Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan berbagai komoditas strategis seperti liquefied petroleum gas atau LPG, kedelai, bawang putih, garam, dan gandum. Tingginya ketergantungan impor terhadap komoditas tersebut membuat ekonomi domestik sensitif terhadap penguatan dolar AS.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan masyarakat desa tidak perlu khawatir terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, warga desa tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.
“Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” kata Prabowo saat peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
Namun, sejumlah komoditas yang digunakan masyarakat desa sehari-hari masih sangat bergantung pada impor. Atas hal ini, pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah justru memberikan tekanan terhadap sistem dan harga pangan nasional.
Saat rupiah melemah, biaya impor bahan pangan, serta kebutuhan produksi ikut meningkat sehingga berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen.
Dosen Sosioekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Hani Perwitasari menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi menekan sistem pangan nasional.
Menurutnya, dampak pelemahan rupiah terhadap harga pangan bergantung pada kondisi pasokan dalam negeri. Komoditas dengan stok yang cukup cenderung lebih stabil, sedangkan komoditas dengan pasokan terbatas berpotensi mengalami kenaikan harga lebih tinggi.
“Komoditas yang paling rentan antara lain daging, telur, dan susu karena sulit digantikan sehingga lebih sensitif terhadap dampak depresiasi rupiah” kata Hani, dikutip Selasa (19/5).
Kondisi ini berkaitan erat dengan struktur pangan nasional yang masih mengandalkan impor. Hani menuturkan bahwa ketika produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan pasar, impor menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan pasokan.
Pelemahan rupiah membuat biaya impor menjadi lebih mahal karena transaksi pembelian dari luar negeri menggunakan dolar AS.
Misalnya, jika tahun lalu kurs rupiah masih sekitar Rp16.200 per dolar AS, maka untuk membeli barang senilai US$1 juta dibutuhkan sekitar Rp16,2 miliar. Namun saat rupiah melemah ke Rp17.700 per dolar AS, nilai pembelian yang sama naik menjadi Rp17,7 miliar.
Artinya, importir harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli barang dalam jumlah yang sama. Kenaikan biaya impor ini kemudian berpotensi mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri, terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor
Daftar Komoditas Utama yang Masih Bergantung pada Impor
Adapun Data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang tahun 2025 mencatat impor pangan berbasis dolar AS masih cukup besar.
1. Gandum
Ketergantungan impor paling tinggi terjadi pada gandum. Dari total kebutuhan sebesar 11,6 miliar kilogram, seluruhnya masih dipenuhi melalui impor karena Indonesia belum memiliki produksi gandum domestik.
Total nilai impor komoditas gandum dan serealias di Indonesia mencapai US$ 3,28 miliar atau setara Rp58,1 triliun (kurs Rp17.730 per US$).
2. Bawang Putih
Komoditas lain yang juga masih bergantung tinggi pada impor adalah bawang putih. Dari total kebutuhan sebesar 565,8 juta kilogram, sebanyak 526,3 juta kilogram berasal dari impor atau setara 93% kebutuhan nasional. Produksi domestik baru mencapai 39,4 juta kilogram.
Total nilai impor sepanjang tahun 2025 mencapai angka US$ 581,25 juta atau setara Rp 10,3 triliun Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan Indonesia masih membutuhkan impor bawang putih dalam beberapa tahun ke depan meski pemerintah tengah menjalankan program swasembada. Menurutnya, impor bawang putih baru bisa dihentikan dalam empat hingga lima tahun mendatang.
“Kalau bisa (swasembada bawang putih) empat tahun, paling lambat lima tahun,” kata Amran pada Februari (9/2) lalu.
3. Kedelai
Ketergantungan impor juga terjadi pada kedelai yang menjadi bahan baku utama tahu dan tempe. Total kebutuhan kedelai nasional mencapai 3,2 miliar kilogram, sementara impor mencapai 2,5 miliar kilogram atau sekitar 79,2% dari total kebutuhan.
Nilai impor komoditas kedelai Indonesia dari berbagai negara mencapai US$ 1,18 Miliar atau setara Rp20,92 triliun.
Amran mengakui kedelai menjadi salah satu komoditas dengan ketergantungan impor paling tinggi. Menurut dia, kebutuhan nasional mencapai 2,6 hingga 2,7 juta ton, sedangkan sebagian besar masih dipenuhi dari impor.
“Kalau kedelai, itu belum. Jauh. Ini kita impor 2,4 juta,” ujarnya minggu lalu (15/5).
4. Garam
Komoditas lain yang juga masih bergantung pada impor ialah garam. Dari total kebutuhan sebesar 3,7 juta ton, sebanyak 2,67 juta ton atau sekitar 72,1% masih dipenuhi dari impor.
Total nilai impor komoditas ini mencapai US$ 117,11 atau setara Rp 2,07 triliun.
5. Daging Merah
Sementara itu, kebutuhan daging merah nasional juga belum sepenuhnya dipenuhi produksi domestik. Dari total kebutuhan sebesar 907,7 juta kilogram, impor masih mencapai 408,6 juta kilogram atau sekitar 45%.
6. LPG
Selain pangan, ketergantungan impor juga terjadi pada energi rumah tangga berupa LPG. Total kebutuhan LPG nasional mencapai 9,41 juta ton, sedangkan produksi domestik hanya 1,92 juta ton. Artinya sekitar 79,6% kebutuhan LPG masih dipenuhi melalui impor.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih mencari cara untuk mengurangi impor LPG yang mencapai sekitar 7 juta ton per tahun. Menurutnya, keterbatasan bahan baku menjadi tantangan utama pengembangan industri LPG nasional.




