Apa Saja yang Digelisahkan Anak Muda dari Dunia Kerja?

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana situasi pengangguran di kalangan Gen Z?
  2. Mengapa Gen Z banyak yang menganggur?
  3. Bagaimana kondisi Gen Z yang sudah bekerja?
  4. Apa saja yang dikhawatirkan pekerja muda saat ini?
  5. Apa yang bisa dilakukan untuk membantu pekerja muda?
Bagaimana situasi pengangguran di kalangan Gen Z?

Secara global, masih banyak anak muda di dunia yang menganggur. Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan, anak muda berusia 15-24 tahun yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan (NETT) alias sepenuhnya menganggur pada 2025, mencapai 262 juta orang atau lebih dari 12,4 persen.

Di Indonesia, menurut data BPS, kelompok usia 15-24 tahun yang masuk dalam NEET secara nasional ialah 19,44 persen.

Anak muda usia 15-24 tahun masuk dalam kategori generasi Z, yakni generasi yang lahir pada 1997-2012. Mereka baru menyelesaikan pendidikan dan berusaha untuk membangun hidup dengan memulai bekerja dan merintis karier. 

Tingginya angka pengangguran di kalangan di kelompok usia ini merata di berbagai negara, termasuk di negara maju. China, misalnya, memiliki tingkat penganggur orang muda sekitar 16 persen, sedangkan di Amerika Serikat angkanya 10,8 persen.

Baca JugaGenerasi Cemas, 262 Juta Gen Z Menganggur
Apa yang membuat pengangguran di kalangan orang muda tinggi?

Kondisi perekonomian dan struktur pekerjaan beberapa tahun terakhir sedang tidak ramah terhadap kaum muda, termasuk Gen Z.

Secara global, ketidakpastian ekonomi dan politik sudah terasa sejak 2024. Kondisi ini berlanjut hingga sekarang menyusul mengerasnya konflik geopolitik. Hal itu membuat pertumbuhan ekonomi secara global melambat.

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporannya pada Oktober 2024, merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 3,3 persen menjadi 3,2 persen tahun 2025. Awal tahun 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1 persen. Proyeksi ini diturunkan 0,2 persen seturut pecahnya konflik di Timur Tengah yang diikuti krisis energi dan rantai pasok barang.

Kondisi ekonomi yang kurang menggembirakan ini membuat perusahaan-perusahaan cenderung mengurangi perekrutan pekerja baru dan muda. Mereka mengandalkan pekerja lama.

Selain karena tekanan ekonomi, dunia kerja secara global, menurut ILO, mengalami perubahan seiring dalamnya penetrasi teknologi digital dan adopsi AI. Pekerjaan entry-level tak lagi membutuhkan manusia karena bisa diselesaikan mesin.

Di sisi lain, kenaikan upah minimum dan iuran jaminan sosial pemberi kerja telah turut mempersulit generasi muda mendapatkan pekerjaan. Sejumlah pengusaha, terutama di bidang ritel dan perhotelan, menganggap, upah tenaga kerja generasi muda terlalu mahal jika diukur dengan pengalaman kerjanya yang minim.

Isu pendidikan yang tak sesuai kebutuhan dunia kerja juga menjadi sorotan. Pendidikan dinilai hanya memberikan sedikit kemampuan atau bekal bagi orang muda untuk memasuki dunia kerja.

Faktor-faktor itulah yang diyakini membuat angkatan kerja muda sulit sekali mendapatkan pekerjaan meski sudah mencari ke mana-mana.

Baca JugaNasib Orang Muda
Bagaimana kondisi Gen Z yang sudah bekerja?

Bagi pekerja muda yang sudah bergabung dengan sebuah perusahaan, kondisi mereka juga tidak terlalu baik. Kebanyakan dari mereka diterima dalam ikatan kontrak dengan status bukan sebagai karyawan tetap.

Sayangnya, bekerja dengan sistem kontrak atau alih daya tidak menjamin kelanggengan karier dan masa depan. Sistem kerja kontrak yang berjangka pendek, bisa diakhiri pada saatnya. Kalaupun di perpanjang, mereka akan diikat dengan kontrak baru. Dalam banyak kasus, banyak pekerja muda yang bertahun-tahun bekerja dengan sistem kontrak. Akibatnya mereka tidak bisa merancang masa depan mereka sendiri.

Kondisi ini diperparah oleh kesenjangan hak dan perlindungan. Pekerja kontrak dan alih daya menerima upah lebih rendah, tunjangan terbatas, serta minim akses pelatihan dan jenjang karier meskipun mengerjakan tugas yang serupa dengan pekerja tetap.

Posisi tawar mereka pun relatif lemah karena hubungan kerja formal berada di tangan perusahaan penyedia tenaga kerja, bukan pengguna langsung.

Baca JugaMengapa Fenomena ”Polyworking” dan ”Side Hustle” Makin Eksis di Kalangan Gen Z?
Apa saja yang dikhawatirkan pekerja muda saat ini?

Apa yang mereka khawatirkan tidak banyak berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya, hal itu tertangkap dalam rangkaian diskusi di ajang Manager Fest 2026, Sabtu (16/5/2026).

Airlangga Aridharma, Career Content Creator di Lokerse.rem, dalam acara tersebut, menyebutkan, setidaknya ada empat kekhawatiran yang kini mendera kalangan angkatan kerja muda generasi milenial dan Gen Z. Pertama, jumlah pencari kerja lebih besar dibandingkan lapangan pekerjaan yang tersedia.

Kedua, perkembangan teknologi digital seperti akal imitasi (artificial intelligence/AI) bergerak sangat cepat. ”Disrupsi AI luar biasa (cepat),” ujar Airlangga saat menjadi salah satu pembicara di sesi diskusi ”19 Juta Lapangan Kerja?”, bagian dari acara Manager Fest 2026, Sabtu (16/5/2026). Proses beradaptasi dengan disrupsi bikin pencari kerja terengah-engah.

Seiring dengan kekhwatiran kedua, muncul kekhawatiran ketiga, yakni ketidakcocokan keterampilan yang dimiliki pekerja muda dan tuntutan dunia kerja. Masih banyak pencari kerja yang tidak memiliki keterampilan sesuai sehingga lowongan yang tersedia tidak selalu dapat terisi.

Keempat, ketegangan geopolitik global dianggap pekerja muda akan berdampak signifikan terhadap pasar kerja di Indonesia dan nasib mereka di masa depan.

Kekhawatiran tersebut dirangkum dari curahan hati dan pengamatan Lokerse.rem. Semuanya berpotensi membuat angkatan kerja muda frustrasi. 

Baca JugaEmpat Kekhawatiran yang Mendera Pekerja Muda
Apa yang bisa dilakukan untuk membantu pekerja muda?

Pekerja semakin memerlukan pekerjaan berkualitas, antara lain yang menyejahterakan, memberi perlindungan sosial, dan menjamin kesetaraan. Sementara jumlah pekerja terus bertambah, yang bisa saja tidak terkejar pertumbuhan lapangan pekerjaan formal. Akibatnya, pilihan jatuh ke pekerjaan informal, yang tidak sepenuhnya memberikan jaminan bagi pekerja.

Sektor informal juga cenderung menekan produktivitas, kesempatan berinovasi yang lebih rendah, dan sumbangan terhadap pertumbuhan yang terbatas.

Kondisi ini tak bisa dibiarkan. Intervensi diperlukan agar pekerjaan berkualitas yang menyerap tenaga kerja semakin banyak. Tanpa intervensi pemerintah—yang bisa bekerja sama dengan swasta—masa depan negara dipertaruhkan.

Jangan sampai anak-anak muda berkualitas hanya bisa mencecap pekerjaan seadanya, yang pada akhirnya akan berpengaruh buruk pada kualitas hidup diri dan keluarga.

Namun, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat, persoalan yang pekerja muda hadapi sesungguhnya bukan sebatas ketidakcocokan keterampilan, tetapi lapangan kerja formal yang tersedia tengah terbatas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hujan Deras Sebabkan Banjir di Banyak Wilayah Tiongkok, Sekolah, Rumah dan Toko Terendam
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
Harga Kedelai Naik, Pedagang Pilih Iris Tipis Tempe
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
BI: Cadangan Devisa RI Masih Kuat untuk Jaga Stabilitas Rupiah
• 10 jam lalukatadata.co.id
thumb
Satgas Haji Cegah Keberangkatan 32 WNI Calon Jemaah Haji Non-Prosedural di Bandara Soekarno-Hatta
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Universitas Negeri Padang DO Mahasiswa Diduga Gay, Bukti Video Penggerebekan
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.