Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mendorong integrasi pangan lokal seperti sagu hingga singkong ke dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan berbasis budaya.
Fadli menyebut, pangan lokal tidak hanya berfungsi sebagai sumber gizi, tetapi juga merupakan bagian dari ekspresi budaya yang hidup di masyarakat adat dan berbagai daerah di Indonesia.
“Dalam hal ini mendukung diversifikasi pangan yaitu tanaman-tanaman yang berada di masyarakat adat kita dan juga di provinsi-provinsi yang masih sangat kental dengan adat dan tradisi,” kata Fadli dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5).
Ia menyebut sejumlah komoditas pangan lokal yang dinilai bisa dimasukkan ke dalam menu MBG, di antaranya sagu, sorgum, jagung, singkong, ubi, talas, hingga pisang.
“Misalnya adalah pangan dengan bahan sagu, sorgum, jagung, singkong, ubi, talas, pisang dan pangan pesisir baik sebagai sumber karbohidrat maupun sebagai sumber protein,” ujarnya.
Ia menegaskan, pangan lokal juga merupakan bagian dari objek pemajuan kebudayaan yang perlu terus dilestarikan dan dikembangkan.
“Jadi pangan lokal ini juga bagian dari ekspresi budaya dari 1 dari 10 objek pemajuan kebudayaan,” ujarnya.
Fadli kemudian mendorong agar pangan lokal dapat diintegrasikan ke dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari edukasi gizi dan penguatan budaya makan sehat di masyarakat.
“Dukungan terhadap program makan bergizi gratis, makan bergizi gratis juga integrasi pangan lokal berbasis budaya ke dalam menu MBG kita rekomendasikan,” kata dia.
Selain MBG, ia juga mendorong edukasi konsumsi pangan lokal melalui Gerakan Cinta Pangan Lokal di sekolah, pesantren, hingga komunitas adat.
“Edukasi budaya makan sehat melalui Gerakan Cinta Pangan Lokal di sekolah, di pesantren, di komunitas adat,” ujarnya.





