Nilai tukar rupiah melemah 0,2% ke level 17.742 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Rabu (20/5). Kurs rupiah loyo menjelang pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 di Gedung DPR pagi ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 33 poin di level 17.739 per dolar AS. Rupiah kian melemah ke 17.742 per dolar AS hingga pukul 09.15 WIB.
Rupiah melemah di tengah menguatnya mayoritas mata uang Asia. Baht Thailand dan yuan Cina menguat masing-masing 0,02%, yen Jepang 0,03%, dolar Singapura 0,01%, peso Filipina 0,04%, dan won Korea Selatan 0,02%. Sedangkan ringgit Malaysia dan rupee India memelah masing-masing 0,07% dan 0,18%.
Presiden Pidato Prabowo dijadwalkan berpidato dalam Sidang Paripurna di Gedung DPR pukul 10.00 WIB. Ia akan menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027.
Selain pidato Prabowo, pelaku pasar juga tengah menanti arah kebijakan Bank Indonesia yang akan disampaikan pada siang ini. Bank Indonesia diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan ini di tengah melemahnya kurs rupiah.
Pengamat Pasar Uang Lukman Leong menilai, pelemahan rupiah juga terjadi seiring ketidakpastian mengenai kesepakatan perdamaian Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak mentah, imbal hasil obligasi A, dan indeks dolar AS.
"Investor juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI sore ini yang apabila seperti diharapkan menaikkan suku bunga, akan sedikit banya mendukung rupiah," ujar dia.
Ia memperkirakan, rupiah akan bergerak dalam kisaran 17.650 hingga 17.800 per dolar AS hari ini.
Ekonom Center of Reform on Economics atau CORE, Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan mendatang di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Yusuf menilai probabilitas terbesar saat ini masih mengarah pada keputusan BI untuk menahan BI Rate di level saat ini karena inflasi domestik masih relatif terkendali dan berada dalam kisaran target bank sentral.
“Saya cenderung melihat probabilitas terbesar masih mengarah pada keputusan menahan suku bunga acuan di level saat ini,” ujar Yusuf, Selasa (19/5).
Menurutnya, tekanan inflasi belum menunjukkan eskalasi yang mengganggu ekspektasi harga, ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga tetap terbuka.
Ia menilai kenaikan suku bunga yang terlalu agresif justru berisiko menekan pertumbuhan ekonomi domestik yang saat ini mulai menghadapi tekanan eksternal.
“Kalau suku bunga dinaikkan terlalu agresif, itu berisiko memperlambat penyaluran kredit, investasi, dan konsumsi domestik,” katanya.




