HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Potensi kekayaan laut Indonesia kembali melahirkan inovasi di bidang kesehatan. Seorang dokter spesialis penyakit dalam asal Indonesia, dr. Rudy Kurniawan, Sp.PD, MM, MARS, Dip.SN, DCD, FRSPH, mengembangkan riset berbasis anggur laut (Caulerpa spp.) yang dinilai berpotensi membantu pencegahan dan pengelolaan sindrom metabolik seperti diabetes, obesitas, hingga kolesterol tinggi.
Penelitian tersebut mengantarkan Rudy meraih gelar doktor dalam Sidang Promosi Terbuka Program Doktor di Universitas Hasanuddin, Selasa (19/5/2026).
Dalam disertasinya yang berjudul “Efek Suplementasi Ekstrak Karotenoid dan Peptida Anggur Laut terhadap Parameter Metabolik pada Model Diet Tinggi Lemak dan Kolesterol”, Rudy meneliti potensi pangan lokal Indonesia sebagai alternatif pendekatan preventive medicine yang lebih terjangkau dan dekat dengan masyarakat.
“Sebagai dokter, saya melihat langsung tantangan pasien dalam mengelola penyakit metabolik. Melalui riset ini, saya ingin menghadirkan alternatif yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat, berbasis pangan fungsional dari potensi lokal Indonesia,” ujar Rudy.
Disertasi tersebut dibimbing oleh Prof. Dr. dr. Nurpudji Astuti Daud, MPH, Sp.GK(K), dan Prof. Dr. dr. Andi Makbul Aman, SpPD-KEMD, FINASIM.
Rudy menyelesaikan pendidikan doktoralnya hanya dalam lima semester dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00 dan predikat cum laude.
Potensi Anggur Laut untuk Sindrom MetabolikDalam penelitiannya, Rudy mengeksplorasi kandungan karotenoid dan peptida bioaktif pada anggur laut serta pengaruhnya terhadap mikrobiota usus.
Hasil pengujian pada model hewan dengan diet tinggi lemak dan kolesterol menunjukkan ekstrak anggur laut memiliki sejumlah potensi manfaat, antara lain meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan kadar gula darah, mengurangi inflamasi, meningkatkan sensitivitas insulin, serta menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
Tak hanya itu, Rudy juga berhasil mengidentifikasi peptida bioaktif baru dari anggur laut bernama FDGIP/PuRuLine yang dinilai memiliki potensi mendukung kesehatan metabolik.
Temuan tersebut telah terdaftar dalam basis data molekuler internasional PubChem dan memperoleh sertifikasi paten di Indonesia.
Pencapaian itu dinilai menjadi langkah penting dalam pengembangan inovasi berbasis sumber daya laut Indonesia menuju aplikasi nyata di bidang nutraseutikal.
Dorong Pemanfaatan Kekayaan Laut IndonesiaRiset tersebut sekaligus memperkuat potensi pemanfaatan biodiversitas laut Indonesia sebagai bagian dari solusi kesehatan berbasis sains.
Sebagai negara maritim dengan kekayaan hayati laut yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan pangan fungsional dan produk kesehatan berbasis bahan alami lokal.
“Bagi saya, riset ini menjadi bentuk harapan bahwa ke depannya Indonesia dapat menghadirkan solusi kesehatan yang lebih dekat dan relevan, berasal dari kekayaan negeri sendiri,” tutup Rudy.





