Kisah Amin Abdullah, Satpam Masjid San Diego yang Tewas Lindungi Jemaah

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

San Diego: Di tengah kepanikan saat dua remaja bersenjata api menyerang Islamic Center of San Diego pada Minggu pagi, 18 Mei 2026, seorang petugas keamanan bernama Amin Abdullah berdiri menghalangi mereka.

Amin menjadi satu dari tiga korban tewas dalam penembakan di sana, di masjid terbesar di San Diego County, California, Amerika Serikat.

Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl menyebut tindakan Amin kemungkinan telah menyelamatkan banyak nyawa jemaah masjid, termasuk anak-anak yang berada di kompleks tersebut saat penembakan terjadi.

“Saya rasa adil jika saya mengatakan bahwa tindakannya heroik,” kata Wahl dalam konferensi pers.

“Tidak diragukan lagi, dia telah menyelamatkan banyak nyawa hari ini,” lanjutnya, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu, 20 Mei 2026. Senyum Besar Amin Kisah Amin kemudian dibagikan oleh Kashif-ul-Huda, seorang pria yang pernah bekerja bersama Amin sekitar dua dekade lalu di sebuah klinik gigi di San Diego. Kashif mengatakan dirinya terakhir bertemu Amin pada Desember tahun lalu saat menghadiri salat jenazah ayahnya di Islamic Center of San Diego.

Setelah lama tidak ke Islamic Center of San Diego, Kashif terkejut melihat penjagaan keamanan ketat di sana, yang selama ini dikenalnya sebagai tempat ibadah yang damai. Peningkatan keamanan ini rupanya dikaitkan dengan sejumlah pesan kebencian yang ditujukan ke sejumlah masjid di San Diego.

Kendati begitu, ia tak pernah merasa jika akan ada ancaman besar terhadap Islamic Center of San Diego.

Menceritakan pengalamannya saat berkunjung lagi, ia terkejut saat ada petugas keamanan di pintu masuk yang memanggil namanya. “KASHIF BHAI!!!” teriak Amin sambil tersenyum lebar, kenang Kashif, jauh sebelum terjadinya penembakan.

Mereka pernah bekerja bersama ketika Kashif menjadi manajer di klinik gigi tempat Amin bekerja. Menurut Kashif, Amin bukan pegawai terbaik di klinik tersebut, tetapi kepribadiannya yang hangat membuat semua orang sulit tidak menyukainya.

“Sulit memecat seseorang yang selalu menyambutmu dengan senyum besar,” tulis Kashif. Ia juga mengenang Amin sebagai sosok yang selalu tertarik pada profesi berseragam.

“Dia selalu terpesona pada polisi dan orang-orang berseragam,” ujarnya. 'Sangat Amerika dan Sangat Muslim' Bertahun-tahun kemudian usai pekerjaan di kilinik gigi, Kashif merasa bahagia melihat Amin akhirnya mewujudkan impiannya menjadi petugas keamanan. Pada hari pertemuan terakhir mereka, keduanya sempat berbincang singkat dan tertawa bersama di tengah suasana duka pemakaman sang ayah.

Hilal tidak menyangka itu menjadi pertemuan terakhir mereka setelah sekitar 20 tahun tak bertemu. “Kemarin, dia gugur saat membela masjid,” tulis Kashif.

“Amin, yang artinya ‘dapat dipercaya,' hidup sesuai namanya dan meninggal saat melakukan pekerjaan yang ia cintai,” lanjutnya.

Amin lahir dari ibu keturunan Afrika-Amerika dan dibesarkan sebagai Muslim di Amerika Serikat. Menurut Kashif, Amin adalah sosok yang sangat Amerika sekaligus sangat Muslim.

Ia meninggal dunia usai ditembak oleh dua remaja Amerika dalam serangan yang kini diselidiki sebagai kejahatan bermotif kebencian.

Baca juga:  Vance Kecam Penembakan di San Diego, Sebut Istrinya Dekat dengan Komunitas Muslim


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bank Saqu Kenalkan Footgolf Melalui Sunrise Society Vol. 5
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Perkuat Daya Saing Produk Nasional Lewat Perjanjian Dagang
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Noel Heran Dituntut 5 Tahun Penjara dalam Kasus Sertifikasi K3: Mending Korupsi Sebanyak-banyaknya
• 23 jam laludisway.id
thumb
LPS Bidik Kenaikan Aset Rp303,5 Triliun di Tahun Ini
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Nelayan Bakal Punya Cold Storage dan Akses Es Batu, Ini Rencana Besar Presiden
• 33 menit lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.