Merawat Ruang Bermain Anak di Tengah Arus Digital

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Perkembangan era digital yang melaju begitu cepat membuat anak-anak semakin akrab dengan dunia virtual dan kian jauh dari ruang bermain bersama. Permainan tradisional yang dahulu menghadirkan kebersamaan, tawa, dan interaksi tatap muka perlahan ditinggalkan.

Fenomena ini mendorong berbagai upaya pelestarian dolanan anak sebagai cara mengenalkan kembali ragam permainan tradisional kepada generasi muda. Salah satunya melalui Festival Dolanan Anak 2026 di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kota Semarang, yang kembali digelar sebagai agenda tahunan pelestarian permainan tradisional.

Sejak pagi, suara riuh anak-anak terdengar di setiap sudut halaman kampus yang rindang. Sejumlah kelompok siswa dari berbagai sekolah tampak antusias mencoba aneka permainan tradisional yang bagi sebagian dari mereka menjadi pengalaman pertama, Selasa (18/6/2026).

Mereka memainkan bakiak, engklek, egrang, dakon, hingga gasing dengan diselingi candaan dan tawa. Azahra bersama tiga temannya, misalnya, berusaha menyamakan langkah saat bermain bakiak. Mereka harus menjaga kekompakan agar dapat berjalan beriringan tanpa terjatuh.

“Sebelumnya hanya pernah melihat dan ini baru pertama kali mencoba. Ternyata sulit kalau tidak ada aba-aba bersamaan,” katanya. Dari permainan sederhana itu, interaksi antaranak terbangun. Mereka sejenak melupakan gawai yang biasanya lekat di tangan dan larut dalam suasana bermain bersama.

Bagi banyak anak, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan juga ruang belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan membangun empati. Nilai-nilai tersebut dinilai mulai memudar seiring perubahan pola bermain anak yang kini lebih banyak dilakukan secara individual melalui perangkat digital.

Generasi kelahiran 1990-an ke bawah masih memiliki memori tentang keseruan bermain bersama pada masa ketika hiburan lebih banyak berasal dari televisi dan aktivitas luar ruang. Namun, generasi 2000-an ke atas tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan urbanisasi yang mengubah pola interaksi sosial anak-anak.

Kehadiran gawai bahkan disebut melahirkan “generasi menunduk”, istilah yang merujuk pada kebiasaan anak-anak maupun remaja yang nyaris tak lepas dari layar digital. Fenomena tersebut mendorong berbagai kalangan kembali menghidupkan permainan tradisional sebagai ruang interaksi sosial yang mulai berkurang.

Kepala Subdirektorat Konservasi Unnes, Nana Kariada Trimurti, yang menjadi salah satu penggagas Festival Dolanan Anak, mengatakan permainan tradisional perlu terus diinovasikan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. “Pada era digital ini kami ingin anak-anak tidak hidup dengan dirinya sendiri,” ujarnya.

Menurut Nana, pengenalan permainan tradisional dapat memberikan dampak nyata terhadap penguatan karakter, sportivitas, kreativitas, dan kebersamaan anak-anak. Festival itu bukan sekadar menghadirkan nostalgia, tetapi juga menjadi upaya merawat ruang interaksi sosial di tengah derasnya arus digital.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Alexander Marwata: Hakim yang Tetapkan Kerugian Negara di Perkara Korupsi
• 6 jam laludetik.com
thumb
Chery Perkenalkan Mobil Kompak Chery Q ke Pasar Tanah Air
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tim Pemburu Begal Tangkap 8 Pelaku, 3 di Antaranya Jambret WNA di Bundaran HI
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Mikha Angelo Tulis Pesan Menyentuh Usai sang Istri, Gregoria Mariska Tunjung Pamit dari Pelatnas
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Hasil Malaysia Masters 2026: Thalita Ramadhani ke Babak 32 Besar, Langkah Verrell/Aisyah Terhenti
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.