REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA— Seringkali kita mendengar seseorang melontarkan pujian ke seseorang bahkan hingga pada taraf berlebihan.
Dan ternyata, memuji berlebihan bukanlah perkara yang baik menurut Islam. Rasulullah SAW secara khusus pernah memperingatkan bahaya terlalu tinggi memuji seseorang.
Baca Juga
Yang Ditutup-tutupi Israel di Balik Slogan Militer Paling Bermoral di Dunia
Terbunuhnya Sang Penggembala Kambing Seusai Bongkar Pangkalan Militer Rahasia Israel di Irak
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Zurai'] dari [Khalid Al Hadzdza`] dari [Abdurrahman bin Abu Bakrah] dari [ayahnya] berkata, “Seseorang memuji orang lain didekat Nabi SAW lalu beliau bersabda, "Cekalah kamu, kau memotong leher temanmu, kau memotong leher temanmu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Beliau mengucapkannya berkali-kali. Bila salah seorang dari kalian memuji temannya -tidak mustahil- hendaklah mengucapkan, 'Aku kira fulan, dan Allah yang menilainya, aku tidak menyucikan seorang pun atas Allah, aku mengiranya -bila ia mengetahuinya- seperti ini dan itu.'" (HR Muslim)
Imam an-Nawawi dalam kitab Fath al-Bari fi Syarh ash-Shahih al-Bukhari, mengutip pernyataan Ibnu Bathal, menjelaskan sebagai berikut:
حاصل النهي أن من أفرط في مدح آخر بما ليس فيه، لم يأمن على الممدوح العجب لظنه أنه بتلك المنزلة، فربما ضيع العمل والازدياد
من الخير اتكالًا على ما وُصف به
"Inti dari larangan ini adalah bahwa siapa pun yang berlebihan dalam memuji orang lain dengan hal-hal yang sebenarnya tidak dimilikinya, maka orang yang dipuji itu tidak akan terhindar dari kesombongan karena mengira dirinya memang berada pada derajat tersebut, sehingga mungkin saja dia mengabaikan amal dan kesempatan untuk menambah kebaikan karena terlalu mengandalkan pujian yang diterimanya"
Infografis Bahaya Pujian Menurut Imam Al Ghazali - (Republika.co.id)