Ringkasan Berita:
- Gereja Merah Probolinggo mulai dikembangkan menjadi destinasi heritage unggulan sekaligus pusat wisata religi.
- Pemkot Probolinggo menyiapkan kawasan kantin terbuka, pusat oleh-oleh, dan area UMKM di sekitar gereja.
- Bangunan cagar budaya yang berdiri sejak 1862 itu selama ini masih menghadapi tingginya biaya perawatan.
- Pengembangan wisata heritage diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dan memperkuat daya tarik wisata Kota Probolinggo.
Probolinggo (beritajatim.com) – Gereja Merah, bangunan cagar budaya legendaris di Kota Probolinggo, bersiap naik kelas menjadi destinasi heritage unggulan sekaligus pusat wisata religi dan penggerak ekonomi UMKM masyarakat.
Rencana pengembangan itu mengemuka saat Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani mengunjungi Gereja Merah di Jalan Suroyo Nomor 32, Rabu (20/5/2026).
Dalam pertemuan bersama pengurus gereja dan jajaran Pemerintah Kota Probolinggo, dibahas strategi penguatan kawasan wisata sejarah agar tidak hanya menjadi ikon heritage, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan.
Gereja Merah yang berdiri sejak 1862 tersebut selama ini masih menghadapi tantangan besar dalam pembiayaan perawatan bangunan. Seluruh kebutuhan operasional dan pemeliharaan sebagian besar masih mengandalkan swadaya jemaat.
Padahal, bangunan peninggalan kolonial dengan konstruksi knockdown asal Jerman itu telah lama menjadi salah satu ikon wisata sejarah Kota Probolinggo dan masih aktif digunakan oleh sekitar 88 kepala keluarga jemaat.
Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani mengatakan potensi wisata sejarah dan religi Gereja Merah harus dikembangkan lebih serius agar menjadi magnet wisata baru di Kota Probolinggo.
Salah satu konsep yang disiapkan ialah pembangunan area kantin terbuka, pusat oleh-oleh, dan gerai UMKM di sisi utara gereja. Kawasan tersebut nantinya akan diintegrasikan dengan aktivitas wisata serta agenda publik seperti Car Free Day.
“Ini bisa menjadi peningkatan ekonomi rumah ibadah sekaligus memperkuat daya tarik wisata religi di Kota Probolinggo,” ujar Evariani.
Pengelola gereja menyebut kawasan UMKM dirancang dengan konsep terbuka tanpa sekat agar pengunjung lebih nyaman menikmati suasana wisata heritage sambil berinteraksi dengan pelaku usaha lokal.
Selain kuliner, kawasan itu juga diproyeksikan menjadi etalase produk kreatif dan suvenir khas Kota Probolinggo.
Pendeta Wiwik Kristiani Kembuan menjelaskan pengembangan kawasan UMKM menjadi langkah strategis untuk menopang kebutuhan operasional dan biaya perawatan bangunan cagar budaya yang terus meningkat setiap tahun.
“Area kantin yang sedang dibangun nantinya akan menyediakan ruang khusus untuk produk UMKM dan pusat oleh-oleh,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dispopar Kota Probolinggo M. Abas menegaskan pemerintah harus hadir mendukung pengelolaan wisata heritage secara konkret, bukan hanya menjadikannya sebagai materi promosi wisata.
“Pemerintah harus hadir, tidak hanya sekadar membranding tempat wisata, tetapi juga memberikan dukungan terhadap dinamika pengelolaannya,” kata Abas.
Menurutnya, hasil diskusi dengan pengurus gereja menunjukkan masih banyak tantangan yang dihadapi pengelola, mulai dari pembiayaan hingga pengembangan fasilitas penunjang wisata religi.
Karena itu, Pemkot Probolinggo berkomitmen menyiapkan langkah strategis agar Gereja Merah berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan religi unggulan di Jawa Timur sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. [rap/beq]
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F05%2F19%2F717a24c52867ea2fb804415c7f02874f-1000665090.jpg)



