Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, angkat bicara terkait lima WNI yang ditangkap Militer Israel.
Kelima orang tersebut merupakan bagian dari misi kemanusiaan International Global Sumud Flotilla atau GSF 2.0 menuju Gaza. Total ada sembilan WNI yang mengikuti misi tersebut.
Informasi yang diterima kumparan menyebut tiga dari lima WNI yang ditangkap merupakan jurnalis. Dua di antaranya berasal dari Republika, sementara satu lainnya merupakan jurnalis Tempo.
Terkait hal tersebut, Yusril mengaku pemerintah kesulitan berkomunikasi dengan para WNI yang ditangkap maupun yang masih berupaya berlayar menuju Gaza. Empat WNI lain yang tergabung dalam misi GSF 2.0, menurut Kementerian Luar Negeri RI, masih berlayar dan berada di sekitar Siprus.
“Pemerintah sangat prihatin dan menyesalkan apa yang dilakukan tentara Israel terhadap warga negara Indonesia, khususnya para wartawan yang melintasi perairan internasional untuk melakukan kegiatan kemanusiaan membantu para korban konflik di Gaza,” ujar Yusril di Surabaya, Selasa (19/5).
“Sampai hari ini kami ketahui masih sulit untuk menghubungi kedua (tiga, red)orang tersebut,” lanjutnya.
Yusril menjelaskan sulitnya komunikasi langsung dengan Israel disebabkan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara tersebut.
“Kementerian Luar Negeri juga telah melakukan langkah-langkah proaktif untuk mencari keberadaan mereka dan membebaskan mereka. Namun, karena kita tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, kita tidak dapat melakukan perundingan langsung dengan pihak Israel,” jelas Yusril.
“Kita tentu akan mengambil upaya-upaya diplomatik dan langkah hukum melalui perantaraan negara ketiga serta badan internasional untuk melindungi warga negara kita yang ditangkap tentara Israel itu,” tegasnya.





