Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut, meningkatnya intensitas konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat inisiatif bantuan kemanusiaan untuk Gaza melalui BoP cenderung terabaikan atau “left behind”.
Hal itu disampaikan Sjafrie dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Senayan, Jakarta, Selasa (19/5).
“Sebagaimana diketahui, bahwa BoP itu adalah suatu inisiatif dari Presiden AS untuk membantu Palestina di Gaza. Dan kita tahu korban yang timbul mungkin sudah hampir 80 ribu jiwa yang korban di Gaza,” kata Sjafrie.
Ia mengatakan inisiatif tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel terkait konflik di Gaza. Menurut dia, Indonesia juga mendapat apresiasii dari Presiden AS karena dinilai memiliki perhatian besar terhadap isu kemanusiaan di Gaza.
“Nah inilah yang membuat Indonesia juga mendapat suatu apresiasi dari Presiden AS, bahwa Presiden Indonesia yang mayoritas jumlah penduduknya itu islam, tapi dia sangat memperhatikan masalah kemanusiaan di Gaza,” ujarnya.
Sjafrie menuturkan, Indonesia kemudian dilibatkan dalam BoP bersama sejumlah negara Arab dengan sejumlah prasyarat, termasuk menjaga eksistensi Hamas serta mencegahnya aktivitas militer yang dapat memperbesar korban sipil di Gaza.
“Indonesia berkonsultasi dengan prasyarat bahwa Hamas tetap kita jaga eksistensinya, kemudian juga jangan sampai terjadi kegiatan-kegiatan yang sifat kekuatan fisik yang bisa menimbulkan korban di Gaza,” tutur Sjafrie.
Ia mengatakan setelah itu Presiden AS membentuk ISF (International Stabilization Force) dan Indonesia turut masuk dalam skema tersebut. Namun, perkembangan geoplitik konflik Amerika-Iran yang tinggi membuat BoP dan ISF cenderung left behind (terabaikan).
“Namun, dinamika yang sekarang timbul karena masih terjadinya intensitas konflik antara Amerika dan Iran yang sangat tinggi, sehingga BoP cenderung left behind,” katanya.
“Karena BoP left behind, ISF juga left behind,” lanjut Sjafrie.
Meski demikian, Sjafrie menyebut Tentara Nasional Indonesia telah disiagakan jika sewaktu-waktu bergabung dengan ISF.
“Walaupun kita di Indonesia, Panglima TNI sudah menyiapkan brigade komposit untuk geostrategi dan geopolitik dan inisiatif Presiden AS belum mendapatkan suatu arahan implementasi, maka sampai saat ini ISF kita masih standby,” ujar Sjafrie.





