Rupiah Melemah, Harga Barang Naik hingga Petani Kena Imbas: Ancaman PHK Mengintai

wartaekonomi.co.id
4 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menunjukkan dampak luas di berbagai sektor. Kondisi ini tidak hanya dirasakan di perkotaan, tetapi juga mulai menekan masyarakat hingga ke pedesaan.

Berdasarkan data pasar, rupiah sempat melemah ke level Rp17.727 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.668. Pergerakan ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor.

Menurut Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada harga berbagai produk. Barang seperti handphone, kendaraan, hingga peralatan elektronik berpotensi mengalami kenaikan.

Selain itu, kebutuhan energi seperti bahan bakar minyak dan LPG juga ikut terdampak. Ketergantungan pada impor membuat harga dalam negeri sensitif terhadap pergerakan dolar.

“Lalu juga pupuk di sentra pertanian akan terpengaruh harganya kalau rupiah makin lama makin lemah. Itu semua tinggal menunggu waktu saja, sampai harganya akan menekan masyarakat di pedesaan,” ujar Bhima.

Dampak lanjutan dari kondisi ini adalah tekanan pada sektor industri. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi menekan produksi.

Situasi tersebut bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja. Gelombang PHK berisiko meningkat jika pelemahan rupiah berlangsung lama.

“Bisa terjadi PHK massal dari pelemahan rupiah, dan desa akan dibanjiri oleh mereka jadi korban PHK di perkotaan,” kata Bhima.

Di sisi lain, sektor pertanian juga mulai merasakan tekanan. Kenaikan harga bahan produksi membuat biaya operasional petani semakin meningkat.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.744, Timothy Ronald Kasih Tips 'Survival' Amankan Uang

Seorang petani di Cirebon mengaku harga pestisida mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Hampir semua jenis obat hama mengalami kenaikan harga.

“Baik herbisida, insektisida ataupun fungisida itu rata-rata naik antara Rp5.000 sampai Rp10.000 per botol ukuran satu liter,” ujar Rojai.

Kenaikan harga ini dipicu oleh bahan baku impor dan fluktuasi dolar. Selain itu, perlengkapan pertanian berbahan plastik juga ikut mengalami lonjakan.

“Terutama ini musim mau musim kering, sehingga banyak petani membeli selang untuk pompanisasi. Nah, itu naiknya nyampe 50 persen,” jelasnya.

Kondisi ini membuat biaya produksi pertanian meningkat signifikan. Dampaknya, pendapatan petani berpotensi tertekan.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah memicu efek berantai dari kenaikan harga hingga risiko PHK. Dampaknya kini dirasakan dari sektor industri hingga ke petani di lapangan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Resmikan Kantor Kecamatan Kebayoran Baru dan 2 Embung di Jaksel
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Tarik Utang Rp 305,5 Triliun Per April 2026, Purbaya: Terjaga dan Terukur
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Purbaya Menkeu Sebut Serapan Intervensi Pasar Obligasi Baru Rp600 Miliar
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ketua DPD RI Sultan Beri Pembekalan Kepada 1.700 Calon Wisudawan UGM
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Rekomendasi Body Care dengan Kandungan Bunga Matahari Favorit BCL
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.