JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta menilai maraknya pengamen gerobak keliling dengan speaker di sejumlah wilayah ibu kota dipicu persoalan ekonomi dan keterbatasan keterampilan kerja masyarakat rentan.
Fenomena ini semakin mudah ditemui di kawasan permukiman padat penduduk hingga gang-gang kecil di wilayah Senen, Paseban, Kramat, Matraman, hingga Manggarai, terutama pada sore hingga malam hari.
Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat Agus Aripianto mengatakan, penggunaan speaker berukuran besar oleh para pengamen merupakan bentuk adaptasi untuk menarik perhatian warga demi meningkatkan pendapatan harian.
Baca juga: Cerita Pengamen Gerobak Speaker Keliling di Jakpus, Jalan Berkilo-kilometer demi Rp 150.000
"Dari kacamata kesejahteraan sosial, peralihan ke sound system bervolume tinggi merupakan adaptasi PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial) untuk meningkatkan pendapatan. Namun di sisi lain hal ini memicu polusi suara yang mengganggu kenyamanan warga," kata Agus saat dihubungi Kompas.com, Senin (18/5/2026).
Menurut Agus, fenomena pengamen jalanan tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan ketertiban umum.
Dinsos menilai akar persoalan berasal dari kerentanan ekonomi dan minimnya keterampilan kerja yang dimiliki sebagian masyarakat.
"Dinsos melihat fenomena ini berakar dari kerentanan ekonomi dan keterbatasan keterampilan, sehingga jalanan masih menjadi pilihan utama mereka," ujar Agus.
Ia menjelaskan, pihaknya terus melakukan monitoring dan penjangkauan terhadap PPKS, termasuk pengamen jalanan di Jakarta Pusat.
Berdasarkan data Dinsos Jakarta Pusat, sepanjang 2025 terdapat 112 pengamen yang berhasil dijangkau dari total 1.245 PPKS.
"Rinciannya didominasi pengamen umum sebanyak 67 orang dan pengamen badut 23 orang, termasuk di antaranya pengamen musik box dan variasi lainnya," kata Agus.
Sementara hingga April 2026, tercatat sudah 109 pengamen yang dijangkau petugas sosial di Jakarta Pusat.
Baca juga: Dari Gang ke Gang, Mereka Bertahan Hidup dengan Gerobak Speaker
Agus menegaskan, penanganan pengamen jalanan tidak hanya dilakukan melalui penertiban, tetapi juga pembinaan lanjutan di panti sosial.
Menurut dia, para PPKS jalanan yang terjaring akan diarahkan ke Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Bangun Daya milik Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta.
"Di panti, mereka mendapatkan pembinaan fisik, mental, dan spiritual. Selanjutnya mereka akan diasesmen untuk disalurkan ke panti lanjutan maupun program pelatihan kerja spesifik agar memiliki modal keterampilan hidup dan tidak kembali ke jalanan," ujar Agus.
Dinsos juga mengklaim penanganan dilakukan secara humanis bersama Satpol PP.
"Satpol PP melakukan penertiban di ruang publik berdasarkan Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum selama aktivitas tersebut terbukti mengganggu ketertiban masyarakat," ucap Agus.
Sementara Dinsos melalui petugas P3S mendampingi proses penertiban untuk memastikan para PPKS diperlakukan secara manusiawi.
Dorong Gerobak Keliling Gang hingga MalamKompas.com menemui sejumlah pengamen gerobak keliling yang beroperasi di kawasan Senen.
Dengan gerobak sederhana berisi speaker rakitan dan aki, mereka menyusuri jalan-jalan besar hingga masuk ke gang-gang kecil permukiman warga untuk mencari uang receh dari belas kasih masyarakat.
Sebagian pengamen tampak mendorong gerobak berwarna biru yang dipasangi dua speaker besar dan pemutar musik sederhana.
Baca juga: Program Pilah Sampah di Jakbar Terkendala Alat Pengangkut, Petugas Minta Gerobak Khusus
Musik yang diputar pun beragam, mulai dari lagu pop, dangdut, hingga remix koplo dengan volume cukup keras.
Mereka berjalan dari satu gang ke gang lain sambil sesekali berhenti di depan warung atau rumah warga.





