EtIndonesia— Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali mengalami peningkatan eskalasi setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk meluncurkan kembali operasi militer terhadap Iran. Perkembangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Trump menyelesaikan kunjungan diplomatik pentingnya ke Tiongkok.
Menurut laporan media Amerika, Fox News, Trump dijadwalkan melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu padai Minggu, 17 Mei 2026. Percakapan tersebut dipandang sebagai salah satu komunikasi paling penting dalam beberapa pekan terakhir, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan potensi pecahnya konflik besar di kawasan Timur Tengah.
Netanyahu: “Kami Siap Menghadapi Berbagai Skenario”
Dalam pernyataannya pada Minggu pagi, Netanyahu menegaskan bahwa Israel saat ini terus memantau perkembangan situasi Iran dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi.
Ia menyebut bahwa dirinya akan kembali berbicara dengan Presiden Trump seperti yang selama ini rutin dilakukan beberapa hari sekali.
“Saya akan berbicara dengan sahabat kami, Presiden Trump, seperti biasanya setiap beberapa hari sekali. Saya tentu ingin mendengar kesannya setelah kunjungan ke Tiongkok, dan mungkin kami juga akan membahas hal-hal lain. Banyak kemungkinan sedang berkembang, dan kami telah siap menghadapi berbagai skenario,” ujar Netanyahu.
Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian internasional karena disampaikan di tengah berbagai laporan intelijen yang menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Iran Disebut Tetap Blokade Selat Hormuz dan Pertahankan Program Nuklir
Laporan intelijen kawasan yang dikutip Fox News menyebutkan bahwa Iran hingga kini masih mempertahankan blokade di Selat Hormuz serta menolak menghentikan pengembangan program nuklirnya.
Kondisi ini disebut semakin membuat pemerintahan Trump kehilangan kesabaran terhadap strategi Teheran. Beberapa sumber di Washington menyebut bahwa opsi operasi militer kini kembali menjadi pembahasan serius di lingkaran keamanan nasional Amerika Serikat.
Sejumlah pengamat menilai bahwa bila negosiasi tidak menunjukkan kemajuan dalam waktu dekat, maka kemungkinan dimulainya kembali serangan militer terhadap target-target Iran akan semakin besar.
Iran Tunjuk Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai Utusan Khusus untuk Tiongkok
Di tengah meningkatnya tekanan internasional, media Iran melaporkan bahwa Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf kini ditunjuk sebagai perwakilan khusus urusan Tiongkok.
Penunjukan ini menarik perhatian karena Ghalibaf belakangan juga diketahui menjadi salah satu tokoh utama Iran dalam jalur negosiasi dengan Amerika Serikat.
Banyak analis menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa Teheran kini berusaha menghubungkan dua jalur diplomasi sekaligus: negosiasi dengan Washington dan kerja sama strategis dengan Beijing.
Iran disebut berharap pengaruh Tiongkok dapat membantu memecahkan kebuntuan dalam perundingan dengan Amerika Serikat, terutama terkait sanksi ekonomi, jalur perdagangan energi, dan isu nuklir.
Namun di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terus memperkuat kesiapan militernya di kawasan Timur Tengah.
AS dan Israel Tingkatkan Persiapan Militer
Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai laporan menyebut bahwa Washington dan Tel Aviv telah meningkatkan kesiapan operasi militer terhadap fasilitas nuklir dan sistem rudal Iran.
Penambahan pasukan, pengerahan kapal perang, hingga peningkatan aktivitas intelijen disebut terus berlangsung di kawasan Teluk dan Laut Arab.
Para pengamat keamanan internasional menilai risiko pecahnya konflik berskala besar kini berada pada titik yang sangat tinggi.
Menurut mereka, tanda-tanda persiapan perang mulai terlihat semakin jelas, baik dari sisi diplomatik maupun militer.
Drone Serang Area PLTN Barakah di UEA
Ketegangan kembali meningkat setelah pada 17 Mei 2026 pagi, tiga drone dilaporkan memasuki wilayah udara Uni Emirat Arab dari arah perbatasan barat.
Menurut laporan awal, dua drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara, namun satu drone lainnya berhasil menghantam generator listrik di area luar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah dan memicu kebakaran.
Pemerintah UEA menyatakan bahwa insiden tersebut tidak menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan pada fasilitas reaktor utama.
Meski demikian, Abu Dhabi mengeluarkan pernyataan keras dan menegaskan bahwa negaranya memiliki hak penuh untuk merespons serangan tersebut.
Pemerintah UEA menyatakan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan demi melindungi keamanan nasional, kedaulatan wilayah, dan keselamatan rakyatnya sesuai hukum internasional.
Iran Dinilai Sedang “Bermain Api”
Sejumlah analis keamanan Timur Tengah menilai bahwa bila nantinya terbukti Iran berada di balik serangan drone tersebut, maka situasi dapat berubah menjadi sangat berbahaya.
Mereka memperingatkan bahwa serangan terhadap area yang berkaitan dengan fasilitas nuklir sipil dapat memicu respons militer besar dari negara-negara Teluk maupun Amerika Serikat.
Beberapa pengamat bahkan menyebut Iran saat ini sedang “bermain api” karena terus meningkatkan tekanan regional di saat militer Amerika dan Israel berada dalam kondisi siaga tinggi.
Menurut mereka, dalam beberapa hari mendatang bukan tidak mungkin akan muncul serangan lanjutan maupun operasi balasan yang lebih besar.
CENTCOM Ungkap Operasi Laut terhadap Iran
Sementara itu, United States Central Command pada Minggu, 17 Mei 2026, juga mengungkap perkembangan terbaru operasi maritim Amerika Serikat di kawasan.
CENTCOM menyatakan bahwa sejak dimulainya operasi blokade terhadap Iran pada 13 April 2026, militer AS telah melakukan modifikasi terhadap 81 kapal dagang dan membuat empat kapal lainnya lumpuh.
Komando militer AS tersebut juga mengonfirmasi bahwa kelompok amfibi Tripoli Amphibious Ready Group saat ini tengah menjalankan operasi di Laut Arab sebagai bagian dari tekanan militer terhadap Iran.
Aktivitas armada tersebut semakin memperkuat spekulasi bahwa Washington sedang menyiapkan skenario yang lebih besar apabila situasi dengan Iran terus memburuk.
Dengan meningkatnya aktivitas militer, komunikasi intensif antara Washington dan Tel Aviv, serta serangkaian insiden keamanan di kawasan Teluk, banyak pihak kini menilai Timur Tengah sedang memasuki salah satu fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. (***)





