JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam beberapa pekan terakhir, istilah “Gotham City” kerap muncul di kalangan warga Jakarta Barat untuk menggambarkan situasi keamanan di wilayah mereka.
Julukan itu bukan tanpa sebab. Rentetan kasus kejahatan jalanan yang terjadi berulang dalam waktu berdekatan membuat sebagian warga merasa ruang publik di wilayah tersebut semakin tidak aman, terutama pada malam hari.
Baca juga: Jakbar Bak “Gotham City”, Begal dan Kejahatan Jalanan Bikin Warga Takut Pulang Malam
Istilah “Gotham City” sendiri merujuk pada kota fiktif dalam kisah superhero Batman yang dikenal identik dengan tingkat kriminalitas tinggi dan aksi kejahatan yang meresahkan.
Rasa takut warga mulai munculSalah satu warga, Fajar (26), pekerja yang tinggal di kawasan Cengkareng, mengaku kini lebih waspada saat melintasi sejumlah ruas jalan di Jakarta Barat, khususnya saat pulang kerja malam hari.
Menurutnya, sejumlah kasus kekerasan yang terjadi belakangan membuatnya tidak lagi merasa tenang saat berkendara.
Baca juga: Gelombang Kejahatan Jalanan Bersenjata di Jakbar: Begal hingga Curanmor Kian Terang-terangan
“Sebenarnya mau kita muter ke tempat lain pun sama aja, sekarang di mana-mana bahaya. Udah kayak Gotham City, isinya banyak penjahat, kriminal, kekerasan semua. Takutlah kalau kita pulang kerja kenapa-kenapa pas malam,” ujar Fajar.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan sejumlah warga lain yang mengaku mulai mengubah pola perjalanan, termasuk memilih rute lebih jauh atau berkendara dalam rombongan demi alasan keamanan.
Deretan kasus yang memicu keresahanDalam catatan sejumlah peristiwa yang terjadi, wilayah Jakarta Barat dalam beberapa waktu terakhir diwarnai berbagai kasus kejahatan jalanan, mulai dari begal, pencurian kendaraan bermotor, hingga aksi kekerasan yang melukai korban.
Sejumlah kejadian disebut terjadi di titik-titik yang kerap dilalui warga saat beraktivitas, terutama pada malam hingga dini hari.
Baca juga: Misteri Dugaan Pembegalan Model di Kebon Jeruk Jakbar: Akun Pengunggah Hilang, Korban Nihil
Meski demikian, aparat kepolisian masih terus melakukan penindakan dan peningkatan patroli di sejumlah lokasi yang dinilai rawan.
Pakar: ruang publik dan faktor ekonomi berperanKriminolog Universitas Indonesia, Josias Simon, menilai meningkatnya kekhawatiran masyarakat tidak bisa dilepaskan dari tiga faktor utama, yakni pelaku, korban, dan kondisi lingkungan.
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi dan situasi sosial sering kali menjadi pemicu seseorang melakukan kejahatan jalanan.
Baca juga: Viral Pemotor Cekcok dengan Petugas Jalur TJ di Jakbar, Akhirnya Nyerah lalu Putar Balik
“Kalau soal motif pelaku kan dia memang terkait dengan motivasi ya, motif yang melatarbelakangi, ada ekonomi atau sosial pribadi. Kalau korban itu memang terkait dengan keadaan korban yang tidak terlindungi. Kalau tempat, malam hari tidak ada penerangan, atau di daerah gang sempit,” ujar Josias.
Selain itu, ia menyoroti kondisi ruang publik yang dinilai masih memiliki celah keamanan, seperti minimnya penerangan dan pengawasan di sejumlah titik.
Dorongan pemetaan titik rawanJosias juga menilai pentingnya pemetaan wilayah rawan kejahatan yang diperbarui secara berkala agar masyarakat dapat mengantisipasi risiko saat beraktivitas.
Menurutnya, tanpa data yang terbarui, upaya pencegahan akan sulit dilakukan secara efektif.
Baca juga: Awal Mula Pria Tewas Dikeroyok di Biliar Jakbar, Pacar Ditonjok usai Saling Tatap
“Pemetaan (wilayah rawan) itu sebenarnya hal yang mendasar agar masyarakat ini mengetahui titik-titik di mana saja yang rawan. Seharusnya itu ada, tapi masalahnya selama ini ada tetapi tidak di-update dan tidak berkelanjutan,” tuturnya.
Ia juga mendorong penguatan kembali sistem keamanan lingkungan berbasis warga, seperti siskamling, sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan di wilayahnya masing-masing.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




