JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden RI Prabowo Subianto mengaku terpukul karena jumlah penduduk miskin di Indonesia terus bertambah ketika pertumbuhan ekonomi mencapai 5 persen dalam tujuh tahun terakhir.
Prabowo mengatakan, berbekal data tersebut, ekonomi Indonesia harusnya tumbuh 35 persen, tetapi ia heran mengapa jumlah penduduk miskin justru bertambah.
"Harusnya kita tambah kaya 35 persen. Tapi apa yang terjadi? Sekali lagi, saya mengajak kita jujur kepada diri kita sendiri dan rakyat kita, ini mungkin menyakitkan bagi kita," ujar Prabowo di rapat paripurna DPR, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Baca juga: Prabowo: Rakyat Indonesia Tak Bermimpi Kaya Raya, tetapi Hidup Layak
"Saya merasa setelah saya terima data-data ini, berapa minggu setelah saya jadi Presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya," kata dia.
Prabowo menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat dari 46,1 persen pada 2017 menjadi 49,5 persen pada 2024.
Sementara, jumlah penduduk kelas menengah juga turun dari 22,1 persen menjadi 17,4 persen dalam kurun waktu yang sama.
Maka dari itu, Prabowo bertanya kepada seluruh anggota DPR, partai, ormas, pakar, dan guru besar, bagaimana bisa perekonomian RI tumbuh 35 persen, tapi kelas menengah malah turun jadi kelas miskin.
Baca juga: Prabowo: Tiap Malam Puluhan Kapal Asing Ambil Kekayaan Kita Secara Ilegal
"Jawaban harus ilmiah, matematis. Dan menurut saya jawabannya adalah kemungkinan besar, bukan kemungkinan, saya yakin sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trajectory yang tidak tepat," imbuh Prabowo.
Sebelumnya, Prabowo juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia harus tecermin pada meningkatnya kesejahteraan rakyat secara nyata.
Ia ingin ketimpangan antara masyarakat yang kaya dan miskin tidak boleh semakin lebar.
"Jarak yang terkaya dan yang termiskin tidak boleh semakin lebar bahkan harus kita perjuangkan untuk terus menyempit," kata Prabowo dalam pidatonya.
Baca juga: Prabowo: Jarak yang Terkaya dan Termiskin Tak Boleh Semakin Lebar
Untuk itu, ia menargetkan agar rasio gini Indonesia berada di angka 0,362 hingga 0,367 pada 2027, membaik dari target sebelumnya yakni 0377 hingga 0,3890
Kepala Negara menargetkan agar angka kemiskinan dan pengangguran terbuka turun.
"Karena itu angka kemiskinan ditargetkan turun ke rentang 6,0 hingga 6,5 persen dari target sebelumnya 6,5 hingga 7,5," ucap dia.
Sementara itu, ia juga menargetkan tingkat pengangguran terbuka harus turun pada rentang 4,30 hingga 4,87 persen dari target sebelumnya 4,44 hingga 4,96 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




