JAKARTA, KOMPAS– Kebiasaan saat berbicara dapat menunjukkan kondisi kesehatan otak seseorang. Itu termasuk kebiasaan terlalu banyak mengatakan “um”, “uh” atau memberikan jeda saat berbicara karena kebingungan mencari kata-kata. Peneliti mengungkapkan kebiasaan tersebut terkait dengan risiko demensia.
Riset terbaru dari Baucreast, University of Toronto, dan York University menunjukkan cara orang berbicara dalam percakapan sehari-hari dapat mengungkapkan kondisi kesehatan otak seseorang. Kebiasaan seperti terlalu sering mengucapkan “um” atau memberikan jeda panjang ternyata dapat menjadi petunjuk tanda awal penurunan fungsi otak.
Peneliti senior dari Rotman Research Institute Baycrest, Jed Meltzer dikutip dari laman Science Daily yang diakses pada Rabu (20/5/2026) mengatakan, pola waktu berbicara menjadi indikator yang menunjukkan kondisi otak manusia. Selama ini, banyak orang menganggap jeda atau kata pengisi dalam pembicaraan hanya gaya bahasa bicara.
“ Pesan (dari riset) ini jelas bahwa ritme berbicara bukan sekadar persoalan gaya, melainkan menjadi indikator sensitif mengenai kesehatan otak seseorang,” kata Meltzer yang juga merupakan penulis senior studi berjudul "Natural Speech Analysis Can Reveal Individual Differences in Executive Function Across the Adult Lifespan” tersebut.
Temuan ini menguatkan studi sebelumnya yang dipublikasi dalam jurnal Speech, Language, and Hearing Reasearch berjudul “Natural Speech Analysis Can Reveal Individual Differences in Executive Function Across the Adult Lifespan”. Hasil studi yang terbit pada 10 Desember 2025 itu mengungkapkan orang lanjut usia yang punya kebiasaan berbicara cepat cenderung memiliki kemampuan berpikir lebih baik dalam jangka panjang.
Selama ini, banyak orang menganggap jeda atau kata pengisi dalam pembicaraan hanya gaya bahasa bicara.
Hal itu kemudian dikaitkan dengan risiko demensia pada lansia. Demensia merupakan kondisi ketika terjadi penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan fungsi dalam sehari-hari. Gangguan ini biasanya berkembang secara perlahan dan sulit dikenali pada tahap awal.
Menurut peneliti, fungsi otak secara alami akan menurun seiring bertambahnya usia. Namun, pada penderita demensia, penurunan tersebut terjadi lebih cepat dan lebih berat. Lewat riset ini, tanda awal tersebut dapat tercermin dari cara seseorang berbicara. Hal ini diharapkan membantu upaya deteksi lebih dini.
Selama ini pemeriksaan kognitif yang konvensional membutuhkan waktu lama dan tidak mudah dilakukan. Pemeriksaan perlu dilakukan berulang kali untuk menemukan hasil akurat. Pemeriksaan berulang juga membuat pasien terbiasa dengan soal yang diberikan sehingga pemantauan jangka panjang lebih sulit dilakukan.
Sebaliknya, percakapan sehari-hari dinilai lebih alami dan mudah dipantau secara berkala. Pemantauan kesehatan otak bisa dilakukan tanpa harus mengganggu aktivitas harian seseorang. Adanya teknologi kecerdasan artifisial (AI) juga membantu proses analisis jadi lebih cepat.
Dalam penelitian ini, para peserta yang diuji diperlihatkan gambar-gambar detail dan diminta untuk mendeskripsikan gambar tersebut dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka juga menyelesaikan tes-tes yang telah dirancang untuk mengukur fungsi eksekutif.
Para peneliti kemudian menggunakan kecerdasan artifisial untuk memeriksa rekaman suara para peserta secara mendalam. Sistem kecerdasan artifisial dapat mendeteksi ratusan fitur suasa yang halus, termasuk panjang dan frekuensi jeda yang disampaikan.
Penanda-penanda tersebut secara konsisten dapat memprediksi seberapa baik kemampuan peserta dalam tes kognitif. Analisis tersebut juga dilakukan dengan mempertimbangkan faktor lainnya, seperti usia, jenis kelamin, dan pendidikan.
Meltzer menyebutkan hasil riset menunjukkan percakapan bisa memberi pemahaman baru mengenai kecepatan seseorang dalam memproses kata-kata dan menjalankan fungsi kognitif dengan baik. Upaya ini dinilai lebih efektif karena tidak perlu batasan waktu yang ketat seperti yang selama ini dilakukan dalam penilaian fungsi kognitif konvensional.
“Penelitian ini membuka peluang besar untuk mengembangkan alat yang dapat membantu memantau perubahan kognitif di klinik bahkan di rumah. Deteksi dini sangat penting bagi pengobatan maupun intervensi apa pun karena demensia berakibat pada kerusakan otak progresif,” tuturnya.
Dalam studi lainnya, sejumlah peneliti berhasil mengungkap kebiasaan mengonsumsi kopi menurunkan risiko demensia. Studi yang dipublikasi dalam Jama Network pada 9 Februari 2026 itu menemukan kebiasaan minuman kopi dua atau tiga cangkir per hari menurunkan risiko demensia, terutama sebelum usia 75 tahun.
Para peneliti mengatakan, kafein pada kopi dapat menjaga sel-sel otak tetap aktif sekaligus mengurangi peradangan dan penumpukan plak berbahaya yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Namun konsumsi kopi juga harus dibatasi. Konsumsi kopi terlalu banyak dapat membuat efek perlindungan pada otak menjadi menurun.
Dalam studi yang ditulis Yu Zhang dan peneliti lain tersebut terungkap kafein bekerja dengan memblokir adenosin yakni zat kimia yang mengurangi aktivitas pembawa pesan otak seperti dopamin dan asetilkolin. Zat itu bisa jadi kurang aktif seiring bertambahnya usia yang dapat menyebabkan Alzheimer. Kafein bisa melawan penurunan fungsi itu.”





