Emiten Prajogo Pangestu Jeblok, Harta Menguap Rp300 T, Masih Terkaya?

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu semakin dalam sepanjang tahun berjalan 2026. Hingga penutupan perdagangan sesi I pada hari ini Selasa (19/5/2026), mayoritas emiten afiliasi Grup Barito masih bergerak dalam tren pelemahan tajam secara year to date, bahkan beberapa di antaranya turun lebih dari 50%.

Pelemahan ini terjadi setelah pasar diguncang sentimen negatif hasil rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan sejumlah saham utama Grup Barito dari MSCI Global Standard Indexes.

Sebelumnya, MSCI resmi mendepak PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dari indeks global mereka.

Keputusan tersebut memperbesar tekanan jual terhadap saham-saham yang sebelumnya dikenal sebagai motor penggerak reli kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia.

Saham Prajogo Berguguran Secara Year to Date

Berdasarkan data perdagangan hingga sesi I tanggal 19 Mei 2026, saham-saham Grup Barito mencatat koreksi sangat dalam dibandingkan posisi awal tahun.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi saham dengan pelemahan terdalam setelah anjlok sekitar 71,79% secara year to date.

Baca: Obligasi Global Dibanting Investor, Dampaknya Menyeramkan!

Di posisi berikutnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga terpuruk sekitar 69,07% sepanjang tahun berjalan, PTRO turun sekitar 59,18% year to date, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melemah sekitar 55,43%, kemudian CDIA turun sekitar 47,60%, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi sekitar 38,84%.

Sebagai pembanding, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri terkoreksi sekitar 26,03% secara year to date. Artinya, mayoritas saham Grup Prajogo mengalami tekanan yang jauh lebih dalam dibandingkan koreksi pasar secara keseluruhan.

Efek MSCI dan Tekanan Likuiditas

Tekanan terhadap saham-saham Grup Barito semakin besar setelah MSCI melakukan evaluasi ketat terkait likuiditas dan tingkat free float emiten-emiten dengan kapitalisasi jumbo.

Dalam beberapa tahun terakhir, saham-saham Prajogo memang dikenal memiliki kapitalisasi pasar sangat besar dengan pergerakan harga yang agresif.

Fenomena ini bahkan sempat melahirkan istilah "kungfu Prajogo", yakni strategi pembentukan valuasi premium melalui struktur saham beredar yang relatif ketat.

Baca: Yield Surat Utang Dunia Tiba-Tiba Meledak, IHSG & Rupiah dalam Bahaya

Strategi tersebut berhasil mengangkat valuasi emiten-emiten Grup Barito secara signifikan dan sempat menjadikan Prajogo Pangestu sebagai salah satu orang terkaya di Asia pada valuasi saham tertingginya.

Namun kini, ketika sentimen global berubah dan standar likuiditas semakin diperketat, saham-saham dengan free float terbatas mulai menghadapi tekanan besar.

Investor global tidak lagi hanya melihat besarnya kapitalisasi pasar, tetapi juga kualitas likuiditas, distribusi kepemilikan saham publik, hingga kewajaran transaksi harian.

Kekayaan Prajogo Terus Menyusut

Koreksi tajam saham-saham Grup Barito turut berdampak langsung terhadap nilai kekayaan Prajogo Pangestu.

Sebelumnya, kekayaan Prajogo sempat mencapai puncaknya di kisaran US$ 43,5 miliar pada Oktober 2025 ketika saham-saham afiliasinya berada dalam fase euforia.

Namun setelah gelombang koreksi panjang dan tekanan akibat rebalancing MSCI, estimasi kekayaannya hingga hari ini tanggal 19 Mei 2026 turun hingga berada di kisaran US$ 17 miliar. Artinya, harta Prajogo sudah menguap US$ 26,5 miliar atau sekitar Rp 300,9 triliun.

Penurunan ini mencerminkan bagaimana valuasi saham yang sebelumnya melesat agresif kini mengalami normalisasi harga yang cukup tajam.

Penurunan ini juga membuat Prajogo terlempar dari 100 besar orang terkaya di dunia. Jika pada Oktober 2025 dia ada di peringkat 46 orang terkaya di dunia maka kini namanya hanya ada di nomor 164. 

Pasar Masuk Fase Baru

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai bergerak menuju fase yang lebih rasional. Reli berbasis narasi indeks global dan kapitalisasi jumbo kini mulai diuji oleh realitas likuiditas dan kualitas fundamental.

Koreksi dalam pada saham-saham Grup Barito juga memperlihatkan tingginya risiko ketika valuasi terlalu bergantung pada sentimen dan ekspektasi aliran dana pasif asing yang juga terintegrasi dengan ketakutan pasar akibat dikeluarkannya saham-saham tersebut dari Index.

Kini, investor juga masih dihantui dengan adanya penurunan nilai Rupiah dibandingkan dengan US$, potensi defisit melebih 3%, dan juga ketidakpastian kebijakan publik yang berpotensi merugikan investor sehingga sentimen buruk ini juga memberikan tekanan bagi IHSG maupun emiten-emiten di Indonesia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dinkes Karawang Minta Masyarakat Jaga Kebersihan Lingkungan Hindari Hantavirus
• 56 menit laluliputan6.com
thumb
Dua Rumah di Duren Sawit Jakarta Timur Terbakar Diduga Akibat Korsleting Listrik
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Kemlu Kecam Militer Israel yang Cegat dan Tangkap Kapal Misi Kemanusiaan ke Gaza
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Mendagri & Menteri PKP Luncurkan Program Bedah Rumah di Maluku & Bali-Nusra
• 56 menit laludetik.com
thumb
Siswa SMK di Yogya Bikin Motor Drag Listrik Kecepatan 134 Km per Jam
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.