Harga Emas Jatuh Lebih dari 1 Persen, Dolar AS dan Yield Tinggi Tekan Pasar

idxchannel.com
14 jam lalu
Cover Berita

Harga emas dunia turun lebih dari 1 persen pada Selasa (19/5/2026) seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran inflasi yang masih bertahan.

Harga Emas Jatuh Lebih dari 1 Persen, Dolar AS dan Yield Tinggi Tekan Pasar. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas dunia turun lebih dari 1 persen pada Selasa (19/5/2026) seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran inflasi yang masih bertahan, sehingga memicu ekspektasi suku bunga tetap tinggi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Emas spot melemah 1,84 persen menjadi USD4.482,11 per troy ons. Harga sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret pada perdagangan sesi tersebut.

Baca Juga:
IHSG Uji Level Krusial, Pasar Tunggu Pidato Prabowo dan BI Rate

Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni ditutup turun 1 persen ke USD4.511,20 per ons.

“Kami melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara di dunia, dan itu sangat membebani emas. Dolar juga lebih kuat, dan itu menjadi sentimen negatif,” ujar analis Marex, Edward Meir, dikutip Reuters.

Baca Juga:
IHSG Hari Ini Rawan Terkoreksi ke 6.084-6.148, Cermati 4 Saham Berikut

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan dekat level tertinggi lebih dari satu tahun, sementara dolar AS menguat.

Keduanya naik karena investor mengantisipasi sikap Federal Reserve (The Fed) yang lebih hawkish untuk meredam inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.

Baca Juga:
Selain Rapat Paripurna DPR, Prabowo Bakal Hadiri Pameran Perusahaan Minyak Hari Ini

Kenaikan imbal hasil Treasury meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sementara penguatan dolar membuat komoditas berbasis greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Harga minyak mentah Brent tetap tinggi akibat kekhawatiran gangguan pasokan, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global karena lonjakan biaya energi.

Inflasi yang tinggi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan tekanan harga.

Meski dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi.

Pasar kini melihat ruang yang sangat terbatas untuk pemangkasan suku bunga sepanjang sebagian besar 2026, dengan ekspektasi bergeser ke arah suku bunga tetap atau bahkan pengetatan lebih lanjut pada akhir tahun.

“Kendati prospek investasi struktural untuk emas masih cukup solid, perkembangan makro jangka pendek menciptakan tantangan yang lebih berat bagi harga,” tulis Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.

“Begitu tekanan terkait energi mulai mereda, permintaan bank sentral berpotensi kembali menjadi pendorong utama.”

Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat kebijakan terbaru The Fed yang dijadwalkan dirilis Rabu.

Perak spot turun 4,1 persen menjadi USD74,53 per ons setelah sempat menyentuh level terendah sekitar dua pekan.

Platinum melemah 2,2 persen menjadi USD1.936,10 per ons dan paladium merosot 4,2 persen menjadi USD1.359,26 per ons.

Pada Minggu, JPMorgan memperkirakan harga platinum mencapai USD2.400 per ons pada kuartal IV-2026 dan melihat harga paladium berada di level USD1.600 per ons pada periode yang sama. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bournemuth vs City 1-1, Arsenal Resmi Juara Liga Inggris 2025-26
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Ingin Perusahaan Swasta Lebih Besar, Puji Indofood hingga Es Teler 77
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo: Hukum Jangan Hanya untuk Mereka yang Punya Uang Banyak
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Saham Batu Bara, Tambang Mineral, Sawit Tumbang usai Prabowo Atur Ekspor SDA via BUMN
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Bahlil Sebut Sektor Hulu Migas Tak Terkena Kebijakan Ekspor Melalui Danantara
• 4 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.