Manajemen Tempo buka suara ihwal jurnalisnya, Andre Prasetyo Nugroho, yang diduga diculik tentara Israel. Tempo berharap segera ada kabar baik bagi Andre yang kini belum diketahui keberadaannya itu.
Corporate Secretary PT Tempo Inti Media, Jajang Jamaludin, mengatakan, Andre yang berlayar dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) masih rutin memberikan kabar hingga Sabtu (16/5). Andre mulai berlayar sejak 12 Mei dalam misi tersebut.
"Sepanjang perjalanan, tim kami di kantor dan Andre selalu komunikasi ya secara rutin dengan jadwal yang disepakati, sehari minimal dua kali komunikasi kalau tidak ada situasi darurat gitu. Dan itu terjadi sampai hari Sabtu terakhir ya," ujar Jajang pada saat live TikTok kumparan, Selasa (19/5).
Pada Sabtu (16/5), Andre sempat memberi kabar situasinya memang sudah masuk protokol darurat atau memasuki zona merah.
"Dia mengabarkan sudah masuk zona merah gitu dan satu per satu kapal relawan yang membawa bantuan kemanusiaan di-intercept oleh tentara Israel. Sampai akhirnya kami kehilangan kontak setelah Sabtu malam itu," jelas Jajang yang pernah menjadi Pemred Koran Tempo.
Tempo sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak yang memiliki otoritas baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, Tempo juga berkoordinasi dengan Dewan Pers dan manajemen Republika yang jurnalisnya juga diculik.
"Dengan Kementerian Luar Negeri juga kami coba koordinasi itu memang lebih penting sih buat kami untuk memastikan keselamatan Andre," imbuh mantan Redaktur Hukum Majalah Tempo ini.
Jajang juga memohon doa kepada masyarakat Indonesia agar para jurnalis dan tim relawan Global Sumud Flotilla (GSF) segera kembali dengan selamat.
"Mohon doanya buat semuanya mudah-mudahan kita menemukan jalan yang terbaik untuk Andre dan semua tim relawan. Karena mereka pergi dengan misi sangat mulia ya, semestinya itu kan dapat perlindungan dari hukum internasional," harap Jajang.
Jajang juga meminta Pemerintah Indonesia dapat melakukan upaya terbaiknya demi menyelamatkan para jurnalis dan relawan yang saat ini diculik Israel.
"Pemerintah kan punya kewajiban untuk melindungi semua warga negara baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Kami percaya itu karena Kementerian Luar Negeri sendiri kan punya Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia ya. kami akan koordinasi terus dengan direktorat tersebut untuk mencari jalan terbaik buat Andre dan semua tim yang berasal dari Indonesia," kata Jajang.
Kapal-kapal misi perdamaian Global Sumud Flotilla dicegat tentara Israel di perairan internasional saat membawa bantuan ke Gaza pada Senin (18/5). Sejumlah WNI pun kini diduga diculik para tentara itu.
Berikut daftar para WNI yang diduga diculik, didapatkan dari Global Sumud Flotilla:
Thoudy Badai (Jurnalis Republika) - Kapal Ozgurluk
Rahendro Herubowo - Kapal Ozgurluk
Bambang Noroyono (Jurnalis Republika) - Kapal Boralize
Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis TV Tempo) - Kapal Ozgurluk
Andi Angga (Aktivis) - Kapal Josef
Selain itu, ada sejumlah WNI yang masih berlayar. Mereka adalah:
Ronggo Wirasnu (Aktivis) - Kapal Zefiro
Herman Budianto (Aktivis) - Kapal Zefiro
As'ad Aras (Aktivis) - Kapal Kasri Sadabat
Hendro Prasetyo (Aktivis) - Kapal Kasri Sadabat
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia mengecam militer Israel, yang mencegat rombongan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan Siprus, Mediterania Timur.
"Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," kata Jubir Kemlu, Yvonne Mewengkan, lewat keterangannya, Senin (18/5).





