menghampiri Putro Ismanto (33) yang berjualan hewan kurban sapi Bali di Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta Timur, yang membuka lapak di lahan sewa.
Terkait modal yang dikeluarkan dan potensi keuntungan dari penjualan sapi, ia memang enggan memberi detailnya. Namun, ia mengungkap terdapat kenaikan penjualan hewan kurban jika dibanding dengan tahun lalu.
“Kalau penjualan sih meningkat. Ya 20 persenan lah (dibanding tahun lalu),” ujar Putro.
Adapun di lapaknya tersebut saat ini terdapat 100 ekor sapi. Harga yang ditawarkan Putro mulai dari Rp 16 juta sampai Rp 30 juta per ekor.
Sementara terkait kocek yang dikeluarkan guna sewa lahan tersebut mencapai Rp 15 jutaan untuk masa sewa 30 hari. Selain itu, ia juga masih harus mengeluarkan modal tambahan untuk pembuatan kandang.
“Lumayan sih. Banyak bangsa-bangsa Rp 6 jutaan (untuk kandang),” kata Putro.
Selain itu, kumparanBisnis juga bergeser ke daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di sana, Mamo (46) yang membuka lapak di lahan sewa juga mengakui adanya peningkatan penjualan hewan kurbannya.
“Kalau kemarin kan kisaran di 70 persen, (tahun ini) sekarang mungkin bisa 80 persen,” ujarnya.
Adapun Mamo sudah berjualan hewan kurban sejak tahun 2001. Di lapaknya tersebut, ia memiliki 50 ekor kambing yang ia jual mulai harga Rp 3 juta sampai Rp 6,5 juta per ekor. Untuk membuka bisnis tahunan tersebut, Mamo juga merogoh kocek hingga ratusan juta untuk modal hewan dan sewa lahan.
“Ini kita aja udah hampir sekitar Rp 2 juta lebih sih (sewa lahan sama kandang), kambing ini saya 50 ekor, modalnya kisaran Rp 100 juta lebih,” kata Mamo.
Bergeser ke daerah Pengadegan, Jakarta Selatan, di sana kumparanBisnis menghampiri Mukhlis (56) yang membuka lapak di halaman rumahnya. Terkait tren penjualan, Mukhlis memang tak menyebut spesifik soal adanya peningkatan.
Meski demikian, ia menyebut saat ini masih banyak orang yang membeli hewan kurbannya walau menurutnya situasi ekonomi sedang kurang baik.
“Mungkin karena situasi ekonomi juga kurang bagus saat ini kan. Musim-musim anak sekolah biasanya memang agak berkurang. Tapi kelihatannya sih kalau untuk ibadah rata-rata masih banyak,” ujarnya.
Menurut dia, biasanya orang yang membeli hewan kurban memang biasanya sudah memiliki persiapan sejak lama.
“Memang ya kondisi seperti ini kita nggak bisa tebak sih ya. Karena kalau kurban ini kan ibadah. Kadang-kadang orang sudah menyiapkan dari awal-awal sebelumnya gitu. Jadi kita nggak bisa tebak karena kurban ini kan ibadah. Jadi mereka kadang-kadang Alhamdulillah sih kalau menurut saya,” kata Mukhlis.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5750646/original/024482600_1778651153-42-kasus-pelecehan-seksual-pada-anak-terjadi-di-januari.jpg)