Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan tidak ada potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi saat ini. Hal itu disampaikannya meski minyak mentah Indonesia (ICP) mengalami tren kenaikan harga akhir-akhir ini.
Kementerian ESDM telah menetapkan rata-rata ICP pada April 2026 sebesar US$ 117,31 per barel. Angka tersebut naik US$ 15,05 atau 14,72% dibandingkan Maret 2026 yang tercatat US$ 102,26 per barel.
“Tidak akan naik insyaallah. (Mohon) doa ya, tidak akan kami naikkan harga BBM subsidi sampai akhir tahun,” kata Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/5).
Bahlil menyebutkan, berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto, ICP dihitung secara rata-rata sejak Januari hingga saat ini. Dia mengatakan harga minyak dunia saat ini masih dalam kondisi fluktuatif.
Kendati demikian, berdasarkan catatan Katadata, harga ICP terus mengalami kenaikan sejak Januari-April 2026. Di Januari, ICP mencapai US$ 64,41 per barel, naik menjadi US$ 68,79 di Februari.
Lonjakan tertinggi terjadi pada Maret 2026, harga ICP mencapai US$ 102,26 per barel karena kondisi perang di Timur Tengah yang berakibat penutupan akses Selat Hormuz, jalur pengiriman vital migas dunia. Tren harga terus melambung hingga US$ 117,31 pada bulan lalu.
Jika dihitung berdasarkan rata-rata, maka nilai ICP Januari-April berada di angka US$ 88,19 per barel. “Jadi belum sampai US$ 100 per barel, sehingga belum ada kenaikan,” ujarnya.
Dia juga menyebut pemerintah hingga saat ini tidak ada rencana untuk menghilangkan BBM subsidi seperti Pertalite. Bahlil memastikan anggaran subsidi untuk BBM masih mencukupi hingga saat ini.
Penyebab ICP NaikDirektur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan kenaikan harga minyak mentah utama di pasar internasional pada April 2026 secara umum dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Khususnya, perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berkepanjangan dan memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.
“Peningkatan harga minyak mentah pada April 2026 dipengaruhi oleh berlanjutnya eskalasi konflik geopolitik yang meningkatkan risiko gangguan suplai minyak dunia, terutama terkait kondisi di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz,” ujar Laode dalam siaran pers, dikutip Selasa (19/5).
Tak hanya eskalasi, ada hal lain yang turut memberikan tekanan terhadap pasar minyak dunia, mulai dari berhentinya aktivitas di Selat Hormuz, blokade pelabuhan-pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, hingga serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong peningkatan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Selain faktor geopolitik, pertumbuhan ekonomi Cina pada kuartal I 2026 yang mencapai 5% secara tahunan turut memberikan sentimen positif terhadap permintaan minyak dunia.
Laode menyebutkan, meskipun harga minyak dunia masih berpotensi mengalami tekanan akibat kondisi geopolitik global, terdapat beberapa faktor yang dapat menahan kenaikan harga. Faktor tersebut di antaranya proyeksi penurunan permintaan minyak global pada kuartal II 2026 yang diperkirakan sebesar 5 juta bph (year on year) dan potensi terbukanya kembali jalur diplomasi damai antara Iran dan Amerika Serikat.
“Pemerintah akan terus memantau perkembangan pasar minyak global secara cermat untuk menjaga ketahanan energi nasional serta memastikan stabilitas pasokan energi dalam negeri,” ujarnya.




