Pegiat media sosial Zulfery Yusal Koto atau Ferry Koto menilai terdapat satu instrumen yang belum digunakan Bank Indonesia (BI) untuk menekan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yakni menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate).
Selama beberapa bulan terakhir, BI mempertahankan suku bunga di level 4,75%. “Ada satu lagi instrumen yang belum dikeluarkan BI, yaitu menaikkan suku bunga,” tulis Ferry di akun X pribadinya, Selasa (19/5).
Namun keputusan BI untuk menahan BI-Rate juga memiliki alasan kuat, yakni menjaga sektor riil dan kredit perbankan agar tetap bergerak demi mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. “
“Instrumen ini berisiko bagi dunia usaha. Mungkin rupiah bisa menguat, tapi kalau tidak, sentimen negatif tetap tinggi, malah makin double kill bagi dunia usaha,” imbuhnya
Ferry menambahkan, BI sejatinya sudah melakukan berbagai langkah strategis untuk menahan pelemahan rupiah. “BI sudah intervensi lebih dari 10 miliar dolar, sudah terbitkan SRBI dan SVBI untuk menarik dolar dan menahan laju jatuh rupiah. Tapi faktanya rupiah tetap tertekan,” jelasnya.
Karena itu, ia menolak desakan Anggota Komisi XI DPR dari PAN, Primus Yustisio, yang meminta Gubernur BI Perry Warjiyo mundur dari jabatannya. “Orang bahlul, dipikir BI yang sebabkan rupiah melemah. Kalau tekanan ke rupiah terjadi, BI itu justru menjaga agar tidak ambrol. Kalau Pak Perry ndak kerja, sudah dari kemarin-kemarin rupiah ambrol ke Rp18–19 ribu,” tegas Ferry.
Sebelumnya, Primus Yustisio mendesak Perry Warjiyo mundur saat rapat kerja Komisi XI DPR dengan jajaran BI di Jakarta, Senin (18/5/2026). Menurutnya, mundurnya Perry merupakan bentuk tanggung jawab atas melemahnya rupiah.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Bergerak Kisaran Rp17.600-Rp17.700, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga BI
Baca Juga: Viral Rupiah Diprediksi Sentuh Rp17.845 di 17 Agustus, Makin Dihajar Dolar
“Pak Perry yang saya hormati, kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan, Pak. Mungkin sudah saatnya Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah, selanjutnya terserah Bapak tentu saja,” ucapnya.
Primus menilai langkah tersebut akan lebih dihormati publik, sebagaimana tradisi di Korea dan Jepang. “Kalau Anda tidak bisa melakukan tugas dengan baik, mungkin sudah saatnya mengundurkan diri,” ujarnya.





