Kalimat itu diucapkan oleh Lilla Syifa, pejuang diabetes di usia 29 tahun. Di balik konten gaya hidup sehat yang kini ia bagikan melalui akun Instagram @fitwithcipa, ternyata sempat ada fase ketika kebiasaan mengonsumsi makanan manis—merenggut kesehatan fisik dan mentalnya.
Pada 2024 lalu, Syifa terbiasa menutup agenda makan berat dengan kudapan manis. Tiga kali sehari—lidahnya dimanjakan oleh sensasi manis dari donat, brownies, hingga es krim. Sensasi nikmat itu mengaburkan pandangannya soal dampak berbahaya dari konsumsi makan manis berlebih.
Hingga akhirnya tanda prediabetes mulai muncul perlahan. Setahun dari kebiasaan itu, ia merasa sering haus walaupun sudah minum banyak air putih. Saat malam harinya, ia sering bolak-balik ke kamar mandi. Betisnya pun kerap keram, sementara tubuhnya mudah lelah bahkan ketika tidak melakukan aktivitas berat. Namun seperti banyak orang lainnya, Syifa tak langsung menganggap gejala itu sebagai sesuatu yang serius.
Hingga pada Agustus 2025, ia akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Syifa tertegun dengan hasil diagnosis yang ia terima: diabetes tipe 1,5 atau tipe LADA (Latent Autoimmune Diabetes of Adults). Biasanya kondisi ini menyerang orang dewasa di atas usia 30 tahunan namun hal itu tak berlaku di Syifa.
Belum sempat mencerna kenyataan itu, kondisinya memburuk sehari setelah pemeriksaan. Ia koma dan harus dirawat di ICU selama 12 hari. Makanan manis yang selama ini jadi teman penghibur, berubah menjadi momen pahit dalam hidupnya.
Situasi itu semakin kompleks karena ia memiliki kondisi autoimun hipertiroid. Alhasil Syifa pun harus mendekam di rumah sakit hampir satu bulan lamanya. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, kebingungan, sekaligus pergulatan mental yang tak mudah dijelaskan.
“Aku bukan Superman. Ada masa saat aku nge-down dan merasa putus asa,” ucapnya.
Di tengah riuhnya badai yang menerpanya, Syifa menyelipkan sebuah keyakinan teguh terhadap kuasa Tuhan. “Aku yakin setiap kejadian yang terjadi di hidupku itu semua sudah atas izin Tuhan. Aku percaya Tuhan punya rencana indah buatku, no matter how hard it is,” tuturnya dengan lembut.
Afirmasi ini menuntun langkahnya satu per satu dengan energi positif. Berbekal keyakinan itu, Syifa cukup optimis akan mendapatkan hal baik setelah melewati tantangan ini.
Kehidupan yang berubah 180 derajatSejak insiden koma itu, hidup Lilla Syifa berubah 180 derajat. Tak ada lagi kebiasaan menutup makan berat dengan dessert manis seperti dulu. Gelas-gelas minuman manis yang dulu akrab di tangannya kini berganti menjadi air putih dan americano untuk melepas dahaga.
“Aku nggak makan manis lagi, aku nggak minum manis lagi—minuman aku hanya air putih. Kalau lagi pengin minum selain air putih, aku pesannya Americano,” ujarnya Syifa.
Tentu ini adalah momen berat yang ia perlu tempuh, mengingat makanan dan minuman manis telah menjadi rutinitas yang melekat di kehidupannya. Setelah menjalani momen berat di bawah awan hitam, Syifa sadar bahwa hidupnya tak bisa lagi berjalan dengan pola yang sama, hingga perlu mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.
Bukan hanya mengurangi gula, Syifa juga berhenti mengonsumsi tepung-tepungan, gorengan, hingga produk susu demi menjaga kondisi tubuhnya tetap stabil. Di tengah proses perubahan gaya hidup yang tidak mudah itu, ia dikuatkan oleh dukungan keluarga dan teman-teman terdekat.
Syifa bersyukur tak perlu melewati fase pemulihan ini seorang diri. Ada kakak, orang tua, adik, hingga sahabat yang terus menemani langkahnya ketika ia merasa takut, lelah, bahkan kehilangan harapan. Sedikit demi sedikit, kondisinya mulai membaik. Kini, ia hanya perlu mengonsumsi beberapa obat untuk membantu proses pemulihan tubuhnya.
Ia pun berpesan agar Ladies mengonsumsi makan atau minuman manis dalam batas yang wajar, serta tak malas untuk berolahraga. “Last but not least, pesan yang aku pengin sampein ke teman-teman yang masih suka jajan manis—sebenarnya itu boleh-boleh aja kok, asal kita tahu batasan. Kita juga perlu bertanggung jawab (terhadap diri sendiri),” ujarnya.
Lewat pengalaman pahit tersebut, Syifa berupaya mengedukasi banyak orang tentang bahaya konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan melalui media sosial. Ia juga kerap membagikan resep makanan sehat yang tetap lezat tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Kisah yang ditulis oleh kumparanWOMAN ini pun lahir dari keterbukaan Syifa dalam membagikan perjalanan hidup dan pengalamannya sebagai pejuang diabetes.
Keep healthy, Syifa!





