Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah terus meningkatkan intervensi di pasar keuangan domestik setelah tekanan global memicu gejolak nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar obligasi nasional. Pemerintah pun menilai kepercayaan investor asing mulai pulih.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah mulai aktif masuk ke pasar obligasi untuk menjaga stabilitas yield surat berharga negara (SBN). Langkah tersebut dilakukan setelah volatilitas pasar global mulai memengaruhi arus modal asing dan nilai tukar rupiah.
Purbaya mengungkapkan pemerintah telah melakukan aksi stabilisasi di pasar obligasi sejak pekan lalu. Intervensi dilakukan hampir setiap hari untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
“Pemerintah terpaksa melakukan inisiatif menjaga stabilitas di pasar obligasi,” katanya dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi Mei 2026, Selasa (19/5/2026).
Dia menyebut aliran dana mulai kembali masuk ke pasar obligasi domestik setelah pemerintah melakukan intervensi. Pada perdagangan terbaru, dana asing tercatat masuk ke pasar sekunder dan pasar primer obligasi pemerintah.
“Hari ini pasar sekunder masuk Rp500 miliar, di pasar primer masuk Rp1,68 triliun,” ujar Purbaya.
Baca Juga
- Penerimaan Pajak April 2026 Tumbuh 16,1% jadi Rp646 Triliun, Purbaya Bidik Level 20%
- Investasi Asing Mandek di KEK Mandalika, Purbaya Sentil Konflik Kepentingan BUMN ITDC
- Intervensi Pasar SBN demi Rupiah, Purbaya Klaim Aksi Jual Investor Makin Turun
Menurutnya, stabilisasi pasar obligasi mulai memberikan dampak positif terhadap sentimen investor asing. Arus modal asing yang kembali masuk dinilai menjadi sinyal kepercayaan terhadap stabilitas pasar keuangan Indonesia mulai pulih.
“Tindakan kita menjaga stabilitas bond market itu sudah bisa mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap bond kita. Mereka mulai masuk, dolar mulai masuk,” katanya.
Pemerintah juga mencatat minat investor asing terhadap global bond Indonesia mulai meningkat. Purbaya menyebut potensi dana masuk dari penerbitan global bond diperkirakan mencapai US$1,6 miliar hingga US$1,8 miliar.
Masuknya aliran modal tersebut dinilai akan membantu memperkuat pasokan dolar di pasar domestik dan menopang stabilitas rupiah.
“Artinya akan masuk dolar tambahan ke sini. Itu akan memperkuat nilai tukar juga,” ujarnya.
Dia menegaskan pemerintah akan terus memantau pasar keuangan secara intensif untuk menjaga market confidence di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
“Kita betul-betul serius menjaga market confidence,” kata Purbaya.
Di tengah langkah stabilisasi tersebut, asumsi dasar ekonomi makro 2026 masih menunjukkan sejumlah indikator bergerak relatif sesuai target pemerintah. Yield SBN 10 tahun berada di kisaran 6,47%, sementara inflasi dan pertumbuhan ekonomi dinilai tetap terkendali.
Namun, tekanan terhadap rupiah dan volatilitas pasar obligasi diperkirakan masih akan menjadi tantangan utama pemerintah sepanjang tahun ini seiring belum meredanya risiko geopolitik global dan ketidakpastian arah suku bunga global.





