DUNIA hari ini sedang tidak baik-baik saja. Gejolak geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur terus memanas. Inflasi global masih menghantui banyak negara.
Harga energi dan pangan naik turun tanpa kepastian. Di media sosial, berbagai spekulasi tentang pelemahan rupiah bahkan kembali memunculkan trauma lama bangsa Indonesia terhadap Krisis Moneter 1998.
Bagi generasi yang pernah melewati masa itu, krisis 1998 bukan sekadar catatan sejarah. Itu adalah periode ketika ekonomi runtuh dalam waktu singkat.
Nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp 2.400 per dolar AS anjlok hingga menembus Rp 17.000.
Perusahaan besar tumbang karena terlilit utang dolar. Bank kolaps. Pengangguran melonjak. Daya beli masyarakat jatuh bebas.
Namun di tengah kekacauan tersebut, ada satu fakta penting yang sering terlupakan: Desa justru menjadi benteng terakhir ekonomi nasional.
Saat sektor keuangan di kota besar lumpuh, ekonomi desa tetap bergerak. Petani tetap menanam.
Nelayan tetap melaut. Pasar tradisional tetap hidup. Masyarakat desa tetap bertransaksi menggunakan rupiah.
Fakta inilah yang kembali relevan di tengah situasi global tahun 2026.
Baca juga: Pesta Babi Tanpa Babi
Presiden kembali menegaskan pentingnya ekonomi berdikari saat Meresmikan 1.061 Koperasi Merah Putih di Surabaya pada Mei 2026.
Pesan yang disampaikan jelas: Indonesia tidak boleh terus menggantungkan nasibnya pada kekuatan asing. Fondasi ekonomi nasional harus bertumpu pada kekuatan domestik.
Konsep berdikari bukan berarti menutup diri dari dunia luar atau anti investasi asing.
Berdikari berarti memiliki daya tahan ekonomi sendiri sehingga ketika badai global datang, Indonesia tidak langsung tumbang.
Dalam konteks hari ini, jalan berdikari dibangun melalui penguatan koperasi dan UMKM, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan desa, penegakan hukum terhadap mafia ekonomi, dan pembangunan transportasi umum yang mampu menghubungkan seluruh rantai ekonomi nasional.
Sayangnya, aspek terakhir sering diabaikan. Banyak orang berbicara tentang ketahanan pangan, koperasi, dan UMKM, tetapi lupa bahwa semua itu hanya bisa berjalan jika mobilitas orang dan barang berjalan lancar.
Desa boleh menghasilkan produk, tetapi tanpa transportasi yang baik, hasil produksi tidak akan sampai ke pasar dengan biaya murah.
Karena itu, jika desa adalah benteng ekonomi Indonesia, maka transportasi umum adalah pembuluh darahnya.
Krisis 1998 memberi pelajaran mahal tentang bahaya ketergantungan terhadap modal asing dan utang valuta asing.
Banyak perusahaan besar Indonesia kala itu meminjam dolar karena dianggap lebih murah.
Ketika rupiah jatuh, cicilan utang mereka melonjak berkali-kali lipat. Perusahaan yang terlihat kuat akhirnya ambruk dalam waktu singkat.
Baca juga: Ironi Dominasi Kebenaran dalam Lomba Cerdas Cermat Pilar Kebangsaan
Sebaliknya, masyarakat desa relatif lebih tahan menghadapi guncangan. Aktivitas ekonomi mereka berbasis sektor riil dan menggunakan rupiah.
Petani membeli pupuk, menjual hasil panen, membayar tenaga kerja, dan bertransaksi di pasar tradisional menggunakan mata uang domestik. Mereka tidak terlalu terpapar gejolak pasar keuangan internasional.
Bahkan beberapa desa penghasil komoditas ekspor seperti kopi, kakao, dan udang justru memperoleh keuntungan besar ketika rupiah melemah karena harga ekspor meningkat.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor Pertanian pada masa krisis 1998 jauh lebih tahan dibanding industri manufaktur yang anjlok drastis.
Pelajaran tersebut kembali relevan hari ini. Ketika dunia menghadapi ketidakpastian global, penguatan desa menjadi strategi penting untuk membangun imunitas ekonomi nasional.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), revitalisasi koperasi, hilirisasi komoditas lokal, hingga penguatan UMKM pada dasarnya bertujuan agar uang negara lebih banyak berputar di dalam negeri.
Jika belanja APBN dan APBD terserap oleh produk lokal desa, maka ekonomi rakyat akan semakin kuat.
Uang tidak hanya berhenti di kota besar atau perusahaan besar, tetapi mengalir hingga tingkat kecamatan dan desa. Namun desa tidak bisa hidup sendiri.





