Bisnis.com, JAKARTA — Emiten afiliasi Grup Triputra, PT Autopedia Sukses Lestari Tbk. (ASLC) membidik pertumbuhan kinerja dobel digit pada 2026 seiring dengan realisasi kinerja yang positif pada kuartal I/2026.
Direktur ASLC, Armeza Farhansyah Umar, mengatakan kinerja positif pada kuartal I/2026 menjadi modal kuat bagi perseroan untuk melanjutkan pertumbuhan sepanjang tahun ini.
“Dengan hasil kuartal I/2026 yang sangat baik, kami berharap segmen jual beli mobil bekas tetap tumbuh double digit sehingga laba bersih juga lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya dalam paparan publik, Selasa (19/5/2026).
Sepanjang 3 bulan berjalan pada tahun ini, ASLC membukukan pendapatan sebesar Rp283,6 miliar atau naik 27,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp7,4 miliar.
Dalam struktur bisnis perseroan, Caroline.id menjadi kontributor utama pendapatan ASLC. Sepanjang 2025, lini bisnis penjualan mobil bekas tersebut menyumbang sekitar 72,8% dari total pendapatan perseroan.
Kontribusi Caroline.id bahkan semakin dominan pada kuartal I/2026 dengan porsi mencapai 82,7%. Pendapatan unit bisnis tersebut tercatat melonjak 51% YoY.
Baca Juga
- Saham ASLC Masih Undervalued, Autopedia Lestari Akan Buyback Saham
- Autopedia (ASLC) Raup Pendapatan Rp1 Triliun, Intip Strategi 2026
- Pendapatan Autopedia (ASLC) Capai Rp1 Triliun pada 2025, Sinyal Kuat Bisnis Mobil Bekas?
Pada tahun ini, perseroan akan menambah dua hingga tiga cabang baru sepanjang 2026.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp15 miliar hingga Rp20 miliar.
“Tujuan penggunaan dana capex ini adalah untuk perluasan jaringan Caroline.id sekaligus merelokasi cabang yang dinilai kurang strategis,” ujarnya.
Menurut dia, kebutuhan investasi untuk pembukaan cabang akan disesuaikan dengan skala dan kondisi pasar di masing-masing wilayah. Untuk cabang berukuran besar, ASLC memperkirakan kebutuhan dana mencapai sekitar Rp5 miliar per lokasi.
Adapun gerai kecil hingga menengah membutuhkan investasi sekitar Rp1 miliar hingga Rp2 miliar.
Ekspansi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan memperkuat penetrasi pasar mobil bekas nasional melalui platform Caroline.id.
Di tengah tantangan ekonomi dan tekanan daya beli masyarakat, manajemen ASLC tetap optimistis industri mobil bekas masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid. Perseroan menilai segmen mobil bekas cenderung lebih resilien dibandingkan kendaraan baru karena menawarkan harga yang lebih terjangkau bagi konsumen.
Sepanjang 2025, ASLC berhasil mencetak pendapatan menembus Rp1 triliun. Pendapatan perseroan tercatat tumbuh sekitar 14,5% dibandingkan tahun sebelumnya.





