Bisnis.com, MALANG — Realisasi penyerapan beras petani oleh Bulog Malang mencapai 70.000 ton sampai pertengahan Mei 2026 dari target pengadaan tahun ini sebesar 76.000 ton.
Kepala Bulog Cabang Malang, M. Nurjuliansyah Rachman, mengatakan Bulog memastikan akan menyerap hasil panen padi petani yang belum terserap pasar di tengah tren surplus produksi baik nasional, regional, maupun lokal.
Produksi di wilayah Jawa Timur maupun Malang Raya tercatat meningkat. Data Angka Tetap BPS 2025 menunjukkan luas panen di Jatim mencapai 1,84 juta hektare dengan produksi 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah itu naik 12,60% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat 9,77 juta ton.
Berdasarkan rilis BPS per 4 Mei 2026, potensi produksi padi Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,62 juta ton GKG atau meningkat sekitar 5,28% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Menurut pria yang akrab disapa Anung itu, peningkatan produksi harus diimbangi dengan keberadaan off taker agar hasil panen petani tetap terserap. Karena itu, Bulog hadir untuk memastikan stabilitas penyerapan beras di tingkat petani.
“Bulog siap menyerap beras petani yang belum terserap pasar, tentu dengan syarat kualitas yang sudah ditetapkan seperti kadar air, tingkat patahan, dan HPP GKP Rp 6.500 per kilogram,” ujarnya, Selasa (19/5/2025).
Baca Juga
- 10.900 Ton Beras Digelontorkan, Bulog Cirebon Redam Tekanan Harga Pangan
- Stok Beras Bulog Jatim 1,3 Juta Ton
- Prabowo Sebut Banyak Negara Antre Beli Beras RI di Tengah Krisis Pangan Global
Dia mengemukakan wilayah kerja Bulog Malang serta daerah sekitar siap melakukan penyerapan secara maksimal selama musim panen berlangsung. Wilayah kerja Bulog Malang sendiri meliputi Malang Raya, Pasuruan, dan sekitarnya.
Pada 2025 lalu, Bulog Malang tercatat menyerap lebih dari 61.000 ton beras yang setara dengan 106% target. Realisasi penyerapan tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Timur.
Meski begitu, Anung mengakui masih ada sejumlah tantangan di sektor pertanian dan pascapanen. Salah satunya keterbatasan alat modern seperti combine harvester, dryer, hingga fasilitas penggilingan berskala besar.
“Potensi petani dan penggilingan lokal sebenarnya besar. Tetapi jumlah alat modern masih terbatas dan kapasitasnya belum besar. Fasilitas pascapanen juga masih minim. Ini yang perlu didorong agar mereka bisa naik kelas,” ujarnya.
Karena itu, Bulog terus menggandeng penggilingan lokal agar mampu berkembang dan meningkatkan kualitas produksi.
Menurutnya, keberadaan Bulog bukan sekadar membeli hasil panen, tetapi juga memperkuat ekosistem pangan secara berkelanjutan.
“Kami mengajak petani untuk lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi. Hasil panen sebaiknya juga diinvestasikan untuk alat pertanian modern. Dengan begitu, penyerapan hasil panen bisa lebih optimal dan kualitasnya meningkat,” tandasnya.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F05%2F19%2F463e1234ef0b898351d026cd7ffbecb7-20260519_150002.jpg)