Sultan Hasanuddin di Mata Cornelis Speelman and The Gank

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Komite Sastra Dewan Kesenian Sulsel

Ada enam prajurit tentara hebat di bawah komando Cornelis Speelman memasuki panggung pertunjukan, diantaranya Dekker prajurit yang mengetahui banyak informasi tentang kemampuan dan keunggulan dari Sultan Hasanuddin, Jongker dan Stewart seorang prajurit naturalisasi sebagai kaki tangan VOC dalam menghadapi para pasukan Sultan Hasanuddin, Fredy seorang koki yang handal dengan keunggulannya menyuguhkan makanan bagi prajurit termasuk mengadakan Jenever arak yang enak, dan prajurit tentara seperti Pieter dan Dendy yang sangat loyal dalam menjalankan tugas dengan taat dan patuh dari Cornelis Speelman.
Cornelis Speelman sendiri dikesankan gagah, kharismatik dan berwibawa dalam perjalanan laut memimpin pasukan VOC dengan misi militernya dari Batavia menuju Makassar.
Ke tujuh aktor ini masing-masing memerankan peranan dari penokohan dan karakter terkesan dengan persiapan dan latihan yang bagus, penguasaan naskah dan pendalaman karakter juga sejalan dengan naskah yang telah dibuat oleh Bahar Merdhu selaku sutradara dan penulis naskah.
Terakhir ditutup dengan musik tradisional sinrili’ yang membuat pertunjukan ini sangat khas dengan nuansa kelokalan Sulawesi Selatan.

Teater pertunjukan ini berlangsung di sekretariat Dewan Kesenian Sulawesi Selatan, pada hari Ahad tanggal 10 Mei 2026.
Tepuk tangan para penonton yang hadir menyambut para prajurit tentara yang memasuki panggung dengan riang dan gembira penuh nuansa komedi yang khas.
Kejutan-kejutan ini mengundang gelak tawa dan kita semua dibuat terkekeh-kekeh. Dengan suara yang lantang, mereka semua menyanyikan yel-yel di bawah komando salah satu prajurit tentara Cornelis Speelman.

Mulai dari baris-berbaris, adegan menembakkan senjata hingga push up menandakan bahwa mereka semua prajurit yang disiplin, tertib, satu komando dan loyal.
Heningnya malam dengan sorotan pencahayaan yang bagus dan panggung dengan latar belakang hitam. Nuansa dan penataan panggung ini memanjakan mata saya dalam menonton dan menikmati adegan pertunjukan ini hingga selesai.
Teater ini berlangsung selama satu jam lamanya. Kemeriahan penonton, menikmati dan menghayati.
Malam itu sekretariat Dewan Kesenian Sulawesi Selatan padat dan penuh, ini bisa menjadi penanda baru bahwa Dewan Kesenian Sulawesi Selatan ikut menciptakan nuansa dan kesan sosial agar teater, kesenian dan kebudayaan bisa dinikmati dan dirasakan oleh semua kalangan tanpa sekat.

Saya senang mengikuti jalan cerita dari pertunjukan ini. Saya cukup terkesan pada cuplikan adegan di mana Dekker sedang bernostalgia merindukan kekasihnya Katherina. Setelah dia meneguk beberapa sloki Jenever yang disajikan oleh Fredy atas perintah Cornelis Speelman. Dekker telah dibuat tidak terkendali, dia mengingat kekasihnya, membayangkan dirinya berdansa dengan musik berjudul “Toean dan Njoja”. Kedua aktor yang berdansa juga cukup kompak dan sangat menghibur. Dari adegan kita belajar bahwa kolonialisme, VOC Belanda juga memiliki sisi kelam bagi para tentara militernya. Mereka juga di paksa melakukan ekspansi dan penjajahan, harus tunduk pada negara dan meninggalkan orang-orang terkasihnya. Arak dan Jenever juga sebagai sebuah simbol bahwa minuman yang memabukkan selain membuat lemah dan mematahkan semangat juga perlahan mematikan langkah kita dan termasuk mengaburkan kita dari makna dan tujuan hidup.
Kesan-kesan lain yang cukup berkesan dengan kekompakan tentara dan dialognya yang banyak bernuansa humor.

Dalam zaman yang sangat maju dan modern ini memang kita harus memiliki daya cipta yang tetap relevan sebagai suatu medium pembelajaran, tidak kaku dan mampu dirasakan secara sederhana oleh para penonton.
Naskah yang ditulis Bahar Merdhu ini selain bernuansa sejarah juga penyajiannya sangat asik dan renyah.
Dari sini kita belajar bahwa karya seni dan kebudayaan memang sepatutnya menjadi medium pembelajaran, sarana transfer ilmu dan nilai.
Meski dari sudut pandang Cornelis Speelman and The Gank ini, tapi tidak mengurangi subtansi sejarah tentang nilai-nilai dari kepahlawanan Sultan Hasanuddin dari sisi keberanian, kecerdasan taktik dan strategi, kharismatik, simbol perjuangan hak, simbol kehormatan dan simbol perlawanan atas kolonialisme.

Dari Festival Cerita Rakyat Sulawesi Selatan oleh Dewan Kesenian Sul-Sel ini dengan nuansa cerita rakyatnya terasa kuat dan sarat makna ini.
MC yang memandu jalannya acara juga dari pengurus Dewan Kesenian Sul-Sel sendiri mengelola panggung dengan fleksibel dan meriah, melibatkan penonton hingga anak-anak dalam kuis dan penerimaan doorprize. Dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pertunjukan dan festival cerita rakyat, jawaban-jawabannya yang mengundang gelak tawa.
Hingga pertunjukan ini berjalan tidak terkesan kaku dan monoton.

Penonton yang hadir juga dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari para seniman senior dan budayawan senior, simpatisan dan para penonton yang berasal dari kabupaten-kabupaten di Sulawesi Selatan. Dari akademisi, politisi, aktivis dan penulis, pegiat literasi dan pegiat seni. Dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua ikut memeriahkan pertunjukan seni ini dengan nuansa kelokalan yang sangat terasa.

Festival cerita rakyat ini patut diapresiasi setinggi-tingginya dan dibanggakan dalam bentuk karya dan penciptaan. Sebagaimana kerja seni dan budaya adalah proses penciptaan karya hingga pada pertunjukan ini.
Dari festival cerita rakyat ini selain menjadi jejak dan simbol kita.
Secara umum masyarakat Sulawesi Selatan melalui pertunjukan Cornelis Speelman and The Gank ini telah memapar kita semua tentang keindahan dari sebuah seni pertunjukan dan rasa bahagia ketika semua kalangan bisa mengakses, mengikuti, memeriahkan dan menikmatinya tanpa kendala dan proses administrasi yang rumit seperti pagelaran-pagelaran seni lainnya yang hanya dinikmati oleh kalangan-kalangan tertentu saja.

Bahwa memang benar, seperti inilah kesenian seharusnya hadir di tengah-tengah masyarakat. Sebagai sarana pendidikan, sarana hiburan, sarana belajar hingga menjadi sebuah titik pijak, jangkar, identitas dan kebanggaan bersama.

Dari festival cerita rakyat ini kita juga melihat bahwa Sulawesi Selatan sebagai jangkar intelektual melalui DKSS Sul-Sel perlahan menata ulang dan kembali menghidupkan kesenian melalui penciptaan karya dan pertunjukan.
Memang mesti demikian, Sulawesi Selatan dengan basis kebudayaan dan sejarah yang panjang cukup kuat dalam mengukuhkan eksistensinya melalui karya-karya yang bagus agar dapat memberikan dampak pada masyarakat.

Jika tidak disadari seperti di atas.
Maka kita semua senang berada di zona nyaman. Dan akan terus merasa nyaman berenang dengan cerita-cerita nostalgia, kebesaran masa lalu dan terkesan hampa.
Sementara zaman terus berjalan, tantangan teknologi yang kian pesat makin mendorong kita untuk berpikir kritis dan kreatif bahwa seniman dalam proses penciptaan karya harus memiliki kekhasan dan keunggulan dibanding AI dengan sentuhan kreativitas dan sentuhan rasa yang mendalam.

Dalam pertunjukan ini kita kembali belajar tentang tokoh dan sejarah keemasan Sulawesi Selatan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Potret Mencekam Penembakan di Masjid, 2 Remaja Tembak 3 Pria
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Havas Usulkan Lima Prinsip Kebebasan Navigasi Bertanggung Jawab untuk Menjaga Relevansi Hukum Laut
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Pemkab Bekasi Lepas 542 Calon Haji Kloter Terakhir Menuju Tanah Suci
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Sertijab Direksi Perumda Kahyangan Jember Jadi Momentum Pembenahan
• 14 jam lalueranasional.com
thumb
Pria Bersenjata Umbar Tembakan di Turki Selatan, 4 Orang Tewas
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.