Arifah Fauzi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengajak seluruh kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) lebih mewaspadai dampak negatif media sosial, seperti kekerasan berbasis online yang mengancam perempuan dan anak.
Dia menegaskan bahwa orangtua memiliki tugas untuk meningkatkan literasi digital dalam lingkup keluarga, guna meminimalisir kekerasan berbasis online.
“Kejahatan berbasis online saat ini tidak hanya mengancam anak-anak, tetapi juga memengaruhi pola asuh, moralitas, dan ketahanan keluarga. Orang tua perlu meningkatkan literasi digital dan memahami aktivitas anak di ruang digital agar anak terhindar dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi daring,” ujar Menteri PPPA saat berbicara di depan ribuan jamaah pada peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU dengan tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian dan Meneduhkan Peradaban, di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Jawa Timur.
Menurutnya, peran ibu dan keluarga sangat penting dalam membangun lingkungan yang aman, sehat, dan berkualitas bagi anak. Khususnya di tengah teknologi digital, yang membawa tantangan baru dalam pengasuhan anak dan perlindungan perempuan.
“Ibu-ibu juga harus belajar menggunakan media sosial secara bijaksana karena jika tidak digunakan dengan baik, dampaknya sangat besar bagi anak-anak dan keluarga. Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Ketahanan keluarga harus kita jaga bersama,” ujar Menteri PPPA melalui keterangan resminya, Senin (19/5/2026).
Menteri PPPA mengajak Muslimat NU yang telah berperan dalam pembangunan bangsa, untuk terlibat aktif dalam penguatan pendidikan keluarga, perlindungan perempuan dan anak, serta pemberdayaan masyarakat hingga tingkat akar rumput.
Sementara itu, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur mengapresiasi Muslimat NU di Jawa Timur yang aktif mengelola taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ), panti asuhan, hingga layanan kesehatan melalui rumah sakit dan klinik yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Selain itu, kiprah Muslimat NU juga berkembang melalui peran Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Muslimat NU yang aktif di berbagai negara, seperti Malaysia, Jepang, Hongkong, dan Inggris.
“Ini menjadi bagian dari kekuatan Muslimat NU dalam menjaga pendidikan, pelayanan sosial, dan tradisi Ahlusunnah Waljamaah di tengah masyarakat, termasuk bagi warga Indonesia di luar negeri,” ujar Gubernur Jawa Timur.(lea/wld/ham)




