Teheran (ANTARA) - Juru Bicara Militer Iran Mohammad Akraminia pada Selasa mengatakan pihaknya akan membuka zona baru untuk pasukannya jika terjadi agresi baru oleh Amerika Serikat dan Israel.
"Jika musuh melakukan tindakan bodoh dan jatuh ke dalam perangkap (Israel) lagi, serta melakukan agresi lagi terhadap Iran kami tercinta, maka kami akan membuka front baru bagi mereka dengan metode dan pengaruh baru," kata Akraminia seperti dikutip Kantor Berita Fars.
Sebuah sumber militer Iran mengatakan kepada RIA Novosti bahwa Teheran telah menyiapkan langkah-langkah taktis baru jika terjadi serangan lagi dari AS.
Senin (18/5), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pihaknya telah merencanakan untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Selasa.
Namun, atas permintaan Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA), Trump menunda rencana itu demi potensi tercapainya kesepakatan perdamaian.
Kemudian, Trump pada Selasa mengatakan AS dapat melancarkan serangan baru terhadap Iran paling cepat pada Jumat (22/5) atau awal pekan depan.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, pada 28 Februari, hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran lalu membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.
Selanjutnya pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata dan melakukan pembicaraan di Islamabad yang berakhir tanpa kesepakatan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: AS dan Iran bertukar proposal hindari konflik lebih lanjut
Baca juga: Iran siap hadapi segala risiko di tengah konflik dengan AS
Baca juga: Jerman peringatkan perang di Iran ganggu ekonomi global
"Jika musuh melakukan tindakan bodoh dan jatuh ke dalam perangkap (Israel) lagi, serta melakukan agresi lagi terhadap Iran kami tercinta, maka kami akan membuka front baru bagi mereka dengan metode dan pengaruh baru," kata Akraminia seperti dikutip Kantor Berita Fars.
Sebuah sumber militer Iran mengatakan kepada RIA Novosti bahwa Teheran telah menyiapkan langkah-langkah taktis baru jika terjadi serangan lagi dari AS.
Senin (18/5), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pihaknya telah merencanakan untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Selasa.
Namun, atas permintaan Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA), Trump menunda rencana itu demi potensi tercapainya kesepakatan perdamaian.
Kemudian, Trump pada Selasa mengatakan AS dapat melancarkan serangan baru terhadap Iran paling cepat pada Jumat (22/5) atau awal pekan depan.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, pada 28 Februari, hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran lalu membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.
Selanjutnya pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata dan melakukan pembicaraan di Islamabad yang berakhir tanpa kesepakatan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: AS dan Iran bertukar proposal hindari konflik lebih lanjut
Baca juga: Iran siap hadapi segala risiko di tengah konflik dengan AS
Baca juga: Jerman peringatkan perang di Iran ganggu ekonomi global





