Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026) hari ini. Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya harga minyak global, ketidakpastian kebijakan moneter, serta sentimen pasar keuangan internasional.
Rupiah turun 38 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.706 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.668 per dolar AS.
Rully Nova analis Bank Woori Saudara menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk lonjakan harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) akan diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dolar,” ujarnya dilansir dari Antara.
Dari sisi global, tekanan tambahan datang dari ketatnya pasokan minyak dunia. Mengutip Anadolu, persediaan minyak komersial dilaporkan menurun cepat akibat dampak konflik di Timur Tengah, dengan stok yang tersisa hanya mencukupi beberapa pekan.
Pelepasan cadangan strategis pada Maret 2026 yang mencapai 2,5 juta barel per hari belum sepenuhnya menstabilkan pasar, sementara potensi gangguan pasokan dari Selat Hormuz masih menjadi risiko yang dapat memicu volatilitas harga energi global.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Ekspektasi ini turut menahan pergerakan rupiah di tengah tekanan eksternal yang meningkat.
“Dengan asumsi kurs di APBN Rp16.500 maka tambahan subsidi Rp150 triliun dengan kurs yang terus meningkat dan tidak ada kenaikan BBM subsidi,” kata Rully.
Selain faktor energi dan kebijakan moneter, tekanan rupiah juga datang dari meningkatnya ekspektasi inflasi di Amerika Serikat serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor 2 tahun tercatat di 4,105 persen, tenor 10 tahun di 4,631 persen, dan tenor 30 tahun di 5,159 persen, yang merupakan level tertinggi baru pada 2026.
Kondisi tersebut membuat minat investor asing terhadap obligasi Indonesia cenderung melemah karena selisih imbal hasil yang semakin menyempit dibandingkan obligasi AS.
“Pelemahan rupiah selain karena kebutuhan dolar musiman, saat ini juga dipengaruhi oleh minat pelaku pasar asing yang menurun terhadap obligasi pemerintah sejalan dengan selisih yield yang menipis dibanding dengan obligasi pemerintah AS,” ujarnya.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan ke level Rp17.719 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.666 per dolar AS. (ant/saf/faz)




