Trump Batalkan Serangan Baru ke Iran Usai Dibujuk Negara-negara Teluk

detik.com
7 jam lalu
Cover Berita
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim telah membatalkan serangan baru terhadap Iran pada Selasa (19/05) atas permintaan negara-negara Teluk karena "negosiasi serius kini sedang berlangsung".

Dalam sebuah unggahan di Truth Social, ia mengatakan telah dibujuk oleh para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab agar tidak melancarkan serangan baru ke Iran.

Menurut Trump, dirinya telah diberi tahu bahwa sebuah kesepakatan yang "sangat dapat diterima" oleh AS akan tercapai. Dia menambahkan bahwa "TIDAK ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!"

Namun dia memperingatkan AS akan siap "melanjutkan dengan serangan penuh berskala besar terhadap Iran, dalam sekejap" jika tidak ada kesepakatan yang dapat diterima.

Ini adalah kesekian kalinya Trump membuat ancaman terhadap Iran. Pada Maret lalu, misalnya, Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik di Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz. Namun, ancaman itu tidak terwujud dan berujung pada gencatan senjata.

Seorang komandan militer senior Iran memperingatkan agar AS tidak melakukan "kesalahan strategis dan salah perhitungan lagi".

Pengumuman terbaru Trump mengenai Iran muncul ketika jajak pendapat menunjukkan tingkat popularitasnya menurun dan perang melawan Iran makin tidak mendapat sokongan di dalam negeri.

Apa hasil jajak pendapat terbaru?

Sekitar 64% responden meyakini keputusan berperang melawan Iran adalah keputusan yang salah, menurut jajak pendapat New York Times/Siena yang dipublikasikan pada Senin (18/05).

Survei tersebut juga menemukan bahwa hanya 37% responden yang menyetujui kinerja Trump sebagai presiden.

Baca juga:

  • Selat Hormuz, Iran, hingga isu Taiwan Apa saja kesepakatan Trump dan Xi Jinping?
  • AS gempur fasilitas militer Iran setelah serangan terhadap kapal perang AS-Iran masih gencatan senjata?
  • Trump perpanjang gencatan senjata tapi tidak cabut blokade Selat Hormuz

Hasil jajak pendapat ini menyoroti tantangan yang dihadapi Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu, di tengah meningkatnya ketidaksetujuan publik terhadap perang serta penanganan Trump terhadap masalah ekonomi dan imigrasi.

Pasukan Israel dan AS memulai serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke Israel dan target AS di negara-negara Teluk.

Mengapa negara-negara Teluk membujuk Trump?

Faktor utama yang berperan adalah kekhawatiran negara-negara Arab di kawasan Teluk tentang potensi serangan balasan Iran jika AS kembali melancarkan gempuran.

Iran diketahui masih memiliki banyak drone dan rudal yang dapat digunakan untuk melanjutkan serangan terhadap negara-negara tetangga, bandara mereka, fasilitas petrokimia, dan bahkan instalasi desalinasi yang menyediakan air minum saat suhu musim panas di kawasan Teluk meningkat.

Baca juga:

  • 'Diawali dari bengkel kecil pada 1980-an' Bagaimana Iran mengembangkan persenjataan drone?
  • Armada 'nyamuk' Iran menantang Angkatan Laut AS di Selat Hormuz

Iran juga terus menguasai Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia.

Blokade Selat Hormuz, yang menurut Iran sebagai pembalasan atas serangan AS dan Israel, telah mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Di pihak lain, AS telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk memberikan tekanan kepada Teheran agar menyetujui persyaratannya.

Bagaimana reaksi Iran?

Kantor berita Tasnim di Iran mempublikasikan komentar Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, yang memperingatkan bahwa front baru akan dibuka di tempat yang tidak dikuasai musuh dan sangat rentan.

Tasnim tampaknya memuat ulang kutipan Khamenei dari 12 Maret. Beberapa media Iran diketahui kembali mempublikasikan pesan tertulisnya.

Pada Senin (18/05), pemerintah Iran mengatakan telah menanggapi proposal terbaru AS dan bahwa pembicaraan dengan Washington terus berlanjut melalui Pakistan sebagai mediator.

Media Iran sebelumnya melaporkan bahwa AS gagal memberikan konsesi konkret kepada Teheran.

Baca juga:

  • Iran punya persediaan uranium yang diperkaya Tetapi apakah bisa menciptakan senjata nuklir?
  • Teheran tak akan pernah melepaskan kendali Selat Hormuz, kata politisi senior Iran kepada BBC

Esmail Baghaei, juru bicara kementerian luar negeri Iran, menegaskan bahwa tuntutan pemerintah Iran "bertanggung jawab" dan "dermawan".

Menurut kantor berita Tasnim, tuntutan Iran mencakup penghentian perang di semua front, merujuk pada serangan Israel yang terus berlanjut terhadap Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, dan jaminan tidak ada serangan lebih lanjut terhadap Iran.

Ada pula tuntutan kompensasi atas kerusakan akibat perang dan penegasan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Kantor berita Fars di Iran melaporkan bahwa Washington telah menetapkan lima syarat sebagai tanggapan terhadap proposal Teheran.

Syarat tersebut dilaporkan mencakup tuntutan agar Iran hanya mempertahankan satu fasilitas nuklir yang beroperasi dan memindahkan stok uranium yang diperkaya tinggi ke AS.

Pada Jumat (15/05), Trump mengisyaratkan akan menerima penangguhan program nuklir Iran selama 20 tahun yang merupakan titik perselisihan utama antara kedua negara.

AS dan sekutu-sekutu Eropanya mengklaim Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir dengan memperkaya uranium.

Teheran berulang kali mengatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

>


(nvc/nvc)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Borneo FC Terpeleset di Jepara! Fabio Lefundes Akui Situasi Makin Sulit usai Gagal Kejar Persib
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
30 Lampu Jalan di Jalan Raya Bogor Jaktim Mati akibat Kabel Dicuri
• 51 menit lalukompas.com
thumb
Ketua IDAI Ingatkan Dampak El Nino Terhadap Kesehatan Anak
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Satu Drone Lolos dan Meledak Dekat PLTN Barakah — Timur Tengah Langsung Gempar
• 7 jam laluerabaru.net
thumb
Tom Francis Dikabarkan Ikut Audisi Jadi James Bond Baru
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.