Trump Ultimatum Mengerikan ke Iran: “Tanda Tangan atau Dimusnahkan!” Dunia Menunggu 24 Jam Penentuan

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam pada pertengahan Mei 2026. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengeluarkan ultimatum keras kepada Teheran sambil memperingatkan bahwa operasi militer lanjutan dapat segera dilakukan dalam waktu dekat.

Dalam wawancara terbaru bersama Fox News yang disiarkan pada Jumat, 16 Mei 2026, Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran dan menyebut tawaran tersebut “tidak dapat diterima”. 

Dalam kesempatan itu, Trump juga mengungkap bahwa militer Amerika telah melancarkan berbagai operasi besar terhadap target-target Iran, termasuk sejumlah sasaran strategis yang sebelumnya sengaja “ditahan” untuk tidak diserang, namun kini mulai dipertimbangkan kembali sebagai target operasi berikutnya.

Pernyataan Trump langsung memicu perhatian internasional karena muncul di tengah meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pentagon Konfirmasi 50 Ribu Tentara AS Siaga di Timur Tengah

Pada minggu yang sama, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan kesaksian di hadapan Kongres AS terkait perkembangan situasi Timur Tengah.

Dalam keterangannya, Hegseth mengonfirmasi bahwa Pentagon telah menyiapkan berbagai rencana kontingensi untuk menghadapi kemungkinan eskalasi konflik lebih lanjut dengan Iran.

Ia menyebut bahwa saat ini terdapat sekitar 50 ribu personel militer Amerika Serikat yang telah ditempatkan di berbagai titik strategis di kawasan Timur Tengah.

Meski kapal induk USS Gerald R. Ford dilaporkan mulai melakukan perjalanan kembali ke Amerika Serikat pada 16 Mei 2026, dua kelompok tempur kapal induk lainnya, yaitu USS Abraham Lincoln dan USS George H.W. Bush, masih tetap berada di kawasan Timur Tengah dalam status siaga tempur penuh.

Keberadaan dua kapal induk tersebut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Washington masih membuka kemungkinan operasi militer skala besar terhadap Iran.

Trump Singgung Penghancuran Fasilitas Nuklir Iran

Dalam beberapa pernyataannya, Trump juga kembali menyinggung kemungkinan dilakukannya operasi besar untuk menghancurkan fasilitas pengayaan uranium Iran yang berada jauh di bawah tanah.

Selain itu, ia secara khusus membahas operasi serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas pertahanan Iran di Pulau Khark, sebuah pulau yang menjadi pusat penting industri minyak Iran di Teluk Persia.

Trump mengatakan bahwa pasukan gabungan AS–Israel sebenarnya telah mampu menghancurkan hampir seluruh fasilitas strategis di pulau tersebut, namun sengaja tidak menyasar terminal minyak utama Iran.

“Kami menghantam seluruh fasilitas di Pulau Khark kecuali instalasi minyaknya. Mereka meratakan hampir seluruh pulau, hanya menyisakan terminal minyak untuk berjaga-jaga,” ujar Trump.

Pernyataan itu dinilai banyak pengamat sebagai bentuk tekanan psikologis terhadap Iran sekaligus sinyal bahwa Amerika masih menahan sebagian kekuatan militernya.

Ultimatum Trump dari Beijing: “Kesabaran Saya Hampir Habis”

Saat berada di Beijing pada Kamis, 16 Mei 2026, Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras kepada Iran.

Ia mengatakan bahwa kesabarannya terhadap Teheran sudah hampir habis dan Iran kini hanya memiliki dua pilihan.

“Saya tidak akan bersabar lebih lama lagi. Sekarang mereka hanya punya dua pilihan: mencapai kesepakatan atau dimusnahkan.”

Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi bahwa Washington kemungkinan sedang mendekati tahap pengambilan keputusan akhir terkait operasi militer lanjutan.

Iran Ancam Terapkan “Pembukaan Berbayar” di Selat Hormuz

Di tengah meningkatnya tekanan dari Washington, Iran juga mengeluarkan ancaman baru terhadap jalur pelayaran internasional.

Pada 16 Mei 2026, Ketua Komite Keamanan Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menulis di platform X bahwa Iran telah siap menerapkan skema “pembukaan berbayar” di Selat Hormuz.

Iran juga mengancam akan menutup permanen jalur pelayaran bagi kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat.

Ancaman tersebut kembali meningkatkan ketegangan global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk melewati jalur sempit tersebut.

Ledakan Besar Guncang Israel, Iran Langsung Klaim Bertanggung Jawab

Pada hari yang sama, sebuah ledakan besar tiba-tiba mengguncang wilayah Israel dan langsung memicu perhatian luas.

Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan awan berbentuk jamur membumbung tinggi ke langit malam setelah ledakan besar terjadi di kawasan Beit Shemesh, sebelah barat Yerusalem.

Menurut laporan media Israel, ledakan tersebut diduga terjadi di fasilitas sensitif militer atau industri pertahanan.

Militer Israel dilaporkan segera menutup seluruh akses menuju lokasi dan membatasi masuknya kendaraan penyelamat ke area tersebut.

Lokasi ledakan disebut berada di salah satu fasilitas milik Tomer, perusahaan pertahanan milik negara Israel yang memproduksi sistem pendorong rudal, termasuk mesin roket serta komponen inti untuk sistem pertahanan dan serangan rudal.

Tidak lama setelah ledakan terjadi, Iran langsung mengklaim bahwa peristiwa tersebut merupakan hasil operasi yang dilakukan pihaknya.

Teheran menyebut fasilitas yang dihantam merupakan pabrik militer yang memproduksi mesin roket berat dan ringan, termasuk mesin rudal dan mesin untuk satelit seri tertentu.

Iran bahkan mengklaim seluruh fasilitas tersebut berhasil dihancurkan.

Namun hingga kini, klaim tersebut masih bersifat sepihak dan belum mendapat konfirmasi independen dari pihak internasional maupun pemerintah Israel.

AS Disebut Pertimbangkan Rebut Pulau Strategis Iran

Sementara itu, laporan media Inggris The Telegraph pada 16 Mei 2026 mengungkap bahwa sejumlah penasihat senior Trump kini sedang menekan Uni Emirat Arab agar memainkan peran lebih besar dalam konflik melawan Iran.

Salah satu usulan yang disebut sedang dipertimbangkan adalah rencana merebut Pulau Lavan di Teluk Persia.

Pulau tersebut merupakan titik strategis penting karena berada di jalur pelayaran utara Teluk Persia sekaligus menjadi lokasi salah satu terminal ekspor minyak utama Iran.

Sejumlah analis menilai bahwa wacana ini menunjukkan Washington kemungkinan tidak hanya mempertimbangkan operasi serangan udara semata, tetapi juga mulai mempelajari skenario operasi pendudukan wilayah strategis Iran.

Ekonomi Iran Disebut Memburuk

Di tengah tekanan geopolitik dan militer yang terus meningkat, pemerintah Iran juga menghadapi tekanan ekonomi dalam negeri yang semakin berat.

Pada 16 Mei 2026, Reuters melaporkan bahwa Iran secara mendadak mengumumkan rencana pembukaan kembali pasar saham nasional pada Selasa mendatang.

Pengumuman itu mengejutkan banyak pihak karena bursa saham Iran sebelumnya dihentikan sejak dimulainya operasi gabungan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran.

Meski pemerintah Iran mencoba menunjukkan bahwa situasi ekonomi tetap terkendali, sejumlah analis menilai langkah tersebut justru memperlihatkan tekanan besar yang sedang dihadapi Teheran.

Beberapa pejabat Iran bahkan disebut telah mengakui bahwa kondisi ekonomi negara itu kini berada dalam situasi yang sangat buruk.

Israel Bocorkan: Trump Bisa Putuskan Serangan Baru dalam 24 Jam

Pada hari yang sama, Trump kembali menyampaikan ancaman keras dalam wawancara bersama Business FM TV.

“Saya tidak tahu apakah Iran akan menandatangani kesepakatan. Tapi jika mereka tidak menandatanganinya, mereka akan menghadapi situasi yang sangat buruk. Sebaiknya mereka mencapai kesepakatan.”

Tak lama setelah itu, media Israel Channel 12 membocorkan informasi penting terkait perkembangan terbaru.

Berdasarkan penilaian militer dan intelijen Israel, Trump diperkirakan akan mengambil keputusan resmi dalam waktu 24 jam mengenai apakah Amerika Serikat akan meluncurkan operasi militer lanjutan terhadap Iran.

Seorang pejabat senior Israel bahkan mengatakan bahwa militer Israel telah bersiap menghadapi babak konflik baru yang berpotensi berlangsung jauh lebih lama.

Menurutnya, konflik berikutnya kemungkinan bukan hanya berupa serangan udara singkat, melainkan dapat berkembang menjadi operasi militer yang berlangsung selama beberapa hari bahkan beberapa minggu.

Karena selama ini Amerika Serikat dan Israel dikenal memiliki koordinasi strategi militer yang sangat erat, perkembangan situasi Iran dalam 24 jam ke depan kini menjadi perhatian utama dunia internasional. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gudang di Cengkareng Jakbar Terbakar, 19 Unit Damkar Dikerahkan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kronologi Terbongkarnya Oknum Kiai Pengasuh Ponpes di Ponorogo Cabuli 13 Santri
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
BRI Super League: Bahagianya Mauro Zijlstra Bisa Kembali Bermain setelah Absen 2 Bulan Lebih
• 4 jam lalubola.com
thumb
Perdana Idul Adha Tanpa Anak-anak, Ashanty Titipkan Arsy dan Arsya ke Aurel
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Rupiah Tembus RP 17.600, Presiden Prabowo Panggil Sejumlah Menteri ke Istana
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.