Muhammad Rizki Saputra, siswa kelas XI Teknik Permesinan 2, SMK Muhammadiyah 3 Kota Yogyakarta (SMK Muga), tengah sibuk menyetel rantai sebuah motor berwarna biru muda.
Motor itu bukan motor biasa, tetapi motor listrik yang dikembangkan para siswa SMK Muga. Bodi samping motor bertuliskan "Mugatech" dilengkapi logo SMK ini di atas tangki.
Motor listrik itu berkonsep motor sport yang ramping. Pelek jari-jari dibalut ban berukuran kecil selayaknya motor drag atau motor untuk balapan trek lurus.
Di halaman samping sekolah, Rizki kemudian mencoba motor listrik ini. Meski di jalanan yang pendek, hentakan rantai yang kencang seakan jadi pertanda motor listrik ini punya kecepatan yang tinggi.
Pada 1 Mei 2026, motor telah diuji coba di kawasan Pantai Depok, Kabupaten Bantul. Kecepatannya mencapai 134,4 kilometer per jam. Jauh melampaui kecepatan motor listrik massal yang rata-rata di bawah 100 kilometer per jam.
Rizki pulalah pengendara yang berhasil menembus kecepatan 134,4 kilometer per jam ini.
"Kemarin bisa kecepatan segitu karena baterainya full itu sudah termasuk yang terbaik itu," kata Rizki ditemui di sekolahnya, Selasa (19/5).
Salah satu sensasi yang dirasakan dari motor drag listrik ini adalah tak ada suara yang meraung-raung seperti motor konvensional.
Selain itu, meski di kecepatan tinggi motor sangat stabil. Namun, tetap ada hal yang perlu diperbaiki dari motor listrik ini.
"Yang pertama mungkin dari rangka masih terlalu berat, karena untuk drag kan kebanyakan rangka-rangka dientenginlah, karena buat mengurangi bobot atau apa pun itu. Dan masih perlu banyak revisi yang jelas, terutama dari baterai juga kurang besar," katanya.
Bagian Bikin TangkiMotor listrik ini dikerjakan secara gotong royong oleh puluhan siswa teknik permesinan. Rizki mendapat bagian membuat tangki.
"Untuk kesulitan, ya dikarenakan bapak saya juga memiliki bengkel di rumah, jadi sebagian untuk merakit saya rasa tidak ada kesulitan," katanya.
Rizki mengatakan, perakitan membutuhkan waktu sekitar enam bulan karena beberapa bahan terbatas.
"Enam bulan ada. Karena 80 persen dibuat sendiri. Mungkin yang komponen-komponen yang tidak bisa kita buat sendiri, kita beli dari luar," ujarnya.
Keberhasilan menciptakan motor drag listrik ini jadi kebanggaan Rizki dan teman-temannya. Proyek ini juga jadi bekal Rizki dan teman-temannya mengarungi dunia kerja kelak.
"Jelas ada rasa bangga tersendiri di kita, tentunya apalagi ini jerih payah dan rasa susah sendiri untuk membuat dan sampai bisa berakhir jadi seperti ini tuh sangat-sangat bangga ini kita," katanya.
Awal Mula Muncul IdeKetua Jurusan Teknik Permesinan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Hindro Harimawan, menuturkan proyek ini menghabiskan dana mencapai lebih dari Rp 30 juta.
Hindro menceritakan ide mengembangkan motor drag listrik ini berawal dari harga BBM yang kian hari makin mahal. Maka dari itu muncul ide membuat kendaraan yang ramah lingkungan.
Ide itu kemudian berkembang untuk menciptakan motor listrik yang memiliki kecepatan lebih tinggi. Ini selaras dengan kegemaran para siswa pada modifikasi motor.
"Akhirnya ide itu saya lontarkan ke para siswa, alhamdulillah mendapat tanggapan positif berhubung siswa-siswa kami di teknik mesin itu banyak yang hobi modifikasi motor," kata Hindro.
"Maka ide ini cukup mendapat perhatian yang positif sama anak-anak, sehingga anak-anak juga bersemangat. Maka kita mulai sejak tahun lalu sebetulnya, setahun yang lalu, kita buat, kita pelajari dulu desain-desain yang sudah ada. Kemudian kita aplikasikan ke motor listrik yang kita buat. Jadi, seperti itu latar belakangnya," ujarnya.
Desain motor ini diciptakan sendiri. Sementara beberapa komponen dibeli di pasaran seperti shockbreaker dan pelek.
"Siswa yang kita libatkan itu ada dua tingkat. Jadi kelas 11 dan kelas 12 yang kemarin lulus," katanya.
Ada siswa yang membuat tangki, ada yang membuat rangka, ada yang membuat pijakan kaki, dan lain sebagainya. Pola kerjanya dibuat mirip seperti di pabrik, dibagi tiap-tiap divisi.
Apa yang Bikin Kencang?Motor listrik yang dirancang dan dirakit oleh siswa ini menggunakan baterai lithium 72V 40Ah, motor mid-drive BLDC 4.000 watt, serta controller 72V 200A.
Hindro mengatakan rancangan motor yang ramping ini bikin motor bisa mencapai kecepatan maksimal.
"Jadi kita ini menggunakan dinamo, motor listriknya itu yang 4.000 watt. Kemudian, voltasenya 72,5. Kemudian kita buat rangkanya itu seramping mungkin gitu ya. Tidak terlalu berat. Walaupun sebetulnya komponen-komponen listriknya itu yang berat sebetulnya. Yang bikin berat itu sebetulnya komponen listrik. Misalnya baterainya itu sendiri beratnya 10 sampai 15 kilogram," katanya.
"Maka kita buat rangkanya seramping mungkin agar bisa lebih cepat gitu," katanya.
Saat disinggung apakah motor ini akan diproduksi massal, Hindro mengatakan secara regulasi cukup sulit. Namun, apabila ada yang memesan, kemungkinan pihaknya bisa membuatkan.
Kata Kepala SekolahKepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Kustejo, mengatakan sebelumnya sekolahnya telah memiliki bengkel konversi motor konvensional ke motor listrik.
Dengan karya ini, diharapkan bisa makin mengukuhkan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai SMK dengan unggulan karya motor listrik.
"Memang sudah sejak awal kita konsen terhadap perkembangan terkait dengan motor listrik itu. Tetapi waktu itu masih seputar konversi motor listrik, seperti itu," kata Kustejo.
"Kita pengin ke depan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta ini punya unggulan di inovasi terkait dengan motor listrik seperti itu. Lah, nek kemarin itu lebih konversi, kalau ini kan merangkai dari awal," pungkasnya.





