JAKARTA - Duta Besar (Dubes) Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, menyampaikan pesan kepada dunia internasional pada peringatan Hari Nakba ke-78. Pada kesempatan tersebut, Alsattari juga menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia sebagai negara yang setia membersamai perjuangan Palestina.
Nakba secara harfiah berarti bencana atau malapetaka dalam bahasa Arab. Peristiwa Hari Nakba menandai pembersihan etnis serta pengusiran paksa terhadap setidaknya 700 ribu warga Arab Palestina dari tanah air mereka oleh Israel.
Peristiwa kelam ini terjadi 78 tahun lalu, tepatnya pada 15 Mei 1948, dan dampaknya masih dirasakan hingga saat ini. Warga Palestina serta seluruh dunia memperingati Hari Nakba setiap tahunnya sebagai bagian dari sejarah kelam penjajahan Israel atas Palestina.
Dalam peringatan Hari Nakba ke-78, Indonesia turut bersimpati dengan mengadakan acara di Kedutaan Besar (Kedubes) Palestina untuk Indonesia, Jakarta pada Senin (18/5/2026). Peringatan itu dihadiri sejumlah tokoh termasuk Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari.
Acara dimulai dengan pembacaan doa serta mengheningkan cipta (moment of silence) untuk menghormati mereka yang gugur dalam peristiwa Hari Nakba. Abdalfatah pun menyampaikan pesan penting atas peringatan peristiwa kelam ini.
"Pesan kami hari ini di Hari Nakba, kami memperingati hari ini setiap tahun karena kami tidak dapat melupakan hari ketika Israel mulai menduduki tanah kami pada tahun 1948. Dan mereka membunuh serta melukai ribuan rakyat kami, lalu mengusir mereka keluar dari tanah airnya," kata Abdalfatah kepada awak media, termasuk iNews Media Group di Kedubes Palestina, Jakarta pada Senin (18/5/2026).
"Jadi, kami berbicara dalam program ini di mana pun di dunia tentang apa yang terjadi pada ayah dan kakek kami pada Hari Nakba. Bagaimana Israel mulai menduduki tanah kami dan menjajah rakyat kami, serta bagaimana mereka menduduki seluruh Palestina pada tahun 1967. Mereka membunuh ribuan rakyat kami dan melukai lebih dari ratusan ribu rakyat kami, serta bagaimana mereka mencuri tanah kami dan membangun pemukiman ilegal," sambungnya.



