EtIndonesia. Pada 17 hingga 18 Mei 2026, Ukraina melancarkan salah satu operasi udara terbesar sejak perang Rusia–Ukraina pecah pada Februari 2022. Dalam serangan yang disebut para pengamat sebagai “gelombang drone terbesar sepanjang perang”, Ukraina dilaporkan mengerahkan sekitar 600 hingga hampir 1.000 drone untuk menyerang sedikitnya 14 wilayah Rusia, termasuk ibu kota Moskow.
Serangan masif ini bukan hanya mengguncang sistem pertahanan Rusia, tetapi juga untuk pertama kalinya benar-benar membawa suasana perang langsung ke jantung kekuasaan Kremlin. Langit Moskow yang selama ini dianggap sebagai wilayah dengan pertahanan udara paling ketat di Rusia mendadak dipenuhi suara ledakan, sirene darurat, kobaran api, dan kepanikan warga.
Moskow Diserang dari Berbagai Arah
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, dalam kurun waktu 24 jam terakhir pasukan pertahanan udara mereka berhasil menembak jatuh lebih dari 1.000 drone Ukraina. Dari jumlah tersebut, sekitar 556 drone diklaim dihancurkan hanya dalam serangan malam hari.
Kantor berita Rusia, TASS, mengutip pernyataan Wali Kota Moskow yang mengatakan bahwa sedikitnya 130 drone Ukraina bergerak langsung menuju ibu kota sebelum berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Rusia.
Meski demikian, skala serangan yang sangat besar membuat sejumlah target strategis tetap terkena dampak serius.
Wilayah sekitar Moskow menjadi salah satu area yang paling terpukul. Sedikitnya 12 orang dilaporkan terluka, sementara empat orang tewas dalam rangkaian serangan tersebut, termasuk seorang warga negara India yang berada di lokasi terdampak.
Ledakan dan kebakaran besar dilaporkan terjadi di berbagai titik, terutama di wilayah utara dan barat laut pinggiran Moskow.
Kilang Minyak Moskow Jadi Sasaran Utama
Salah satu target paling penting dalam operasi Ukraina kali ini adalah fasilitas energi Rusia.
Kementerian Pertahanan Ukraina menyatakan bahwa untuk pertama kalinya mereka berhasil menghantam kilang minyak utama Moskow. Serangan tersebut disebut memicu ledakan besar dan menyebabkan sedikitnya 12 pekerja mengalami luka-luka.
Selain kilang minyak, sebuah stasiun pompa bahan bakar utama yang berada di jalur pipa lingkar Moskow juga ikut dihantam drone Ukraina. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kobaran api raksasa membumbung tinggi ke langit malam.
Fasilitas itu diketahui memasok sekitar 2.000 ton bahan bakar setiap hari untuk wilayah Moskow, atau sekitar 8,4 persen kebutuhan bahan bakar ibu kota Rusia.
Para analis memperingatkan bahwa kerusakan fasilitas tersebut dapat memicu gangguan distribusi bahan bakar secara serius. Artinya, hampir satu dari setiap sepuluh kendaraan di Moskow berpotensi mengalami dampak kekurangan pasokan bahan bakar jika situasi terus memburuk.
Bandara Sheremetyevo Lumpuh
Gelombang serangan drone Ukraina juga mengganggu sistem transportasi udara Rusia.
Bandara Sheremetyevo, bandara internasional terbesar di Rusia yang berada di Moskow, ikut menjadi sasaran serangan. Akibatnya, aktivitas penerbangan mengalami gangguan besar-besaran.
Puluhan penerbangan dilaporkan tertunda, dialihkan, bahkan dibatalkan demi alasan keamanan.
Otoritas Rusia langsung menaikkan status keamanan nasional ke tingkat darurat penuh. Sistem pertahanan udara di sekitar ibu kota diaktifkan secara maksimal untuk mengantisipasi gelombang serangan berikutnya.
Tiga Bangunan Permukiman Hancur
Selain menyerang fasilitas energi dan infrastruktur strategis, serangan drone juga menyebabkan kerusakan pada kawasan permukiman warga.
Tiga bangunan tempat tinggal dilaporkan hancur akibat hantaman drone maupun pecahan sistem pertahanan udara Rusia yang jatuh ke permukiman.
Gambar-gambar yang beredar memperlihatkan apartemen yang terbakar, kaca-kaca pecah berserakan, serta warga yang panik berlarian meninggalkan lokasi.
Bagi banyak warga Moskow, inilah pertama kalinya mereka benar-benar merasakan ketakutan perang secara langsung sejak konflik dimulai pada tahun 2022.
Muncul Rumor Kediaman Putin Ikut Menjadi Target
Tidak lama setelah serangan berlangsung, media sosial Rusia dan berbagai komunitas berbahasa Rusia mulai dipenuhi rumor mengejutkan.
Sejumlah saluran pro-Ukraina mengklaim bahwa salah satu kompleks kediaman pribadi Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan ikut menjadi sasaran operasi drone Ukraina.
Rumor itu muncul karena jalur terbang kawanan drone diketahui melewati wilayah barat laut Moskow secara padat. Di kawasan perbatasan antara Oblast Tver dan Oblast Moskow memang terdapat kompleks kediaman terkenal milik Putin.
Namun hingga saat ini belum ada bukti resmi maupun konfirmasi independen yang menunjukkan bahwa kediaman Putin benar-benar terkena serangan.
Meski demikian, fakta bahwa drone Ukraina mampu bergerak begitu dekat ke kawasan sensitif elite Kremlin telah memicu kekhawatiran besar di kalangan publik Rusia.
Pabrik Rudal Jelajah Rusia Ikut Dihantam
Target Ukraina kali ini tampaknya tidak hanya berfokus pada fasilitas energi.
Fasilitas industri militer penting Rusia, yaitu biro desain dan manufaktur mesin Raduga—yang dikenal sebagai salah satu produsen rudal jelajah Rusia—juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Selain itu, beberapa fasilitas mikroelektronik dan semikonduktor Rusia ikut terkena hantaman drone.
Serangan terhadap sektor industri militer ini dinilai sebagai bagian dari strategi baru Ukraina untuk melemahkan kemampuan produksi persenjataan Rusia dalam jangka panjang.
Rudal Ukraina Dilaporkan Menembus Moskow
Hal yang paling mengejutkan terjadi pada 17 Mei 2026 ketika laporan menyebut bahwa rudal Balrs milik Ukraina berhasil melintasi wilayah Moskow.
Jika laporan tersebut benar, maka ini menjadi indikasi penting bahwa kemampuan rudal jarak jauh Ukraina kini telah berkembang jauh lebih besar dibanding fase awal perang.
Situasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan militer Rusia karena Moskow selama ini dianggap hampir mustahil ditembus oleh serangan udara asing.
Di saat yang sama, Menteri Pertahanan Ukraina, Fidorov, mengungkapkan bahwa Ukraina kini telah menyelesaikan pengembangan bom udara berpemandu terbaru yang dikerjakan selama 17 bulan terakhir dan siap digunakan dalam pertempuran nyata.
Drone Ukraina Dinilai Berhasil Menemukan Celah Pertahanan Rusia
Para pengamat militer internasional menilai serangan kali ini menunjukkan perubahan besar dalam kemampuan tempur Ukraina.
Dari berbagai video yang beredar, terlihat jelas bahwa drone Ukraina mampu bermanuver bebas di atas langit Moskow dalam jumlah sangat besar tanpa banyak hambatan berarti.
Ratusan drone bahkan terlihat melakukan manuver berputar di wilayah dengan sistem pertahanan udara paling ketat di Rusia.
Banyak analis percaya Ukraina kemungkinan berhasil menemukan celah dalam beberapa lapisan sistem pertahanan udara Rusia.
Target utama Ukraina sendiri tetap konsisten, yaitu menghancurkan fasilitas energi, logistik, dan industri persenjataan Rusia.
Zelenskyy: “Rusia Harus Mengakhiri Perang”
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dalam pidatonya kepada rakyat Ukraina mengatakan bahwa wilayah Moskow merupakan kawasan dengan pertahanan udara paling padat di Rusia.
Namun menurutnya, kemampuan serangan jarak jauh Ukraina kini mulai mengubah jalannya perang.
Zelenskyy menegaskan bahwa serangan terhadap Moskow merupakan balasan atas serangan besar Rusia ke Kyiv pada pekan sebelumnya.
Ia juga menyampaikan pesan keras kepada rakyat Rusia:
“Kami sudah dengan jelas memberi tahu rakyat Rusia bahwa Rusia harus mengakhiri perang. Jika tidak, Rusia akan terus menerima serangan.”
Pernyataan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa Ukraina kini tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai meningkatkan tekanan langsung terhadap wilayah inti Rusia.
“Mitos Keamanan Kremlin” Mulai Runtuh
Para pakar keamanan menilai serangan drone besar-besaran ini telah menghancurkan apa yang selama ini disebut sebagai “mitos keamanan Kremlin”.
Selama bertahun-tahun, pemerintah Rusia berusaha menampilkan citra bahwa Moskow hampir mustahil disentuh oleh serangan musuh.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa drone Ukraina kini mampu mencapai pusat Rusia dalam jumlah besar.
Di media sosial Rusia, banyak warga mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah dan militer Rusia.
Sebagian warga mengkritik Presiden Vladimir Putin karena dianggap gagal melindungi fasilitas penting di sekitar ibu kota sendiri, meski selama ini terus berbicara tentang kemenangan perang.
Dokumen Rahasia Rusia Disebut Bocor
Situasi semakin mengejutkan ketika Presiden Zelenskyy mengungkapkan bahwa intelijen luar negeri Ukraina berhasil memperoleh dokumen rahasia internal Rusia.
Menurut Zelenskyy, isi dokumen tersebut menunjukkan bahwa Rusia mulai menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang sangat berat.
Dokumen itu disebut memperlihatkan bahwa ratusan sumur minyak Rusia kini berhenti beroperasi, sementara kapasitas pengolahan minyak nasional turun sekitar 10 persen hanya dalam beberapa bulan terakhir.
Tak hanya itu, sebelas bank besar Rusia dikabarkan tengah bersiap melakukan likuidasi, sementara delapan bank lainnya berada dalam kondisi kritis.
Dalam lima bulan terakhir saja, defisit anggaran Rusia disebut hampir mencapai 80 miliar dolar Amerika Serikat.
Kebangkrutan perusahaan mulai terjadi di berbagai wilayah Rusia.
Intelijen Estonia: Kerugian Rusia Lebih Cepat dari Perekrutan Tentara Baru
Kantor berita Reuters juga melaporkan pernyataan Kepala Intelijen Luar Negeri Estonia, Rosing, yang mengatakan bahwa tingkat kerugian pasukan Rusia di medan perang kini lebih cepat dibanding kemampuan perekrutan tentara baru.
Dalam wawancara khusus, Rosing menyebut bahwa jika Putin memutuskan melakukan mobilisasi nasional penuh, maka Kremlin berpotensi menghadapi penolakan besar dari masyarakat Rusia sendiri.
Menurutnya, langkah itu bahkan bisa mengguncang stabilitas kekuasaan Putin.
Di saat bersamaan, laju kemajuan pasukan Rusia di Ukraina dilaporkan melambat drastis dan mencapai titik terendah sejak tahun 2023.
Para analis menilai perang kini mulai memasuki fase kebuntuan yang sangat mahal bagi kedua pihak.
Rusia Mulai Kehabisan Tenaga?
Banyak pengamat percaya bahwa kondisi ekonomi Rusia kini mulai memasuki fase yang berbahaya.
Defisit hampir 80 miliar dolar AS hanya dalam lima bulan menunjukkan bahwa biaya perang telah jauh melampaui kemampuan fiskal normal Rusia.
Cadangan keuangan negara disebut terus terkuras untuk mempertahankan operasi militer besar-besaran.
Jika tekanan ekonomi, kerusakan infrastruktur energi, dan serangan drone terus meningkat, Rusia berpotensi menghadapi krisis ekonomi yang lebih serius dalam beberapa bulan mendatang.
Kini pertanyaan besar mulai muncul di dunia internasional:
Sampai kapan Rusia mampu mempertahankan perang yang semakin mahal ini? (***)





